Ketika Pascal Lamy Datang Ke Bangkok
Oleh Walden Bello dan Chanida Bamford

Pada tanggal 1 April 2003, dalam upaya "mendekati" masyarakat sipil, Komisaris Dagang Uni Eropa Pascal Lamy bertemu dengan beberapa wakil LSM di Hotel Oriental Bangkok yang terletak di pinggir sungai. Pertemuan itu tidak menghasilkan gagasan-gagasan baru mengenai negosiasi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang sedang berlangsung. Sekalipun demikian, dari pertemuan tersebut terdapat beberapa pandangan yang menarik tentang perspektif, strategi dan taktik perundingan Uni Eropa.

Draf Harbinson : Sebuah Taktik Blunder

Topik pertanian mendominasi agenda pertemuan yang berlangsung satu jam. Lamy menceritakan hal menarik tentang draf perjanjian pertanian Stuart Harbinson. Lamy bersama para negosiator di Jenewa yang tidak bisa menyelesaikan deadlinenya tentang modalitas perundingan pada 31 Maret, mencela Harbinson. Lamy menuduh telah melakukan sebuah "kesalahan taktis" dalam proposalnya untuk liberalisasi "pada tahap ini" karena "terlalu tepat". Ini jelas menunjuk pada pemotongan tarif dan subsidi yang diusulkan Harbinson, yang oleh Uni Eropa dianggap terlalu banyak.

"Kami tidak menyukai draf Harbinson", demikian kata Lamy dengan nada datar. Dia menyebut dua alasan. Pertama, draf itu tidak memperhatikan masalah non perdagangan, seperti pembangunan berkelanjutan, pembangunan pedesaan dan kesejahteraan binatang. Dalam bidang pertanian, menurut Lamy, bukan saja memproduksi komoditi tetapi juga jasa, barang kolektif yang bukan hanya milik satu orang. Itu berarti bukan hanya menjual kebijakan perdagangan tetapi juga kebijakan publik. Singkatnya, Uni Eropa, tidak akan mundur dari posisinya tentang "multi fungsionalitas".

Alasan kedua yang disebut Lamy adalah Harbinson kurang luwes dalam menangani subsidi dan dukungan domestik lainnya yang diberikan Uni Eropa. Menurut Lamy, draf itu gagal mencermati beberapa hal, yaitu subsidi ekspor Uni Eropa saat ini jumlahnya hanya seperempat dari tahun lalu. Kemudian, Uni Eropa menawarkan, dan ini sangat penting, "50 persen pemotongan dalam dukungan domestik, pengurangan 50 persen dalam subsidi ekspor, dan peningkatan akses pasar sebanyak sepertiga". Selain itu, draf Harbinson dianggap tidak menghargai fakta di lapangan. Sementara Amerika Serikat menerapkan kebijakan perdagangan yang mendistorsi pasar untuk mendukung kepentingan pertaniannya, Uni Eropa bergerak ke arah bentuk pemberian subsidi non perdagangan, yang juga mendistorsi pasar, dengan mengadopsi ketentuan-ketentuan Green Box seperti pembayaran langsung kepada para petani yang terpisah dari produksi.

Segi positifnya dalam draf Harbinson kata Lamy, adalah "kotak ketahanan pangan' (food security box). Proposal ini memungkinkan negara-negara berkembang mendaftar beberapa "produk strategis" agar mendapatkan pemotongan tarif yang lebih kecil dibandingkan produk-produk pertanian lainnya. Berbeda dengan posisi Lamy, banyak wakil negara berkembang telah menolak draf itu karena dianggap lemah dan tidak bisa mengimbangi kerugian yang akan dialami oleh sektor-sektor pertanian akibat liberalisasi yang komprehensif.

Lamy sangat hati-hati menggambarkan pertanian Uni Eropa karena dianggap mengalami hal serupa dengan ekonomi negara-negara berkembang. Ia mengklaim bahwa seperti di banyak negara berkembang, Uni Eropa secara umum merupakan importir produk pertanian. "Kami hanya mengekspor sedikit", katanya, sambil menunjukkan bahwa subsidi domestik (domestic support) dan subsidi ekspor di pasar-pasar global dibatasi.

Upaya Mengeksploitasi Perbedaan diantara Negara Berkembang

Ia menyebutkan bahwa dua kubu negara-negara berkembang telah mencapai kemajuan dalam negoisasi pertanian baru-baru ini: kubu pengekspor produk pertanian yang menjadi anggota Kelompok Cairns, dan negara-negara berkembang lainnya. "Ada Brazil di satu pihak, dan India", katanya. Brazil dan Thailand dilukiskan sebagai pendukung perdagangan bebas. Tetapi Lamy meragukan negara-negara berkembang lainnya. Seperti negara-negara di Afrika, "liberalisasi perdagangan tidak dapat diterapkan untuk bidang pertanian".

Oleh karena itu, Lamy menyarankan bahwa "harus ada kompromi diantara dua kubu ini", tetapi dalam kenyataan, Uni Eropa mengeksploitasi konflik guna memperkuat posisinya dalam perundingan. Pada tanggal 28 Februari, Uni Eropa, Norwegia dan Swiss menyampaikan sebuah pernyataan yang ditandatangani oleh negara-negara berkembang, termasuk India. Dalam statemen itu, negara-negara tersebut mendukung rumusan Putaran Uruguay untuk pemotongan-pemotongan tarif, yang akan lebih memberikan kesempatan lebih baik dalam melindungi produk-produk yang sensitif daripada draf Harbinson. Menurut analis Focus on The Global South, Aileen Kwa, "ini membuat pendekatan Amerika Serikat dan kelompok Cairns yang pro liberalisasi bungkam dan terpojok".

Berkaitan dengan isu implementasi, Lamy tidak setuju dengan adanya tuduhan bahwa Deklarasi Doha meletakkan isu-isu implementasi yang merupakan agenda terpenting bagi negara-negara berkembang pada urutan kedua. Ia berpendapat, "Deklarasi Doha merupakan teks yang pertama kali mengintegrasikan isu-isu implementasi sebagai pokok agenda utama. Ini hadiah besar bagi negara-negara berkembang". Tetapi ia mengakui bahwa perundingan-perundingan tentang implementasi tidak maju-maju. Lamy juga menyalahkan negara-negara berkembang yang dianggapnya, "tidak menyetujui dua atau lima isu implementasi teratas untuk dibicarakan".

Pascal Lamy Mengelola Harapan

Ditanya apakah putaran perundingan baru-baru ini terancam keluar dari rel karena jalan di tempat, Lamy terlihat tidak khawatir. Di bidang pertanian, katanya, "kami hanya separoh jalan dalam perundingan-perundingan yang kami lakukan sampai akhir tahun 2004". Ada perbedaan tingkat kemajuan dalam bidang yang berbeda-beda dalam perundingan, katanya "beberapa bidang sudah sepertiga berjalan dan bidang lainnya dua pertiga berjalan". Ia menyebutkan perundingan-perundingan mengenai Perdagangan yang terkait dengan Hak Kekayaan Intelektuil (TRIPS) "telah mencapai 98 persen, kita semua tahu bahwa sisanya tinggal dua persen". Pernyataan ini terlalu berlebihan, karena faktanya Amerika merintangi setiap pergerakan perundingan dengan tuntutannya yaitu pembatasan-pembatasan paten untuk produksi dan ekspor obat-obatan dihilangkan hanya untuk bebarapa penyakit tertentu saja, ini tentu bertentangan Deklarasi Doha.

Tampaknya, Lamy berada pada tahap-tahap awal mengelola harapan-harapan tentang hasil Pertemuan Tingkat Menteri di Cancun pada bulan September mendatang. Jurang pemisah antara harapan-harapan liberalisasi baru, dimana komisaris perdagangan Uni Eropa sendiri telah memupuk dan mengolahnya akan menjadi bencana politik yang akan menghalangi perundingan-perundingan di semua bidang setelah pertemuan Cancun dan menghantu-hantui Lamy dan para pedagang pasar bebas lainnya : penolakan terhadap globalisasi.

*Walden Bello dan Chanida Bamford merupakan anggota Tim Kampanye Perdagangan untuk Focus on The Global South.