GERAKAN KEADILAN GLOBAL DAN FORUM SOSIAL ASIA
Oleh : Praful Bidwai*

14 Januari 2003
Editorial ini diterbitkan di The Hindustan Times, 10 Januari 2003

Forum Sosial Asia (ASF) yang diselenggarakan Januari 2003 lalu menjadi saksi peristiwa unik bertemunya gerakan sosial akar-rumput, organisasi masyarakat dan LSM-LSM radikal yang mempertanyakan persoalan globalisasi, kesetaraan, hak asasi manusia dan keadilan.

Bahkan bagi Hyderabad, kota yang memang sudah dipenuhi ketimpangan (menurut Nizamshahi atau teknologi informasi versus kemelaratan atau pekerja anak-anak), di satu sisi, suatu pertemuan puncak 'kerja sama global' dari Industri India berlangsung di hotel bintang lima; dan di sisi lain, Forum Sosial Asia, yang dihadiri 15.000 aktivis dari seluruh benua merayakan semangat solidaritas cukup di halaman Nizam College.
Event pertama didominasi oleh sekelompok raja-raja bisnis berjas dan dasi, pejabat-pejabat asing dan menteri-menteri India, L.K Advani dan para bawahannya. Event kedua adalah "huru-hara" yang penuh warna : para juru kampanye (jurkam) akar-rumput tentang isu-isu mata pencaharian dan hak asasi manusia, aktivis lingkungan dan kaum feminis, serikat buruh perdagangan dan petani, gerakan sains rakyat dan aktivis pelayanan kesehatan, jurkam-jurkam penganjur perdamaian dan anti-displacement, penulis dan ilmuwan sosial, teater rakyat radikal dan pekerja film.

Kelompok pertama berasal dari perusahaan-perusahaan terkemuka di India dan negara-negara Barat, pemilik merek-merek terkenal dan penangguk untung besar; sedangkan kelompok kedua berasal dari kawasan Barat Daya, Asia dan Afghanistan, Palestina dan Pakistan, Sri Lanka dan Asia Tenggara, di samping India. Kelompok ini terdiri atas orang-orang yang menentang pendudukan dan penempatan pangkalan militer asing, memperjuangkan pembebasan dari utang luar negeri, hak mendapatkan pangan dan kebebasan berbicara, dan keamanan umat manusia.

Ketika sekitar 400 relawan dari kelompok kedua menyerbu lokasi kelompok pertama untuk sebuah aksi damai, mereka ditahan oleh polisi India yang sangat paham bisnis dan teknologi informasi.

Acara ASF diawali dengan sidang umum untuk mendengarkan pidato dari aktivis berpengaruh, Meda Patkar, dan diakhiri dengan dipilihnya seseorang ketua menggantikan mantan ketua K.R. Narayanan. Dalam event itu berlangsung delapan konferensi besar, 160 seminar, 164 workshop, pertunjukan budaya - dan tak terhitung lagi prosesi, demonstrasi dan pameran. Hal ini menghasilkan rentang dan karakter koalisi ASF penuh warna luar biasa.

Kesamaan tema yang bergulir di semua kegiatan itu adalah demokrasi akar-rumput, perlawanan terhadap ketidakadilan, pentingnya kesetaraan, keadilan global, emansipasi masyarakat dan pembangunan berorientasi rakyat (bukan profit). Pendeknya, pesannya adalah: gerakan antiglobalisasi sudah ada di sini, dan itu nyata!

ASF adalah bagian dari gerakan keadilan global (Global Justice Movements) yang bermula di Seattle pada tahun 1999, dan mengekspresikan diri secara terorganisasi melalui pertemuan World Social Forum di Porto Alegre, Brazil, dengan slogan "Dunia yang Lain itu Dimungkinkan atau Another World is Possible!"

Gerakan Keadilan Global adalah salah satu mobilisasi massa paling spektakuler di masa kini. WSF adalah suatu forum yang sangat kuat yang menginteraksikan antara para aktivis sosial dan para cerdik pandai bidang pembangunan liberal. Gerakan tersebut telah menggoyang para pemimpin tingkat dunia dan lembaga-lembaga manajemennya (Bank Dunia, IMF, G-8, OECD, dan lain-lain).

Tetapi akar ASF sendiri terletak di bumi Asia, dalam berbagai gerakan yang telah tumbuh lebih dari seperempat abad, bertahan dengan penuh martabat, berjuang untuk kedamaian, kesetaraan gender, desentralisasi, demokrasi langsung, hak-hak Dalit, pembangunan yang ramah lingkungan, dan liberasi sosial. Gerakan-gerakan ini telah mempengaruhi kalangan-kalangan dari Korea Selatan hingga Nepal, dari Teluk Persia hingga Selat Melaka dan kebijakan pembangunan dari Jepang hingga Filipina.

India menempati posisi khusus di situ. Seperti yang akan dikatakan sejarawan besar E.P. Thompson, India telah menjadi saksi membanjirnya gerakan-gerakan rakyat dan inisiatif masyarakat madani seperti yang juga dialami di negera-negara lain. India juga menjadi tempat khusus bagi interaksi dua arah antara dua aliran besar, antara gerakan-gerakan populis dan kaum cerdik pandai yang radikal.

Meskipun demikian, ada ketimpangan jumlah orang-orang India di event Asia ini: hanya 780 dari 14.426 peserta yang terdaftar dari luar negeri. Salah satu alasannya adalah penguasa di New Delhi bersikeras menolak memberikan visa bagi ratusan orang delegasi. Contoh terburuknya adalah dicoretnya dengan sengaja secara sistematis oleh Deputi Perdana Menteri Advani sendiri nama-nama aktivis terkemuka dari Pakistan dari daftar orang yang diberi izin, termasuk Asma Jehangir, Pervez Hoodbhoy, I.A. Rahman dan A.H. Nayyar. Ironiknya, mereka itu sebenarnya adalah dari kelompok yang paling kukuh dan paling terkenal menentang kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan para petinggi Pakistan di Islamabad - suatu hal yang pasti tidak akan dilewatkan oleh para petinggi New Delhi sendiri!

Kritik terkuat terhadap ASF adalah bahwa program-programnya terlalu India (atau India-Pakistan) sentris. Kritik lainnya, workshop-workshop yang dilakukan dalam ASF terlalu berjauhan letaknya (memangnya di kota mana di India yang bisa menampung 15.000 orang dalam konferensi yang berbeda-beda yang tempatnya bisa saling berdekatan?) sehingga tidak ada rasa kedekatan dan tidak ada pusat daya tarik. Meskipun demikian, ASF adalah suatu proses belajar yang sangat berharga.

Sulit untuk menarik kesimpulan dari kekayaan keragaman berbagai hal yang dibahas - merentang dari berbagi pengalaman dalam perjuangan yang berbeda-beda melawan ekonomi neo-liberal dan privatisasi sumber daya alam, dan untuk perjuangan mempertahankan mata pencaharian, untuk menyusun suatu perspektif-perspektif dan program-program alternatif.

Dengan cukup unik ASF menawarkan empat platform: interaksi skala besar yang pertama kali terjadi antara organisasi massa India yang telah mapan dengan Gerakan Sosial Baru, dialog di antara mereka dan gerakan-gerakan dari negara-negara Asia lainnya, suatu forum untuk mengubah analisis dan strategi umum, dan perpaduan budaya berenergi tinggi yang diwujudkan dalam bentuk pertunjukan besar-besaran, festival satu minggu untuk merayakan perkara-perkara besar dari zaman kita.

ASF adalah tonggak peristiwa, suatu permulaan yang menyegarkan. Untuk itu diperlukan tindak lanjut -baik untuk diseminasi tentang gagasan-gagasan dasarnya ke tingkat akar-rumput, dan replikasi di mana-mana, bahkan ketika proses Porto Alegre tetap mempertahankan integritas dan identitas khasnya. Salah satu pertanda dari suatu gerakan sosial besar adalah ragam pesan dan daya tarik yang terkandung di dalamnya, dan banyaknya bentuk-bentuk organisasi yang bisa diterima. Berangkat dari kriteria tersebut, gerakan menentang globalisasi yang tidak setara, dan untuk sebuah dunia yang adil, menjadi punya masa depan - tak hanya di Asia.

Praful Bidwai adalah wartawan kawakan India, komentator dan penganjur anti-nuklir.