Dari Florence dan Hyderabad Ke Porto Alegre, Setahun World Social Forum
Oleh : Walden Bello

Artikel ini ditulis untuk Interpress Service (IPS) pada tanggal 14 januari 2003, Hak cipta ada pada IPS, ijin khusus reproduksi diberikan kepada Focus on Trade.

Pada Januari 2003 lalu, ribuan orang dari berbagai negara berkumpul di Porto Alegre Brazil. Mereka yang antara lain terdiri atas para petani Afrika yang tak punya tanah, aktifis serikat buruh Filipina, pejuang pembebasan Palestina, masyarakat adat dari seluruh Amerika Latin, dan aktivis masyarakat sipil dari India, Amerika Utara dan Eropa berkumpul untuk satu perhelatan, World Social Forum (WSF).

Pertemuan ini adalah yang ketiga kalinya. Diselenggarakan di kota berpenduduk 1.3 juta jiwa, kota yang bermakna khusus, karena di sini lah Luis Inacio da Silva, alias Lula, memenangkan pemilihan presiden Brazil. Lula adalah penggerak utama, Partai Pekerja (PT), salah satu organisasi kiblat WSF.

WSF atau proses Porto Alegre, telah menjadi ungkapan organisasional utama dari maraknya gerakan anti globalisasi. Sejak peristiwa 11 september 2001, perhelatan ini juga menunjukkan sentimen anti perang yang kuat, serta perlawanan terhadap rencana Bush untuk menyerbu Irak.

Fenomena Porto Alegre juga menuai kritik, bahkan dari kalangan kaum progresif. Salah seorang intelektual Amerika Serikat, menganggap bahwa Porto Alegre adalah kumpulan orang orang yang ingin me"reformasi" Globalisasi. Ada juga yang menuduh bahwa Porto Alegre adalah forum yang secara intelektual dan politis didominasi oleh gerakan politik dan sosial Amerika.

FUNGSI WSF

Kritik kritik ini tidak mengganggu WSF dalam menarik dukungan global. Tahun ini sekitar 100 ribu peserta bergabung, 75 ribu pada 2002 dan 15 ribu orang pada tahun 2001. Mungkin itu sebabnya WSF disebut-sebut dapat mengisi tiga fungsi utama untuk gerakan anti globalisasi yaitu:

Pertama, WSF menyediakan suatu ruang, baik ruang fisik maupun temporal, bagi berragam gerakan untuk bertemu, berjaringan, dan bahkan sederhananya untuk merasakan diri dan meneguhkan keberadaannya.

Kedua, WSF berfungsi sebagai ruang retreat, di mana berbagai gerakan ini mengumpulkan kembali energinya, dan memetakan arah dari daya berkesinambungan untuk mengkonfrontasi, dan membalik proses serta institusi dan struktur struktur kapitalisme global.

Ketiga, Porto Alegre menyediakan ruang dan tempat bagi berbagai gerakan untuk mengelaborasi, mendiskusikan dan memperdebatkan visi, nilai nilai, dan institusi untuk alternatif tata dunia.

Prelude: ESF dan ASF.

Tahun 2002 ditandai dengan pendalaman dan pelebaran WSF. Berbagai kota antara lain Buenos Aires dan Caracas telah menyelenggarakan forum forum bergaya Porto Alegere. Forum Sosial regional lah yang sebenarnya merupakan inovasi yang mengasikkan untuk tahun ini. ESF (European Social Forum) diselenggarakan di Florence, Italia, pada tanggal 6-9 November 2002, dihadiri oleh 40 ribu orang, lebih dari 3 kali lipat dari yang diperkirakan. Lebih menakjubkan lagi adalah bahwa ESF telah mensponsori long march 1 juta orang pada tanggal 9 November, menentang rencana penyerbuan AS ke Irak, kejadian ini berlangsung tanpa ada kekerasan massal, seperti dikhawatirkan beberapa pihak misalnya oleh jurnalis Italia terkemuka Oriana Fallaci.

ASF (Asian Social Forum) juga tak kalah menarik. ASF yang diselenggarakan di kota bersejerah Hyderabad India sejak tanggal 2 sampai tanggal 7 januari 2002 dihadiri oleh 14.400 peserta tercatat, baik dari tuan rumah maupun dari 41 negara lain.

Atmosfirnya bertegangan tinggi sejak dari hari pertama perhelatan. Hampir setiap menit, selama marathon pertemuan 5 hari, tetabuhan genderang dan sorakan aksi aksi menggegap gempita di Nizam college, tempat utama pertemuan ini dilaksanakan. Di Nizam College dan 40 lokasi lain di kota tersebut, terserak 18 konferensi dan pertemuan pleno, 178 seminar dan lokakarya, serta berbagai camp dan peristiwa kultural. Topik topik yang dibahas antara lain, adalah resistansi terhadap WTO, hak hak kaum dalit (nir-kasta), ancaman gerakan fundamentalis, pemberdayaan perempuan, kedaulatan pangan, bendungan bendungan besar, perjuangan kaum Palestina, pencurian sumberdaya alam, dan ekonomi alternatif.

Pertemuan diawali dengan catatan pembuka tentang perjuangan militan melawan militerisme, Nora de Cortinas, pendiri kelompok HAM Argentina Madres de Plaza Mayo, menyerukan pada sidang pleno bahwa "Kita tidak boleh membiarkan AS menggelar perangnya terhadap irak".

Mehda Patkar, pemimpin Aliansi Nasional gerakan rakyat, menggarisbawahi perlawanan terhadap "bisa ular kebencian komunal", mengusulkan pembentukan koalisi masyarakat melawan kekuatan fundamentalis yang didukung negara. Kekuatan fundamentalis semacam ini lah yang diduga bertanggung jawab atas terbunuhnya 2 ribu muslim di negara bagian Gujarat.

Mantan presiden India, K.R. narayanan menyerukan Perlawanan kepada globalisasi pada kampanye jalanan waktu penutupan. "Kami menghendaki dunia yang disatukan, tapi tidak diglobalisasikan di bawah pemerintahan satu negara". "Dunia ini pluralistik dan akan tetap demikian" labih jauh lagi Narayanan menyatakan "ASF telah meneriakkan sesuatu" yaitu "suara hak azasi manusia, melawan kekerasan, dan melawan imperialisme, dan layak saja jika suara ini datang dari bumi India karena India lah yang memukul lonceng kematian bagi suatu imperium yang mataharinya tak pernah terbenam".

Seperti juga dalam kasus ESF, ASF juga mempunyai kekurangan teknis, logistik, seperti sound-system yang macet, lokasi loka-karya yang perlu berjam jam untuk ditemukan. Juga seperti pada ESF, ASF juga mengalami friksi di antara kelompok kelompok yang bersama sama membangunnya. ASF dirajut dalam waktu kurang dari setahun. Aktivis India Minar Pimple berkomentar bahwa ASF adalah suatu koalisi yang "sepertiganya Sosialis Gandhian, sepertiganya partai partai politik kiri, dan sisanya organisasi dan individu independen"

Dengan mempertimbangkan adanya fragmentasi baik di gerakan progresif Asia dan Eropa, maka bahwa akhirnya bisa terkumpul ASF dan ESF, adalah suatu capaian yang luar biasa. Partisipan ASF, Nancy Gaikwad dari Gerakan Masyarakat Tertindas, mengungkapkan, "Ini pertama kali terjadi di India dalam kurun waktu yang sangat sangat panjang, di mana banyak orang dari berbagai aliran politik, dapat bekerja sama dalam landasan bersama".

MENUJU PERSATUAN?

Salah satu alasan Porto Alegre mendapat momentum sebesar itu adalah karena, proses ini menyediakan ruang perhelatan di mana berbagai gerakan dan organisasi dapat menemukan jalan untuk bekerja bersama di atas segala perbedaan mereka. Sementara para kelompok ultra-kiri tetap berposisi di luarnya, proses proses Porto Alegre di Brazil, Eropa, dan India, telah berhasil mengedepankan nilai bersama dan aspirasi dari beragam tradisi dan kecenderungan politik. Proses Porto Alegre boleh jadi adalah ungkapan utama berkumpulnya gerakan gerakan yang selama ini telah lama berkeliaran di rimba fragmentasi dan kompetisi. Dengan kata lain, mungkin pendulum sedang mengayun ke sisi persatuan, didorong oleh kepekaan bahwa dalam menghadapi kenyataan pertarungan terhadap globalisasi korporasi dan militarisasi yang unilateral, gerakan gerakan ini mau tidak mau harus bersatu.

PORTO ALEGRE DAN LULA

Sementara ribuan orang berkumpul di Porto Alegre, pada saat yang sama terjadi perkembangan lain yang cukup penting. Sejak Seattle, gerakan anti globalisasi korporatis telah mencapai masa kritisnya secara global, yaitu dalam kemampuan menggelar kekuatan pada peristiwa penting, seperti pada pertemuan tingkat menteri WTO di Seattle tahun 1999 dan pada pertemuan negara industri maju G8 di Genoa tahun 2001. Hal ini memungkinkan dicapainya dampak internasional dan diperolehnya profil ideologis politis secara global. Akan tetapi menjadi pemain internasional bukan otomatis berarti menjadi pemain signifikan di tingkat nasional, di mana partai dan elit tradisional tetap menjadi panglima. Setahun terakhir ini, gerakan telah mencapai tingkat pengambilan keputusan mayoritas di tingkat nasional di beberapa negara, terutama di Amerika Latin.

Perkawinan berbagai kebijakan neoliberalis ternyata melahirkan kekuatan anti-globalisasi di beberapa negara dan bahkan memperoleh kekuatan suara pemilu. Di Equador dan Brazil, serta pemerintahan Hugo Chavez di Venezuela adalah garda depan perjuangan anti neo-liberalis di tingkat regional. Barangkali kasus yang paling memberi inspirasi adalah Luis Inacio da Silva atau Lula di Brazil, yang memenangkan 63 persen suara untuk pemilihan presiden Oktober 2002. Lula adalah tokoh utama di partai buruh, dan kita semua tahu, bahwa partai buruh adalah pilar utama dari WSF.

Tidak mengherankan, banyak orang yang datang di Porto Allegre mungkin bertanya-tanya dalam benaknya : Dari kemenangan Lula dan partai buruhnya, pelajaran apa yang dapat dipetik tentang kekuasaan di negara negara kita masing masing.

Banyak tokoh internasional agak was was menjelang Porto Alegre. Salah satu tokoh yang paling menarik dan populer adalah Lula. Lula adalah figur simbol personifikasi gerakan kiri baru Amerika Latin. Pertemuan tahun ini dalam berbagai sudut akan menjadi perayaan suatu gerakan yang dengan mencapai tingkat kesatuan politik yang hebat sekalipun berada dalam keragaman, telah mengubah wajah politik Brazil.
*) Walden Bello adalah profesor sosiologi dan administrasi publik di Universitas Filipina, serta Direktur Eksekutif Focus on the Global South yang bermarkas di Bangkok