| Venezuela
yang Dibelah |
| Oleh: Mark Weisbrot |
|
12 Januari 2003 Tatkala menjelajahi Caracas akhir bulan lalu (Desember 2002), saat maraknya demonstrasi di Venezuela, saya terkejut dengan apa yang saya lihat. Harapan saya telah dibentuk oleh liputan terus menerus tentang demonstrasi kaum oposisi yang menuntut mundurnya Presiden Hugo Chavez. Tapi di banyak kota kota, di mana tinggal kaum miskin dan kelas pekerja, sedikit sekali ada tanda tanda pemogokan. Jalan jalan tetap dipadati pelancong yang berbelanja, kereta metro dan bis berjalan normal, dan toko toko tetap membuka bisnisnya. Hanya di daerah Timur, di wilayah kaum kaya di ibukota, banyak bisnis tutup. Jelas ini adalah mogok perminyakan, bukan pemogokan umum seperti sering diberitakan. Pada perusahaan minyak milik negara (PDVSA), yang mengendalikan industri, manajemen memimpin pemogokan karena tidak sejalan dengan pemerintah Chavez. Venezuela mengandalkan 80 persen dari ekspornya dari minyak dan separuh dari anggaran pendapatan nasionalnya, tapi pekerja industri minyak hanya mewakili sebagian kecil dari kaum buruh. Di luar industri minyak, sulit menemukan kaum buruh yang mogok. Sebagian pekerja dihalangi masuk kerja karena para pemilik bisnis besar asing seperti Mc Donald dan Fed Ex menutup kegiatan mereka untuk mendukung oposisi. Kebanyakan orang AS beranggapan bahwa pemerintahan Chavez adalah diktator, dan termasuk pemerintah paling represif di Amerika Selatan, tapi anggapan ini keliru. Pemerintahan Chavez dipilih secara demokratis, dan mungkin bukan yang paling represif di Amerika Selatan. Saat pasukan angkatan darat digelar untuk melindungi Miraflores (kompleks kepresidenan), sangat sedikit kehadiran militer atau polisi di kota, ini agak mencengangkan mengingat situasi politik yang begitu tegang dan rawan. Agaknya orang orang tidak takut kepada pemerintah, dan sekalipun terjadi upaya yang begitu kuat untuk menggulingkannya, belum ada yang ditangkap karena kegiatan politik. Sekalipun pemogokan telah menimbulkan dampak berarti pada ekonomi negara, tapi Chavez agak enggan menggunakan kekuatan negara untuk mematahkan pemogokan. Di AS, pemogokan yang mengakibatkan kerusakan masif pada ekonomi negara, atau di mana buruh sektor publik atau sektor privat melakukan tuntutan politik, dianggap Ilegal. Pelakunya bisa ditembak, pemimpinnya, jika bersikukuh dengan pemogokan nya bisa ditangkap - dan ditahan atas keputusan pengadilan. Di Venezuela, isu ini diputuskan oleh Makhamah Agung. MA telah memerintahkan pekerja PDVSA untuk kembali bekerja, diputuskan legalitas pemogokan ini. Bagi siapapun yang pernah datang ke Venezuela, tuduhan oposisi bahwa Chaves telah mengubah Venezuela menjadi kediktatoran komunis model Castro - tuduhan yang bergaung di Amerika yang percaya hal ini -- merupakan tuduhan yang absurd. Jika ada label kediktatoran di Venezuela akhir akhir ini, tentu ini dari kaum oposisi, yang pada 12 April melakukan kudeta militer terhadap pemerintahan terpilih. Mereka memilih ketua federasi bisnis sebagai presiden, membubarkan legislatif dan mahkamah agung, sampai protes masa dan petinggi militer membalikkan kudeta ini dua hari kemudian. Para perwira militer bertahan di Altamira Plaza dan menyerukan kudeta lagi. Sulit membayangkan negara lain di mana hal seperti ini bisa terjadi. Upaya pemerintah untuk menindak pemimpin kudeta dibatalkan ketika pengadilan menolak gugatan pada bulan Agustus. Di atas kemarahan para pendukungnya, sebagian yang kehilangan kerabatnya tahun lalu saat kudeta dua hari, Chavez menghormati keputusan pengadilan. Kaum oposisi menguasai media swasta, sehingga menonton TV di Caracas adalah benar benar pengalaman Orwellian. 5 TV swasta (ada 1 milik pemerintah) yang siarannya mencakup kebanyakan penduduk Venezuela, terus menerus menayangkan propaganda anti Chavez. Buruknya TV ini tanpa malu malu meliput dengan cara tidak jujur. Contohnya pada tanggal 6 Desember, seorang penembak gelap yang kalap, menembaki kerumunan oposisi, menewaskan 3 orang dan melukai puluhan lainnya. Sekalipun tak ada bukti yang menghubungkan peristiwa penembakan dengan pemerintah, para pembuat berita - bersenjatakan rekaman tubuh tubuh berdarah dan kedukaan para kerabat korban - langsung bekerja untuk meyakinkan masyarakat bahwa Chavez bertanggung jawab di balik peristiwa ini. Setelah peristiwa penembakan, mereka menyiarkan rekaman video kabur bahwa sang penembak gelap menghadiri rally mendukung Chavez. Sekarang dengarlah bagaimana masyarakat di Barrios (pemukiman kaum miskin) Caracas, melihat kaum oposisi, suatu pandangan yang tak pernah terdengar di AS: kaum oposisi dipimpin oleh wakil wakil orde lama yang korup, oposisi mencoba menggulingkan pemerintah yang telah memenangkan 3 pemilu, dan dua referendum sejak tahun 1998. Kudetanya gagal sebagian karena ratusan ribu orang mempertaruhkan nyawa turun ke jalan membela demokrasi. Sekarang Oposisi berusaha menjegal ekonomi dengan cara pemogokan sektor minyak. Kaum kelas atas agaknya berusaha meraih kemenangan melalui sabotase ekonomi setelah mereka gagal meraihnya lewat kotak suara karena persaingan intens di antara berbegai kelompok dan pemimpin oposisi. Dari sisi lain belah kelas ini, konflik ini dipandang juga sebagai pertarungan atas siapa yang akan menguasai dan mendapat keuntungan dari kekayaan minyak negeri ini. Selama seperempat abad terakhir, PDVSA telah membengkak menjadi perusahaan yang berpendapatan 50 milyar dollar AS pertahun, sedangkan pendapatan rata rata penduduk Venezuela terus menurun dan kemiskinan meluas lebih dari negara negara Amerika Latin lainnya. Sebenarnya milyaran dollar AS dari keuntungan perusahaan minyak ini digunakan demi membiayai pendidikan dan kesehatan bagi jutaan penduduk Venezuela. Bagaimana peran Washington? Amerika Serikat, sendirian di Amerika Latin, mendukung kudeta ini, dan sebelumnya telah meningkatkan dukungan finansial kepada para oposisi. Washington sejalan dengan tujuan para eksekutif PDVSA dalam meningkatkan produksi minyak, menghantam quota OPEC dan bahkan menjual perusahaan kepada pemodal swasta asing. Dengan demikian tak mengherankan bahwa seluruh konflik dilihat oleh kebanyakan orang Venezuela sebagai satu lagi kasus AS mencoba menggulingkan pemerintah yang independen dan dipilih secara demokratis. Sudut pandang Barrios ini masuk akal. Pengkutuban masyarakat Venezuela di garis kelas dan rasial nampak jelas dalam peristiwa peristiwa unjuk rasa. Rally pro pemerintah dipenuhi oleh kaum miskin dan kaum buruh yang lebih gelap warna kulitnya, keturunan dari masyarakat pribumi dan budak Afrika - sedangkan kaum oposisi kebanyakan berasal dari kelas atas yang lebih parlente dan berkulit terang. Pendukung oposisi yang saya temui menolak perbedaan ini dan menyatakan bahwa pendukung Chavez kurang tidak tahu dan di manipulasi oleh demagog. Bagi kebanyakan orang, Chaves adalah harapan terbaik atau bahkan harapan terakhir tak hanya bagi perbaikan sosial ekonomi, tapi juga untuk demokrasi. Pada unjuk rasa pro pemerintah, orang orang membawa buku saku konstitusi Venezuela tahun 1999, yang dijual para pengasong. Para pemimpin LSM yang membantu draftnya, punya alasan yang berbeda beda mengapa merujuk konstitusi ini: kelompok perempuan misalnya karena pasal pasal anti diskriminasinya, kaum masyarakat adat, ini konstitusi pertama yang mengakui hak mereka. Tapi mereka semua melihat diri mereka membela demokrasi konstitusional dan kemerdekaan sipil dari apa yang mereka jabarkan sebagai ancaman fasisme kaum oposisi. Ancaman ini sungguh nyata. Kaum oposisi tidak berapologi tantang kudeta bulan April, juga tentang penahanan dan pembunuhan kaum sipil selama pemerintahan ilegal 2 hari mereka, Mereka tetap tegak dan muncul di TV menyerukan kudeta lain lagi - yang kalau menilik kedalaman dukungan terhadap Chavez, kalau dipaksakan akan harus jadi kudeta berdarah kalau ingin berhasil. Di mana posisi pemerintah AS dalam demokrasi di Venezuela? Pemerintah Bush bergabung dengan kaum oposisi dengan memanfaatkan peristiwa penembakan 6 Desember sebagai alasan untuk mempercepat pemilu, ini akan melanggar konstitusi Venezuela. Pekan berikutnya pemerintah Bush membalik posisinya, lip-service kepada team negosiasi AS, pemerintah Bush tidak melakukan upaya apapun dalam mendorong sekutunya untuk paling tidak mencari solusi yang konstitusional atau lebih damai. Enam belas anggota kongres bulan lalu mengirim surat kepada Bush, mendesak Bush untuk menyatakan secara tegas bahwa AS tak akan membangun hubungan diplomatik normal dengan pemerintahan yang diatur oleh kudeta di Venezuela. Tetapi di balik pemikiran tentang pasokan minyak dari Venezuela menjelang peneyerbuan ke Irak, pemerintah Bush belum siap untuk memberikan pilihan perubahan rejim di Caracas, dengan demikian kaum oposisi juga belum siap. · Mark Weisbrot adalah co-direktur pada Center for Economic and
Policy Research, sebuah lembaga think-tank non partisan, independent berpusat
di Washington weisbrot@cepr.net
|