LULA ADALAH SEBUAH PENYIMPANGAN, OLE-OLE LULA !

Oleh Herbert V Docena

PORTO ALEGRE, BRAZIL- Dengan bergegas memandang sekilas seseorang lelaki yang oleh setiap orang dipanggil Lula; kami menerjang orang-orang yang berdesak-desakan mengerumuni TV : Lula sudah di taman, berpidato di depan ribuan rakyat Brazil. Kami terlambat. Kami berlari menuju taksi dan menutup pintu. "Ke taman, por favor", kami berkata pada sopir dalam bahasa Portugis yang terpatah-patah. Suara Lula bergema di AM Stereo taksi. "Lulalakah itu?", kami bertanya. Sopir itu mengangguk dan mengangkat kedua ibu jarinya.

"Baguskah dia?"sangat bagus!

Sopir taksi itu menekan pedalnya kuat-kuat. Ia membelokkan mobilnya gila-gilaan. Seolah-olah ia ingin melihat Lula dalam sekejap mata seperti kami - sekelompok orang asing yang menghadiri Forum Sosial Dunia. "Sopir itu mau melihat Lula dengan cara sama buruknya seperti kita", seorang teman lain mengoreksi perkataan saya, ketika sopir melarikan mobilnya mati-matian.

Lula, tantu saja, adalah Luis Ignacio "Lula" da Silva, presiden Brazil yang baru yang merebut 62 persen suara dalam pemilu yang diadakan pada bulan Oktober tahun lalu -kemenangan terbesar yang pernah diraih oleh setiap calon presiden dalam sejarah politik Brazil. Namanya tertulis pada kaos-kaos yang masih dijual seperti kue hangat, walaupun sudah berbulan-bulan kampanye pemilu telah usai. Wajahnya pun telah menggantikan wajah Che Guevara dalam lencana merah yang paling banyak dicari orang.

Kami berhenti di samping taksi di persimpangan jalan. Sopir itu melambaikan tangan ke arah rekan sesama sopir taksi untuk mengecek bahwa ia juga mendengarkan radio. Ia juga mengangkat ibu jarinya. Ia sedang mendengarkan Lula juga. Kemudian datang taksi lain dan acungan jempol.

Tahukah anda bahwa salah satu masalah pertama yang dilakukan Lula keika dia menjadi presiden adalah membawa para menterinya mengunjungi daerah kumuh dan bercerita kepada mereka, "Ini adalah cara bagaimana bangsa Brazil hidup yang sesungguhnya. Ingatkah kalian ketika anda memenuhi kewajiban-kewajiban kalian?" kata salah seorang kawan pelancong dari India.

"Tahukah anda bahwa salah satu hal pertama yang dia lakukan ketika ia memangku jabatan adalah menunda kontrak pembelian pesawat tempur agar bisa menggunakan uangnya untuk membiayai pendidikan?

Cerita tantang Lula telah menjadi mistis. Kami mendengarkan siaran langsung dengan sungguh-sungguh. Lula berbicara dalam bahasa Portugis dan kami hampir tidak dapat menangkap kata-katanya. Pais. Problemas. Esperanca. Ah, ia sedang berbicara tentang negerinya. Ia sedang membicarakan persoalan-persoalan. Dan ia sedang berbicara tentang harapan.

Diantara kata-katanya tidak ada yang bisa saya uraikan. Tetapi hal-ikhwal yang tak dapat diterjemahkan bisa saya lihat : ada keiklasan yang sungguh-sungguh dari ucapannya. Suaranya menggelegar dengan janji sehingga saya pun sebagai orang asing bukan warga Brazil, ingin mempercayainya. " Ole-ole-ole-ole, Lula, Lula" ribuan orang bernyanyi, menyela pidato Presiden, seolah-olah ia baru saja memasukkan gol kemenangan dalam kejuaraan Dunia Sepak Bola.

ERAP DARI BRAZIL
Saya kira saya pernah melihatnya.

Melihat ke masa lalu, ratusan ribu orang Philipina yang tidak mandi dan tidak berdandan juga memberikan persembahan kepada Presiden Joseph "Erap" Estrada, seperti yang diberikan oleh rakyat Brazil yang tidak mandi dan tidak bersolek kepada Lula saat ini. Seperti Lula, Erap bersafari di kalangan rakyat miskin dan berjanji untuk berperang melawan kelas telah mengeksploitasi mereka dalam waktu yang sangat lama. Seperti Lula, popularitas Erap di kalangan massa belum pernah terjadi dalam sejarah. Dan bagi orang yang benar-benar percaya, Erap mewakili apa yang disimbolkan Lula bagi rakyat Brazil sekarang: kebangkitan orang miskin setelah dalam periode panjang mengalami penindasan.

Tetapi, Lula, bila ditengok ke belakang dan dibandingkan dengan Erap kedekatannya lebih realistis. Ia salah satu diantara orang miskin. Pada masa kecil ia hampir mati karena kelaparan dan harus meninggalkan daerahnya yang kekeringan dengan menempuh perjalanan yang panjang dan menyiksa menuju kota. Erap sebaliknya berasal dari keluarga kaya dan tidak pernah mengalami kelaparan.

Dan ia berjuang untuk orang miskin: Sebagai bekas buruh pabrik baja, Lula menggunakan sebagian waktunya pada masa dewasa sebagai pemimpin serikat buruh yang melawan kediktatoran Brazil. Erap juga mempersembahkan sebagian besar masa hidupnya untuk melawan sisi kemiskinan tetapi hanya melalui film. Dalam kehidupan nyata, ia sangat enak dan bahagia bersama diktator Marcos.

SEMUANYA BARU
Tiba-tiba saja jalan yang kosong itu penuh sesak. Semua jurusan sepertinya menuju taman. Di depan kami, seorang lelaki dengan bangga melambaikan bendera partai Lula yang bergambar bintang merah simbol partai buruh dari dalam mobilnya. Karena terhenti, kami memutuskan untuk bergabung dengan kerumunan yang masih berjalan menuju taman untuk melihat sekilas presiden mereka walaupun pidatonya telah berakhir. Ini bukan massa bayaran: orang-orang ini bukanlah dipersiapkan dari komunitas mereka yang dikirim dengan bis-bis oleh para operator politik lokal, dengan membawa tas yang berisi makanan. Mereka datang sendiri dan tidak mengharapkan apa-apa, kecuali Lula.

Saya belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya. Dari mana saja orang-orang beranggapan bahwa kebanyakan politisi itu bukan apa-apa malahan dihina dan diremehkan. Dalam dua puluh tahun saja, sudah dua kali kami merasa begitu jijik dengan Presiden kami Marcos dan Estrada, sehingga kami menendangnya dari kursi mereka. Tetapi di Brazil, dalam beberapa konferensi, menyebutkan nama Lula saja dengan pengeras suara cukup membangkitkan kerumunan ke dalam ledakan tawa dan sorak-sorai yang mempesonakan "Ole,ole, Lula!"

Di Filipina para pemimpin polotik tidak memberi inspirasi apa-apa, tetapi mengundang kecurigaan dan sinisme; disini tampaknya Lula mengilhami kepercayaan dan harapan. Menengok ke masa lampau, pemilu sering menjadi pilihan tipu daya yang berliku-liku. Pemilu terjadi karena nampaknya tak ada pilihan lain yang lebih baik.

Saya berasal dari negara di mana generasi muda sudah menjadi kkawatir dengan politik sehingga kebanyakan orang tidak mau berurusan dengan politik. Tetapi di Brazil, kebanyakan pengikut Lula yang bersemangat adalah generasi muda : mereka mengikuti rapat umum bersama Lula dalam jumlah yang sangat besar bertelanjang badan, menggandeng pacar mereka sambil mendengarkan setiap perkataan Lula dengan serius, berciuman dan berpelukan satu sama lain setelah bertepuk sorak padanya secara tergesa-gesa.

Saya berasal dari negara di mana pemimpin segmen kiri yang paling terorganisisr cukup berarti menuntut jatuhnya negara, tetapi tidak cukup berani pulang ke negerinya dari tempat pengasingannya yang sudah nyaman. Di Brazil, visi Lula tidak hanya berani, tetapi dia di sini dan menang. Sayap Kiri Brazil telah mencapai apa yang telah dikehendaki oleh segmen sayap kiri yang paling terorganisir yang tak dapat dibayangkan setelah kembali berkuasa. Partai sayap kiri Brazil telah bergulat meraih kepemimpinan negara yang tertinggi tanpa harus membunuh seorang pun, seperti pada elemen-elemen reaksioner atau bekas kamerad angkatan bersenjata.

Tentu saja perlu diperhatikan, apakah Lula dapat mengemudikan negaranya untuk meraih tujuan-tujuannya yang revolusioner? Tetapi ia telah menunjukkan bahwa langkah pertama dan paling penting yaitu mengendalikan negara dan memobilisasi massa untuk mendukung negara telah dilakukan.

PERTUNJUKAN ANEH
Dan barangkali di sini letak alasan mengapa Lula membangkitkan banyak kegembiraan bahkan dari sinisme dan kesombongan. Ia merupakan penyimpangan, berdasarkan tatanan yang berlaku pada saat ini, kemenagannya tampak seperti peristiwa ganjil yang menyenangkan, tak dapat dipercaya tetapi nyata.

Dalam suatu dunia yang dikuasai oleh para politisi yang melayani kepentingan kelompok kecil dan orang kuat, dalam sebuah dunia yang ditandai dengan sistem politik yang secara inheren memberikan keuntungan yang tidak sepantasnya kepada para politisi semacam ini, kami tidak bisa berharap seorang Lula akan berlaku demikian. Di benua di mana Amerika Serikat telah melakukan segala cara untuk mencegah para pemimpin seperti Lula untuk berkuasa dan melakukan segala hal kecuali harapannya, kami tidak tahu bahwa Lula akan mampu mengatasinya. Dalam suatu periode ketika kekuasaan hampir dimana-mana menindas oposisi, saat kaum elite saling berebut kekuasaan dan golongan kiri rusak dari dalam, kami tidak berharap Lula dan partainya menunjukkan cara seperti itu. Saya berdiri di sini, bersama dengan rakyat Brazil menapaki jalan, menanti mobil Lula melintas. Sambil bernyanyi "Ole-ole Lula" sambil berharap lebih banyak lagi datangnya keganjilan politik seperti Lula.

Herbert V. Docena adalah anggota riset Focus on the Global South.