BANGKITNYA KEMBALI POLITIK PERIMBANGAN KEKUATAN

Oleh Walden Bello

Saat ini orang berbicara dan menulis tentang perasaan-perasaannya yang tak berdaya untuk mencegah perang, tentang kuatnya Amerika dan begitu semau-maunya untuk menyerang.

Betapa lemahnya menghadapi kekuatan adidaya. Dengan imajinasi kita yang dibatasi oleh ingatan akan keangkuhan-keangkuhan negara adidaya dan kemenangan-kemenangannya yang ambisius dan kekalahan-kekalahannya pada periode Perang Dingin, sungguh menggiurkan melihat situasi yang unik sekarang.

Pada musim panas tahun 1943, sesudah jatuhnya Prancis, ketika Nazi Jerman bertekad menguasai dunia, tampaknya tidak ada kombinasi kekuatan-kekuatan yang dapat membendungnya. Di Eropa pada akhir tahun 1800-an, Napoleon yang tampaknya tak terkalahkan itu membuat musuh kocar-kacir dari pertempuran ke pertempuran setiap aliansi militer yang dapat dikalahkan oleh musuh-musuhnya.

Beberapa tahun terakhir dan beberapa tahun yang akan datang telah dan akan menjadi pertanda buruk bagi perdamaian dunia. Tetapi tahun-tahun itu kaya akan pelajaran tentang hubungan kekuatan internasional. Dan pelajaran itu yang bercerita tentang Hegemoni dan ketidakamanan semuanya buram.

Tentu saja, pelajaran pertama itu membuat kita was-was karena status adikuasa yang tak tertandingi itu merangsang konflik, bukan perdamaian. Buntut langsung dari Perang Dingin ini tampaknya tidak begitu jelas. Kemudian tersebar luas di Dunia Barat sebuah harapan bahwa Amerika Serikat akan menggunakan sendiri status adikuasanya untuk menyiapkan tatanan multilateral yang akan melembagakan hegemoninya tetapi menjamin perdamaian di seluruh dunia. Bahkan beberapa orang yang tidak peduli dengan Amerika Serikat berspekulasi bahwa dengan hilangnya persaingan negara adikuasa dan keluarnya semua musuh potensial dari kompetisi, penyelidika Washington untuk kepentingan superioritas militer dan manfaat strategis akan menurun. Eropa, Jepang dan Cina tampaknya siap untuk meredakan kondisi persaingan di bidang ekonomi sampai tingkat yang dapat dikontrol sambil menerima dominasi Amerika di wilayah yang aman dalam jangka panjang.

Sebenarnya, ketika pada tahun 1990-an berlalu, kian jelas bahwa apa yang diwariskan oleh Perang Dingin adalah periode yang lebih labil dan berbahaya dari Perang Dingin itu sendiri, ketika keangkuhan negara adikuasa mencegah peperangan-peperangan yang besar, menahan peperangan-peperangan kecil, dan membangun hubungan-hubungan diantara negara-negara sampai tahap prediktibilitas tertentu. Ketidakstabilan era baru bukan berasal dari munculnya non state aktor ("Para pemberontak") yang "tidak rasional" yang dipersiapkan untuk ikut serta dalam "peperangan yang simetris" melawan negara-negara (state actors) yang secara konvensional kuat, walaupun banyak intelektual seperti Beltway menyebutkan teroris sebagai ancaman terbesar terhadap perdamaian dunia dan stabilitas pada era pasca Perang Dingin. Instabilitas berasal dari transformasi perimbangan kekuatan dalam sistem negara di dunia.

PERIMBANGAN KEKUATAN
Perimbangan kekuatan diantara negara-negara merupakan pokok bahasan magnum opus dalam Tragedi Politik Kekuatan Besar yang ditulis Mearsheimer. Dianggap sebagai kerja definitif tentang persoalan, buku itu berbicara secara persuasif bahwa dalam semua perimbangan sistem kekuasaan, kekuasaan-kekuasaan besar bukan bermaksud mencapai perimbangan yang defensif terhadap rival-rival mereka hingga mencapai tingkatan yang berarti di bidang militer dan keuntungan politik atas musuh-musuh tersebut. Mearsheimer juga benar bahwa sistem "bipolar" seperti perseteruan Amerika Serikat - Uni Soviet yang mendikte dinamika periode Perang Dingin lebih stabil dan kecil kemungkinannya untuk patah ketimbang sistem "multipolar" seperti situasi sebelum Perang Dunia II, yang ditandai oleh keseimbangan relatif diantara negara-negara kuat.

Tapi apa yang gagal dituturkan Mearsheimer kepada kita bahwa situasi yang paling produktif menimbulkan konflik ketegangan dan instabilitas adalah situasi ketika ada sebuah kekuatan yang sangat dominan yang dikelilingi oleh sejumlah kekuatan kecil seperti dunia pada saat ini. Ia mengutip komentar Kant, "setiap negara atau penguasa ingin mencapai suatu kondisi perdamaian abadi dengan menaklukkan seluruh dunia, jikalau hal itu mungkin dilakukan". Tetapi kelihatannya ia mengabaikan kenyataan bahwa wawasan Kant barangkali sangat relevan dengan situasi dunia paska Perang Dingin, di mana militer Amerika dan pengaruh politiknya tidak tertandingi.

Kegagalan intelektual ini mengejutkan. Kegagalan itu berasal dari kepercayaan primordial bahwa Washington tidak seperti penguasa-penguasa besar lainnya, tidak hanya terdorong oleh kenyataan politik yang sesungguhnya, tetapi oleh keinginan untuk menata dunia dengan sopan dan ramah. Keblingeran-keblingeran ideologis ini menghambat Mearsheimer dan banyak intelektual Amerika dalam menilai kenyataan bahwa Amerika Serikat telah mengalihkan peranannya sebagai "penyeimbang" negara-negara di luar daratannya terhadap calon-calon penguasa seperti Hitler dan mantan Uni Sovyet, karena hendak menjadikan dirinya sendiri sebagai kekuatan penguasa agresif yang menguasai dunia.

KONJUNGTUR UNILATERALIS
Para pengecam penguasa Amerika menghubungkan unilateralisme George W. Bush dengan pandangan dunia orang Amerika yang provinsial dan Amerika sentris. Penjelasan ini mengacaukan sebab dan akibat ideologi. Unilateralisme Bush merupakan produk dari konjungtur struktural yang unik: konsolidasi sipil-militer "untuk mempertahankan kekuasaan" setelah memenangkan Perang Dingin sebagai faksi dominan Elite Amerika dan hilangnya kekuatan pengimbang yang efektif terhadap kekuasaan Amerika dalam sistem politik global.

Tetapi untuk menutupi pergeserannya dari "kurungan" menuju hegemoni, penguasa itu membutuhkan alasan, dan dasawarsa yang terakhir menghendaki aktor-aktor pengganti untuk mengisi peranan yang ditinggalkan oleh Uni Sovyet- Korea Utara, China, Al- Qaeda, " Poros Musuh". Dengan menaruh sedikit rasa hormat terhadap kapasitas dan keadaan nyata rezim-rezim yang menjadi sasaran, proses yang oportunistis ini sungguh memalukan dan gagal memperoleh kepercayaan di tengah-tengah massa yang kritis yang menjadi kelompok sasaran utama yaitu rakyat Amerika. Dari perspektif ini, serangan 11 September merupakan "berkah" yang mengkonsolidasikan dukungan lokal untuk melakukan intervensi sepihak lebih dulu dan tanpa tujuan jelas seperti yang disuarakan dalam pidato George W Bush yang bersejarah pada tanggal 17 September 2002.

Mengenai paradigma multilateralis ini tidak pernah menjadi alternatif serius yang dianut oleh faksi elite Amerika yang penting, kecuali barangkali bagi lingkaran kaum liberal luas yang terpinggirkan dan pribadi-pribadi seperti Jimmy Carter. Bill Clinton yang tidak mempercayai kawan demokratnya Jimmy Carter, barangkali telah melakukan retorika multilateralis tetapi dia tidak ragu-ragu melakukan tindakan unilateral (sepihak) seperti yang dia lakukan ketika memerintahkan pengeboman Serbia selama krisis Kosovo walaupun negara-negara Eropa menolak.

MENAHAN WASHINGTON
Itu berita buruk. Berita yang baik adalah bahwa sekalipun didukung oleh kekuatan yang sangat besar, hegemoni yang tak tertandingi merupakan keadaan sementara sebagaimana terjadi pada kasus Eropa waktu Napoleon berkuasa. Kekuatan-kekuatan kecil baru memperhitungkan bahwa suatu sikap menurut atau takluk barangkali perlu dalam jangka pendek, tetapi negara kecil itu paham bahwa sikap tersebut akan berbahaya sebagai sebuah strategi jangka panjang, karena hanya akan semakin mengundang agresi.

Inilah sikap yang ditunjukkan Dewan Keamanan PBB atas Irak. Ini bukan kerelaan Saddam tetapi lebih upaya penguasa dunia yang merasa memiliki cek kosong untuk mengintervensi, menjatuhkan dan melengserkan negara mana saja di dunia dengan alasan untuk mencegah ancaman yang lebih berbahaya, menjangkau rakyat Amerika, tidak penting betapapun abstraknya ancaman itu. Bila dalam hal ini Jerman dan Perancis kelihatan mau mengambil jarak dengan keras kepala menghambat Amerika untuk memerangi Irak, sikap ini untuk memperlemah gerakan Amerika masa depan yang barangkali merupakan ancaman yang lebih langsung bagi keamanan nasional mereka. Ikatan-ikatan budaya atau rasa murah hati yang telah disebarkan dari pengaruh Naziisme sejak 50 tahun yang lalu merupakan alasan yang lemah ketika dibandingkan dengan ketakutan yang mendorong ambisi-ambisi agresif yang diterjemahkan kedalam gangguan ekonomi dalam jangka pendek dan pemerasan milter dalam jangka panjang.

Tetapi krisis Irak baru-baru ini terpecahkan -- dan tentu saja Prancis dan Jerman masih belum menyerah dalam tekanan -- hal ini telah mempercepat kemerosotan Aliansi Atlantik pada masa Perang Dingin, sebuah perkembangan yang terungkap dalam komentar penuh penghinaan dari Menteri Pertahanan Amerika Donald Rumsfeld tentang "Eropa Tua Renta" yang keras kepala. Peristiwa ini menandai lahirnya kembali perimbangan kekuatan politik dengan kekuatan-kekuatan kecil yang berperan aktif bekerjasama untuk menahan agresi Amerika.

Bergabungnya Prancis dan Jerman serta Rusia dan Cina pada zaman ini menyerupai Tripel Aliansi pada masa sebelum Perang Dunia pertama, bersama-sama negara-negara berkembang lainnya seperti Brazil dan bahkan mungkin Korea Selatan pada akhirnya berharap bisa naik daun. Walaupun anggota-anggota individu bisa berubah, koalisi ini barangkali akan bertahan lama. Tidak seperti sekarang ini, di mana dinamika-dinamikanya diselimuti oleh perdebatan atas masalah senjata pemusnah massal milik Saddam Hussein, dasarnya pada akhirnya akan dapat terartikulasikan dengan jelas ketika pertahanan keamanan nasional dan global terancam oleh Amerika.

PERLAWANAN GLOBAL
Bangkitnya kembali sistem pertahanan pada tingkat sistem negara harus dilihat dalam konteks kemajuan gerakan-gerakan perlawanan global yang lain. Tentu saja terdapat Islam Fundamentalis yang telah meraih prestasi yang hebat sekali dikalangan massa Arab dan Islam dengan mengirimkan pukulan kepada Amerika dan sekutunya Israel pada tanggal 11 September. Perang melawan Irak yang akan datang mungkin akan memperlemah secara drastis apa yang dinamakan rezim-rezim moderat di dunia Arab dan Muslim dan akhirnya membangkitkan negara-negara yang dengan tanpa kompromi melawan intervensi Amerika Serikat. Tidak lama lagi kita akan menyaksikan rezin-rezim Islam radikal di Pakistan, Saudi Arabia dan Indonesia. Kemudian pergerakan global berkembang melawan globalisasi yang dalam satu setengah tahun ini telah menyatu dengan gerakan anti perang dan membentuk front anti Amerika yang kuat pada tingkat masyarakat sipil internasional. Seperti gerakan-gerakan fundamentalis Islam, berbagai unsur gerakan ini barangkali akan menggantikan kekuasaan negara di sejumlah negara pada tahun-tahun mendatang. Tentu saja berbagai unsur gerakan itu telah muncul di beberapa negara Amerika Latin: Brazil, Venezuela dan Ekuador.

Gerakan fundamentalis Islam dan anti globalisasi terutama bukan berfungsi untuk menambah bobot meteri dan diplomasi guna mengendalikan Amerika Serikat. Apa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang bagaimanapun sama pentingnya yaitu menggerogoti legitimasi korporasi Amerika dan membeberkannya terhadap apa yang dinamakan tawaran mentah-mentah hegemoni. Ini penting karena langgengnya kekuasaan-kekuasaan hegemoni pada akhirnya didasarkan atas persepsi tentang legitimasi mereka.

Beberapa tahun dan dasawarsa mendatang barangkali kita akan saksikan usaha-usaha yang benar-benar lebih gila untuk menata kembali dunia yang melayani kepentingan Amerika dengan lebih baik. Tetapi negara-nagara kecil juga akan bersatu membentuk koalisi anti-Amerika yang kuat sambil mempercepat perluasan gerakan-gerakan anti Amerika dikalangan masyarakat sipil dunia. Ini bukan hegemoni yang tak tertandingi yang dicita-citakan Washington, tetapi merupakan dinamika klasik yang melampaui batas dan berkepanjangan. Karena ada pelajaran yang jelas dalam sejarah bangsa-bangsa yaitu bahwa imperium itu bersifat sementara sedangkan perlawanan bersifat permanen.

Walden Bello adalah guru besar sosiologi dan administrasi negara pada Universitas Filipina dan direktur eksekutif Focus on the Global South, Lembaga Analisa dan Advokasi yang berkantor di Bangkok.