|
(Paper ini disiapkan untuk konferensi Mc Planet, Berlin, 27 Juni 2002.
Versi resmi tulisan ini akan diterbitkan dalam The Fall Issue of New Labour
Forum)
“Kapitalisme secara konstan mengikis makhluk dan warga
negara laki-laki dan perempuan dan, bahkan ketika kapitalisme menguras
energi hidup mereka sebagai pekerja, kapitalisme membentuk kesadaran mereka
untuk menjalankan peran sebagai konsumen. Kapitalisme mempunyai banyak
“hukum gerak”, tetapi salah satu hukumnya yang paling merusakkan
lingkungan adalah Hukum Say, yang berbunyi : bahwa penawaran menciptakan
permintaannya sendiri. Kapitalisme merupakan mesin pencetak permintaan
yang mengubah watak kehidupan menjadi komoditas mati, kekayaan alam menjadi
modal mati.”
(Walden Bello, Mc Planet Conference, Berlin, 27 – 29 Juni 2003.)
Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada yayasan Henrich Boll,
Attack Jerman dan semua organisasi konferensi yang telah mengundang saya
untuk mengikuti pertemuan yang sangat penting ini. Apa yang akan saya
lakukan pada sambutan saya ini adalah membicarakan elemen-elemen kunci
dari konjungtur global. Saya ingin melukis, dengan coretan-coretan yang
luas, konteks politik dan ekonomi global di mana kita harus menempatkan
aktivisme lingkungan kita.
Mari kita menoleh ke tahun 1995, tahun kelahiran Organisasi Perdagangan
Dunia atau WTO. Hasil dari perundingan yang dilakukan selama delapan tahun,
WTO disambut dalam surat kabar yang berpengaruh sebagai penyelenggaran
ekonomi dunia yang sangat bagus pada era globalisasi. Hampir sebanyak
20 kesepakatan perdagangan yang menyokong WTO disajikan sebagai perangkat
undang-undang multilateral yang akan menghilangkan kekuasaan dan paksaan
dari relasi-relasi dengan menyerahkan baik yang kuat maupun yang lemah
kepada seperangkat hukum yang sama yang didukung oleh aparat penegakan
hukum yang efektif. WTO merupakan penunjuk, kata George Soros, karena
WTO hanyalah merupakan badan supernasional, di mana negara yang paling
kuat ekonominya di dunia, Amerika Serikat, akan menyandarkan diri. Dalam
WTO dinyatakan bahwa negara yang kuat, Amerika Serikat, dan yang lemah
Rwanda benar-benar memiliki suara yang sama : satu.
Kemenangan adalah catatan yang didengungkan selama Pertemuan Tingkat Menteri
yang pertama dalam WTO di Singapura pada bulan November 1996, bersama
WTO, IMF, dan Bank Dunia yang mengeluarkan deklarasinya yang terkenal
yang mengatakan bahwa tugas masa depan adalah tantangan yang sekarang
terbentang luas dalam membuat kebijakan-kebijakan perdagangan global,
keuangan, dan pembangunan yang “koheren” untuk meletakkan
basis bagi kemakmuran global.
KRISIS PROYEK GLOBALIS
Pada permulaan tahun 2003, kemenangan itu sudah berlalu. Ketika Pertemuan
Tingkat Menteri WTO mendekat organisasi itu mengalami kemacetan (gridlock).
Sebuah perjanjian baru di bidang pertanian dimana-mana dikentuti ketika
Amerika dan Uni Eropa dengan gigihnya mempertahankan subsidi mereka yang
banyaknya bermilyar-milyar dolar. Brussels hampir saja menjatuhkan sanksi-sanksi
kepada Washington karena melakukan pemotongan-pemotongan pajak terhadap
negara-negara yang diketahui melanggar undang-undang WTO, sementara Washington
mengancam akan mengajukan sebuah kasus kepada WTO atas moratorium de facto
Uni Eropa terhadap makanan yang dimodifikasi secara genetis. Beberapa
negara berkembang yang pernah berharap bahwa WTO sebenarnya akan lebih
membawa keadilan bagi perdagangan global, secara bulat bersepakat bahwa
sebagian besar yang telah mereka peroleh selama menjadi anggota WTO adalah
kerugian bukan keuntungan. Mereka mati diadu domba karena membuka pasar
mereka lebih lanjut, kecuali di bawah paksaan dan intimidasi. Selain menggembar-gemborkan
putaran baru liberalisasi perdangan dunia, Pertemuan Tingkat Menteri barangkali
mewartakan kebuntuan.
Kontek untuk memahami kemacetan ini di WTO adalah krisis proyek globalis
– prestasi utamanya adalah dibentuknya WTO - dan munculnya unilateralisme
sebagai ciri-ciri utama kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Tetapi
pertama-tama orang mengamati globalisasi dan proyek globalis. Globalisasi
adalah percepatan integrasi modal, produksi, dan pasar secara global (diseluruh
dunia), sebuah proses yang didorong oleh logika keuntungan perusahaan.
Globalisasi mengalami dua fase (tahap) : yang pertama berlangsung dari
awal abad ke-19 sampai pecahnya Perang Dunia Pertama tahun 1914; kedua
dari awal tahun 1980-an sampai sekarang. Periode yang menyelangi ditandai
oleh dominasi ekonomi kapitalis nasional yang dicirikan oleh tingkat intervensi
negara yang signifikan dan ekonomi internasional dengan tekanan-tekanan
arus modal dan perdagangan yang kuat. Tekanan-tekanan domestik dan internasional
terhadap pasar, yang diakibatkan oleh dinamika konflik kelas secara internal
dan kompetisi antar kapitalis di seluruh dunia, oleh neoliberal digambarkan
sebagai penyebab distorsi-distorsi yang secara kolektif bertanggungjawab
terhadap kemandegan ekonomi kapitalis dan ekonomi global pada akhir tahun
1970-an dan awal tahun 1980-an.
Sebagaimana pada tahap pertama globalisasi, tahap kedua ditandai oleh
datanganya hegemoni ideologi neoliberalisme, yang memusatkan pada “pembebasan
pasar” melalui percepatan privatisasi, deregulasi, dan liberalisasi
perdagangan. Pada umumnya, ada dua versi ideology neo-liberal –
versi Reagan-Thatcher yang keras dan versi Soros-Blair yang lunak (globalisasi
dengan “jaring pengaman”). Tetapi yang mendasari kedua pendekatan
itu adalah lepasnya kekuatan pasar dan bergerak atau mengikis tekanan-tekanan
yang dibebankan pada perusahaan-perusahaan transnasional oleh buruh, negara,
dan masyarakat.
TIGA MOMEN KRISIS GLOBALISASI
Ada tiga momen yang memperberat krisis proyek globalis. Yang pertama adalah
krisis keuangan Asia pada tahun 1997. Peristiwa ini, yang memperolokkan
“macan” Asia Timur yang membanggakan, memperlihatkan bahwa
salah satu prinsip kunci globalisasi – liberalisasi modal untuk
meningkatkan arus modal yang lebih bebas, terutama modal uang atau modal
spekulatif – dapat menggoncang ekonomi dengan hebat ya. Sesungguhnya
krisis keuangan Asia hanya menunjukkan paling tidak delapan krisis keuangan
utama yang terakhir sejak liberalisasi arus keuangan global mulai pada
akhir tahun 1970-an. Bagaimana liberalisasi pasar modal dapat bergoncang
dengan hebatnya diperlihatkan ketika, hanya dalam waktu satu minggu, satu
juta orang di Thailand dan 21 juta orang di Indonesia terperosok di bawah
garis kemiskinan.
Kini keuangan Asia mirip kasus “Stalingrad” yang disponsori
IMF, agen global utama yang mengalirkan modal secara liberal. Rekornya
dalam perusahaan yang ambisius untuk menundukkan kira-kira 100 ekonomi
transnasional yang sedang berkembang terhadap “penyesuaian struktural”
ditinjau kembali, dan kenyataan-kenyataan telah ditunjukkan oleh agen-agen
seperti Program Pembangunan PBB (UNDP) dan konferensi PBB tentang Pembangunan
dan Perdagangan (UNCTAD) pada akhir tahun 1980-an sekarang menerima kenyataan.
Program penyesuaian struktural yang dirancang untuk mempercepat deregulasi,
liberalisasi perdagangan, dan privatisasi hampir di mana-mana mengalami
kemandegan yang melembaga, kemiskinan yang memburuk, ketimpangan yang
meningkat.
Sebuah paradigma sebenarnya berada dalam krisis ketika ditinggalkan para
pelaksananya yang terbaik, seperti yang disebutkan oleh Thomas Kuhun dalam
karya klasiknya The Structure of Scientific Revolution, dan sesuatu yang
sama dengan apa yang terjadi selama krisis paradigma Kopernikus dalam
ilmu fisika, terjadi dalam ekonomi neo-klasik segera setelah krisis keuangan
Asia, dengan para intelektuil kunci yang meninggalkan jejaknya –
diantara mereka itu adalah Jeffrey Sachs, yang sebelumnya telah dikenal
karena pembelaannya berupa shock-terapi “pasar bebas” bagi
Eropa Timur pada awal tahun 1990-an; Joseph Stiglitz, mantan ketua ahli
ekonomi di Bank Dunia; Jagdish Bhagwati guru besar Universitas Colombia,
yang menghendaki kontrol global terhadap arus modal; dan pemodal George
Soros, yang mengecam lemahnya kontrol dalam sistem keuangan global yang
telah memperkaya dirinya.
Momen yang kedua dari krisis proyek globalis adalah bangkrutnya Pertemuan
Tingkat Menteri WTO yang ketiga di Seattle pada bulan Desember 1999. Seattle
merupakan titik pertemuan yang fatal dari tiga arus kekecewaan dan konflik
yang suatu waktu telah membangun solidaritas:
- Negara-negara berkembang benci akan ketidakadilan dalam perjanjian Putaran
Uruguay yang mereka rasakan terpaksa menandatanganinya pada tahun 1995.
- Perlawanan rakyat secara besar-besaran terhadap WTO yang muncul secara
global dari berbagai sektor masyarakat sipil di seluruh dunia, yang meliputi
kaum tani, serikat-serikat buruh, nelayan dan pencinta lingkungan. Karena
mengancam kesejahteraan setiap sektor dalam persetujuan-persetujuan, WTO
berhasil menyatukan masyarakat sipil di seluruh dunia untuk menentangnya.
- Ada konflik-konflik dagang yang tak terselesaikan antara Uni Eropa dan
Amerika Serikat, terutama di bidang pertanian yang hanya dipersiapkan
oleh perjanjian Putaran Uruguay.
Tiga elemen yang labil ini bersatu menciptakan ledakan di Seattle di mana
negara-negara-negara berkembang memberontak terhadap pendiktean Negara
Utara di Pusat Konvensi Seattle, 50.000 orang berkumpul dengan garangnya
di jalan-jalan, banyak orang mencegah Amerika Serikat dan Uni Eropa memasuki
gedung konser guna menyelamatkan Pertemuan Tingkat Menteri. Dalam keadaan
yang jernih, tepat setelah bencana Seattle, Menteri Luar Negeri Inggris
Stephen Byers memahami esensi dari krisis tersebut : “WTO tidak
akan mampu melanjutkan formatnya yang sekarang. Harus ada perubahan yang
radikal dan fundamental agar WTO bisa memenuhi kebutuhan dan aspirasi-aspirasi
anggotanya yang berjumlah 134 negara”.
Momen yang ketiga dari krisis ini adalah jatuhnya pasar saham dan berakhirnya
demam Clinton (Clinton boom). Ini bukan hanya meledaknya gagasan tetapi
merupakan penegasan kembali yang kasar dari krisis kapitalis yang klasik
karena over produksi, yang manifestasi utamanya adalah over kapasitas.
Sebelum terjadi dentuman, laba perusahaan di Amerika tidak mengalami pertumbuhan
sejak tahun 1997. Ini berkaitan dengan over kapasitas dalam sektor industri;
contoh yang paling menyolok terlihat dalam sektor telekomunikasi yang
mengalami kesulitan, di mana hanya 2,5 persen kapasitas yang terpasang
di seluruh dunia yang terpakai. Kemandegan ekonomi riil menyebabkan modal
bergerak ke sektor keuangan (finansial), yang mengakibatkan naiknya nilai
saham yang memusingkan. Tetapi karena keuntungan di sektor keuangan tidak
menyimpang terlalu jauh dari keuntungan sektor ekonomi riil, jatuhnya
nilai saham tidak dapat dihindarkan, dan ini terjadi pada bulan Maret
2001, yang mengakibatkan stagnasi yang berkepanjangan dan permulaan dari
deflasi.
Barangkali karena alasan struktural yang lebih luas yang menyebabkan panjangnya
stagnasi atau deflasi baru-baru ini dan terseendat-sendatya ekonomi secara
terus-menerus akibat resesi. Barangkali, seperti yang telah dinyatakan
oleh sejumlah ahli ekonomi, bahwa kita berada di ujung “lingkaran
kondratif” (Kondratieff Cycle) yang terkenal itu. Teori yang dikemukakan
oleh ahli ekonomi Rusia Nikolai Kondratieff ini mengatakan bahwa kemajuan
ekonomi global bukan saja ditandai oleh perputaran bisnis yang berjangka
pendek tetapi juga oleh “perputaran super” jangka panjang.
Perputaran Kondratieff adalah gelombang yang secara kasar panjangnya mencapai
lima puluh sampai enam puluh tahun. Kurve ke atas dari siklus kondratieff
ditandai oleh eksploitasi teknologi baru yang intensif, yang diikuti oleh
puncak eksploitasi teknologi yang mengalami kematangan, kemudian kurve
kebawah ketika teknologi yang sudah tua hasilnya makin berkurang sementara
teknologi baru masih dalam tahap percobaan guna melakukan eksploitasi
yang dapat menguntungkan, dan akhirnya sebuah kesuraman atau deflasi yang
berkepanjangan.
Kesuraman gelombang terakhir terjadi pada tahun 1930 – 1940-an,
sebuah periode yang ditandai oleh Depresi Besar dan Perang Dunia II. Naiknya
gelombang berikutnya dimulai pada tahun 1950-an dan mencapai puncaknya
pada tahun 1980 – 1990-an. Eksploitasi yang menguntungkan untuk
mencapai kemajuan pada pasca perang dalam bidang energi kunci, industri
otomotif, petrokimia dan manufaktur berakhir sudah, sementara eksploitasi
teknologi informasi masih berada pada tahap yang relatif awal. Dari perspektif
ini. “Ekonomi Baru” akhir tahun 1990-an bukanlah merupakan
siklus bisnis yang sangat penting, sebagaimana dipercaya oleh banyak ekonom,
tetapi merupakan fase kegemilangan terakhir pada masa super siklus baru-baru
ini sebelum merosot ke dalam deflasi yang berkepanjangan. Dengan kata
lain, keunikan konjungtur belakangan ini terletak pada kenyataan bahwa
kurva ke bawah siklus jangka pendek belakangan ini secara kebetulan bertemu
dengan gerakan menurun super siklus Kondratieff. Meminjam kata-kata ekonom
terkenal lainnya, Joseph Schumpeter, ekonomi global tampaknya diarahkan
menuju periode “penghancuran kreatif” yang berkepanjangan.
KRISIS LINGKUNGAN DAN LEGITIMASI KAPITALIS
Saya telah bicara tentang momen-momen atau kristalisasi konjungtural dari
krisis proyek globalisasi. Momen-momen itu merupakan manifestasi konflik-konflik
fundamental atau kontradiksi-kontradiksi yang berkembang secara timpang
sepanjang masa. Kontradiksi pokok yang membara adalah antara globalisasi
dan lingkungan. Saat ini saya ingin mempersembahkan sedikit kata-kata
tentang bagaimana krisis lingkungan terbukti merupakan faktor utama yang
membongkar seluk-beluk legitimasi proyek globalisasi, tentu saja kapitalisme
sebagai alat organisasi ekonomi itu sendiri. Baik sebelum maupun sesudah
Pertemuan Tingkat Menteri Lingkungan dan Pembangunan di Rio de Janeiro
pada tahun 1992, artinya selagi situasi lingkungan dunia memburuk, kesadaran
akan kenyataan ini mengakibatkan diciptakannya institusional global dan
mekanisme-mekanisme legal untuk menghadapi persoalan itu. Pertemuan Tingkat
Tinggi Rio menyepakati Agenda 21, sebuah program global untuk perbaikan
lingkungan, yang akan mengimbangi program-program negara, tampaknya menandai
selangkah ke depan yang penting dalam kegiatan global.
Lagipula pada akhir tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an merupakan periode
ketika sejumlah kesepakatan multilateral ditorehkan dan tampak memperoleh
kemajuan dalam memutar balik krisis lingkungan global, seperti Protokol
Montreal yang mengontrol produksi CFC untuk melindungi lapisan ozon, dan
perjanjian CITES yang mengontrol secara ketat yang membahayakan jenis-jenis
binatang dan tumbuhan juga. Juga naiknya Bill Clinton dan Al Gore ke panggung
kekuasaan pada tahun 1992, sebuah pemerintahan yang menempatkan pemeliharaan
lingkungan secara benar.
Beberapa gerakan yang menghambat proses ini.
Pertama, berdirinya WTO. Sebagaimana dikatakan oleh Ralph
Nader, WTO menempatkan usaha dagang (corporate trade) diatas segalanya
(“Uber Alles”), yang berarti secara praktis semua dimensi
kehidupan social-ekonomi kecuali ketahanan nasional. Dengan kata lain,
undang-undang yang melindungi sumber daya alam dan lingkungan perlu diubah
apabila membebani aturan-aturan yang dianggap tidak adil bagi kepentingan
perdagangan luar negeri. Dalam serangkaian kasus yang menonjol –
kasus ikan tuna- dolphin antara Amerika Serikat dan Mexico, kontraversi
udang-penyu yang mengadu Amerika Serikat dan negara-negara Asia –
kelihatan bahwa undang-undang lingkungan nasional ditempatkan dibawah
perdagangan bebas. Arah WTO tampaknya akan lebih membawa perlindungan
lingkungan di berbagai negara ke tingkatan yang paling rendah ketimbang
menempatkan perlindungan itu ke dalam peraturan-peraturan yang paling
tinggi.
Kedua, dorongan yang agresif yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan
raksasa (corporations) untuk mengeksploitasi makanan dengan bioteknologi
dan teknologi canggih menggelisahkan para pegiat lingkungan dan warga
negara di seluruh dunia. Pelarangan Uni Eropa terhadap daging sapi yang
disuntik hormon dari Amerika Serikat – yang memperoleh tanggapan
dari kalangan rakyat di Eropa – terus berlangsung walaupun WTO memandang
hal itu ilegal. Demikian pula, modifikasi genetika dalam produksi pertanian
yang bekerja sama dengan perlawanan terhadap “ekola belling”
di pihak perusahaan-perusahaan Amerika seperti Monsanto memicu reaksi
balik konsumen di Eropa dan bagian-bagian dunia lainnya, yang menghendaki
prinsip pencegahan sebagai senjata ampuh untuk melawan kriteria perusahaan-perusahaan
Amerika Serikat yang mempunyai “ilmu pengetahuan yang solid.”
Juga, usaha agresif oleh perusahaan-perusahaan bioteknologi Amerika Serikat
untuk memperluas hak paten bagi keragaman hayati dan benih-benih tanaman
mengundang perlawanan yang kuat dari kelompok-kelompok petani, kelompok-kelompok
konsumen, dan para pegiat lingkungan yang mengecamnya sebagai “privatisasi”
hubungan antara alam dan penghuninya yang berjangka ribuan tahun lamanya.
Ketiga, perlawanan yang kuat dari sektor industri Amerika Serikat yang
tidak mau meyakini adanya fakta pemanasan global, ketika terjadi percepatan
melelehnya puncak es di wilayah kutub, dirasakan sebagai upaya kurang
tidak kenal malu, karena mendahulukan laba daripada kepentingan bersama.
Persepsi ini hanya bisa diperkuat oleh usaha bersama yang sukses menghambat
terjadinya pemanasan global selama pemerintahan Clinton dan akhirnya digagalkan
oleh pemerintahan Bush yang menolak menandatangani dan meratifikasi Protokol
Kyoto yang lemah tentang perubahan iklim.
Sikap anti lingkungan yang agresif dari perusahaan-perusahaan Amerika
merupakan salah satu faktor yang menyebabkan ketidakpercayaan yang meluas
terhadap bisnis bahkan di dalam negeri Amerika Serikat, di mana 72 persen
penduduk Amerika yang disurvei oleh Business Week pada tahun 2000 mengatakan
bahwa bisnis “terlalu berkuasa atas kehidupan mereka”, sehingga
mengakibatkan bisnis utama negeri itu setiap minggu memperingatkan “Perusahaan
Amerika, tanggunglah sendiri resiko ini”.
Pada waktu yang sama, negara-negara berkembang merasa bahwa Amerika Serikat
menggunakan alasan-alasan lingkungan guna memperlambat pembangunan di
negara-negara mereka yang bersikap bahwa emisi gas rumah kaca di negara-negara
berkembang juga secara subtansi harus tunduk pada peraturan yang sama
yang dibebankan pada negara-negara maju sebelum Washington menandatangani
Persetujuan Kyoto. Tentu saja, kecurigaan-kecurigaan itu bukannya tak
berdasar, karena pemerintahan Bush menargetkan Cina, yang pembangunannya
berjalan pesat dilihat sebagai ancaman strategis terhadap Amerika Serikat.
Isu lingkungan sedang disebar-luaskan oleh Amerika Serikat sebagai upaya
untuk mempertahankan segi geoekonomi dan geopolitiknya.
Pada awal tahun 2000, kemudian konsensus global yang diwakili oleh Pertemuan
Puncak di Rio Janeiro telah diselesaikan tetapi digagalkan oleh kampanye
bersama anti lingkungan secara besar-besaran yang dilancarkan pada Pertemuan
Puncak Dunia tentang Pembangunan Berkelanjutan (juga dikenal sebagai Rio
+ 10) di Yohanesburg pada bulan September 2002 “Pembangunan Berkelanjutan”,
sebuah visi yang mencoba mendamaikan pertumbuhan ekonomi dengan stabilitas
ekologi mengalami kekalahan, dan citra kewahyuan dari Herman Daly tentang
sistem ekonomi yang ditandai oleh hiper pertumbuhan yang menurut catatan
waktu melampaui sistem ekologi yang tercipta selama ribuan tahun tampak
mendekati kenyataan ketika modal Amerika Serikat, Eropa dan Jepang bekerja
bahu-membahu dengan pemerintah yang ramah polusi untuk menjadikan negeri
Cina yang tinggi pertumbuhan ekonominya sebagai bengkel dan keranjang
sampah dunia.
Beberapa tahun yang lalu, banyak kalangan sepakat dengan ekonom Herman
Daly bahwa kemerosotan ekologi disebabkan oleh dorongan sistem produksi
buatan manusia yang tak terkendali guna memenuhi ruangan terbatas yang
tercipta selama ribuan tahun secara alamiah dengan kecepatan geometrik.
Dari perspektif ini, pertumbuhan yang lebih lambat dan tingkat konsumsi
yang lebih rendah merupakan kunci stabilisasi lingkungan, dan ini bisa
dicapai melalui pilihan-pilihan kebijakan yang didukung oleh masyarakat.
Makin lama, analisa ini menawarkan pandangan yang lebih radikal, bahwa
penjahat utamanya adalah cara produksi kapitalis yang tidak terkendali
yang terus-menerus mengubah karunia alam menjadi komoditas dan tanpa henti-hentinya
menciptakan permintaan-permintaan baru. Kapitalisme terus-menerus menggerogoti
kaum perempuan, laki-laki dan warga negara dan, bahkan ketika kapitalisme
mengalirkan energi hidup manusia sebagai pekerja, kapitalisme membentuk
kesadaran manusia kedalam satu peran : yaitu konsumen. Kapitalisme memiliki
banyak “hukum gerak”, tetapi satu-satunya hukum yang paling
merusak sepanjang dialami oleh lingkungan adalah Hukum Say, dimana penawaran
menciptakan permintaannya sendiri. Kapitalisme merupakan mesin pencipta
permintaan yang mengubah mahluk hidup menjadi komoditas mati, kekayaan
alam menjadi modal mati.
Pendek kata, isu lingkungan telah meraih seginya yang radikal selama beberapa
dekade terakhir, yang menggerakkan kritik globalisasi ke arah kritik dinamika
kapitalisme itu sendiri.
EKONOMI BARU GEORGE W. BUSH
Krisis globalisasi, neoliberalisme, legitimasi kapitalis, dan over produksi
yang saling bertautan menawarkan konteks untuk memahami kebijakan ekonomi
pemerintahan Bush, terutama dorongannya yang mengarah ke unilateralisme.
Proyek bersama globalis mengungkapkan kepentingan yang sama bagi para
elite kapitalis global dalam memperluas ekonomi dunia dan saling ketergantungan
mereka yang mendasar. Tetapi globalisasi tidak bisa menghilangkan kompetisi
di kalangan elite nasional. Dalam kenyataan, elite yang berkuasa di Amerika
Serikat dan Eropa memiliki faksi-faksi yang lebih nasionalis wataknya
dan juga lebih terikat pada kelangsungan hidup dan kemakmuran negara mereka,
seperti kompleks industri militer di Amerika. Namun sejak tahun 1980-an
ada pergulatan yang sengit antara fraksi yang lebih globalis dari elite
yang berkuasa yang menekankan kepentingan bersama bagi klas kapitalis
global dalam ekonomi dunia yang sedang tumbuh dan fraksi yang lebih nasionalis,
faksi hegemonis yang ingin menjamin supremasi kepentingan bersama Amerika
Serikat.
Seperti yang ditunjukkan oleh Robert Brenner, kebijakan-kebijakan Bill
Clinton dan Menteri Keuangan Robert Rubin memberikan tekanan utama pada
ekspansi ekonomi dunia sebagai basis bagi kemakmuran klas kapitalis global.
Misalnya, pada pertengahan tahun 1990-an, mereka mendorong kebijakan dolar
yang menguat yang dimaksudkan untuk merangsang pemulihan ekonomi Jepang
dan Jerman, sehingga mereka bisa berfungsi sebagai pasar bagi barang dan
jasa Amerika Serikat. Di lain pihak pemerintah Reagan sebelumnya yang
lebih nasionalis, telah memberlakukan kebijakan dolar yang melemah guna
memperoleh kembali tingkat persaingan ekonomi Amerika Serikat dengan mengorbankan
ekonomi Jerman dan Jepang. Bersama dengan George W. Bush, kembali kedalam
kebijakan ekonomi, yang menganut kebijakan dolar melemah, yang dimaksudkan
untuk menghidupkan kembali ekonomi Amerika Serikat atas biaya ekonomi
negara-negara lainnya dan mendorongkan terutama kepentingan elite perusahaan
Amerika dengan mengabaikan klas kapitalis global dibawah kondisi merosotnya
dunia.
Beberapa ciri pendekatan ini perlu ditekankan:
- Politik ekonomi Bush sangat waspada terhadap proses globalisasi yang
tidak dikelola oleh negara Amerika Serikat yang menjamin bahwa proses
itu tidak menyebarkan kekuatan ekonomi Amerika Serikat. Menyerahkan pasar
semata guna mendorong globalisasi bisa mengakibatkan perusahaan-perusahaan
kunci Amerika Serikat menjadi korban globalisasi dan akibatnya membahayakan
kepentingan-kepentingan ekonomi Amerika. Jadi, walaupun ada retorika pasar
bebas, kita memiliki kelompok yang sangat proteksionis ketika sampai pada
perdagangan, investasi dan manajemen kontrak-kontrak pemerintah. Tampaknya
semboyan pemerintah Bush adalah proteksionisme bagi Amerika Serikat dan
pasar bebas bagi negara-negara lain.
- Pendekatan Bush memperlihatkan kuatnya skeptisisme terhadap multilateralisme
sebagai cara pengelolaan ekonomi global karena multilateralisme bisa meningkatkan
kepentingan-kepentingan klas kapitalis global pada umumnya, yang dalam
banyak contoh, barangkali, bisa bertentangan dengan kepentingan-kepentingan
khusus perusahaan Amerika. Ambivalensi yang tumbuh di kalangan sahabat
Bush terhadap WTO berasal dari kenyataan bahwa Amerika Serikat telah kehilangan
sejumlah putusan disana, putusan-putusan yang bisa melukai modal Amerika
tetapi melayani kepentingan-kepentingan kapitalisme global sebagai keseluruhan.
- Bagi rakyat Bush, kekuatan strategis adalah modalitas
pokok dari kekuatan. Kekuatan ekonomi adalah alat untuk mencapai kekuatan
strategis. Ini berkaitan dengan kenyataan bahwa di bawah Bush, faksi dominan
dari elite yang berkuasa adalah penguasa industri militer yang memenangkan
perang dingin. Konflik antara para globalis dan unilateralis atau nasionalis
sepanjang poros ini terlihat dalam pendekatannya terhadap Cina. Pendekatan
globalis menekankan pada keterlibatan Cina, karena melihat kepentingan
utamanya sebagai wilayah investasi dan pasar bagi modal Amerika. Dilain
pihak, kaum nasionalis, melihat Cina terutama sebagai musuh strategis,
dan lebih baik dihambat ketimbang dimbantu pertumbuhan ekonominya.
- Tak ada guna dikatakan, paradigma Bush tidak menyediakan
ruang bagi manajemen lingkungan. Hal ini merupakan masalah yang harus
diwaspadai oleh negara-negara lain, kecuali Amerika Serikat. Sebetulnya
ada lobi bisnis yang kuat yang mempercayai bahwa masalah-masalah lingkungan
seperti yang menyertai GMOs adalah konspirasi Eropa untuk mencabut Amerika
dari segi teknologi tingginya dalam kompetisi global.
Jika hal ini dilihat sebagai premis untuk melakukan tindakan,
kemudian elemen-elemen utama kebijakan ekonomi Amerika baru-baru ini dapat
dimengerti. :
-Melakukan kontrol atas minyak Timur Tengah. Sementara Amerika
tidak ingin menyelesaikan perang dalam menginvasi Irak, melakukan kontrol
atas minyak Timur Tengah pastilah merupakan prioritas pertama. Persaingannya
dengan Eropa menjadi aspek utama hubungan trans-Atlantik, jelas ini sebagian
diarahkan pada Eropa. Tetapi barangkali tujuan yang paling strategis untuk
menguasai lebih dulu sumber-sumber daya wilayah tersebut guna mengontrol
akses bagi masuknya Cina yang miskin energi, yang dilihat sebagai musuh
strategis Amerika Serikat.
- Perlindungan yang agresif dalam masalah-masalah investasi
dan perdagangan. Amerika Serikat menumpuk-numpuk undang-undang proteksionis,
hal yang paling kurang ajar karena memperlambat setiap pergerakan pada
perundingan-perundingan WTO dengan mendewakan Penegakan Deklarasi Doha
tentang isu-isu kesehatan masyarakat pada hak kekayaan intelektuil dengan
membatasi kelonggaran hak-hak paten hanya pada tiga penyakit saja dalam
menanggapi lobi farmasi yang kuat. Sementara Amerika Serikat kelihatan
bersungguh-sungguh mau melihat perundingan-perundingan WTO selesai, Washington
berusaha mati-matian dalam mendaftarkan negara-negara kedalam perjanjian
dagang bilateral dan multilateral seperti FTAA (Perjanjian Perdagangan
Bebas Amerika) sebelum Uni Eropa melakukan perjanjian-perjanjian yang
serupa.
- Memasukkan pertimbangan-pertimbangan strategis dalam perjanjian
dagang. Dalam pidatonya baru-baru ini, Wakil Dagang Amerika Serikat Robert
Zoellick mengatakan dengan tegas bahwa “negara-negara yang ingin
mengadakan perjanjian perdagangan bebas dengan Amerika harus dapat memenuhi
kriteria lebih sekedar ekonomi dan perdagangan agar memenuhi syarat. Paling
tidak, negara-negara itu harus bekerja sama dengan Amerika Serikat berkenaan
dengan kebijakan luar negeri dan tujuan-tujuan ketahanan nasional, sebagai
bagian dari 13 kriteria yang akan memandu Amerika dalam memilih patner-patner
FTA yang potensial”. Selandia Baru, barangkali salah satu negara
yang paling getol menganut perdagangan bebas, sekalipun demikian Selandia
Baru tidak pernah diajak melakukan perjanjian perdagangan bebas oleh Amerika
karena memiliki kebijakan yang mencegah kunjungan-kunjungan kapal nuklir,
yang oleh Amerika dianggap mengarah padanya.
- Manipulasi nilai dolar untuk mematok biaya krisis ekonomi
terhadap rival-rival dikalangan negara-negara yang kuat ekonominya dan
meraih kembali tingkat kompetisi ekonomi bagi Amerika. Deprisiasi dolar
yang lambat dihadapan mata uang Euro dapat ditafsirkan sebagai penyesuaian
berdasarkan pasar, tetapi kemerosotan nilai sebesar 25 persen, paling
tidak, bukan hanya dilihat sebagai kebijakan yang agak diabaikan. Sedangkan
pemerintahan Bush telah mengeluarkan sangkalan-sangkalan bahwa ini bukan
merupakan kebijakan untuk merampok semua milikmu, Koran bisnis Amerika
melihatnya sebagai usaha untuk menghidupkan kembali ekonomi Amerika atas
biaya Uni Eropa dan ekonomi negara-negara lain.
- Manipulasi yang agresif terhadap agen-agen multilateral
untuk mendorong kepentingan modal Amerika Serikat. Sementara ini barangkali
tidak begitu mudah dicapai dalam WTO yang membebankan Uni Eropa, manipulasi
itu akan lebih siap dilakukan Bank Dunia, dan IMF dimana dominasi Amerika
Serikat lebih terlembagakan secara efektif. Misalnya, walaupun proposal
itu memperoleh dukungan dari setiap pemerintah Uni Eropa, Menteri Keuangan
Amerika Serikat baru-baru ini menggagalkan proposal manajemen IMF untuk
Mekanisme Restrukturisasi Utang Tertinggi (SDRM) yang memungkinkan negara-negara
berkembang melakukan restrukturisasi utang mereka sambil memberikan pada
mereka suatu langkah proteksi dari para kreditor. Mekanisme yang sudah
sangat lemah itu, SDRM diveto oleh Menteri Keuangan Amerika demi kepentingan
bank-bank Amerika.
- Akhirnya, dan terutama sejalan dengan diskusi-diskusi
kita mendatang, meminta negara-negara lain yang kuat ekonominya dan juga
negara-negara berkembang untuk menanggung beban penyelesaian krisis lingkungan.
Sementara beberapa orang Bush tidak mempercayai adanya krisis lingkungan,
pihak-pihak lain mengetahui bahwa tingkat emisi global karena efek rumah
kaca belakangan ini tidak tertahankan. Tetapi mereka ingin negara-negara
lain menanggung beban penyelesaian karena hal itu akan berarti bukan hanya
membebaskan Industri Amerika Serikat yang tidak efisien lingkungan dari
biaya penyelesaian, tetapi menjerat ekonomi negara-negara lain yang bahkan
dengan biaya lebih besar ketimbang jika Amerika Serikat ikut serta dalam
proses penyelesaian yang adil, sehingga memberikan pengaruh yang kuat
bagi ekonomi Amerika Serikat dalam persaingan global. Real politik ekonomi
yang nyata, bukan fundamentalis buta, terletak pada keputusan Washington
yang tidak menandatangani protocol Kyoto tentang perubahan iklim.
PERLUASAN POLITIK EKONOMI YANG BERLEBIHAN
Dengan memanfaatkan tujuan-tujuan yang strategis, setiap diskusi tentang
kemungkinan hasil kebijakan ekonomi pemerintahan Bush harus memperhitungkan
keadaan ekonomi Amerika dan ekonomi global dan gambaran strategis yang
lebih luas. Basis pokok bagi suksesnya manajemen imperium adalah perluasan
ekonomi nasional dan ekonomi global – suatu hal yang terhambat oleh
periode deflasi dan stagnasi yang meluas dimasa depan, yang lebih mungkin
memacu persaingan antar kapitalis.
Lagi pula, sumber daya bukan hanya meliputi sumber daya politik dan ekonomi
tetapi juga sumber daya politik dan ideologi. Karena tanpa legitimasi
– tanpa apa yang dinamakan Gramsci sebagai “konsensus”
dari negara-negara yang terkena dominasi bahwa sistem kekuasaan itu adil
– maka manajemen imperium tidak akan stabil.
Dihadapkan dengan persoalan serupa guna menjamin stabilitas kekuasaannya
yang berjangka panjang, Romawi kuno tampil dengan solusi yang menciptakan
apa yang kemudian menjadi masalah yang sangat jauh cakupannya yaitu loyalitas
massa kolektif atas apa yang telah dicapai yang kemudian memperpanjang
imperiumnya selama 700 tahun. Solusi Romawi tidak adil, atau bahkan sepak
terjangnya menggunakan prinsip militer. Bangsa Romawi menyadari bahwa
komponen yang penting bagi suksesnya dominasi imperium adalah konsensus
diantara bangsa-bangsa taklukan terhadap “kebenaran” tatanan
Romawi. Seperti yang ditulis oleh ahli sosiologi Michael Mann dalam karya
klasiknya Souras of Social Power, keputusan militer pengaruhnya tidak
sebesar keputusan politik. “Kerajaan Romawi” tulisnya, “berangsur-angsur
tersandung pada penemuannya akan kewarganegaraan wilayah yang luas”.
Perluasan kewarganegaraan Romawi untuk menguasai kelompok-kelompok dan
rakyat yang bukan budak di seluruh imperium merupakan terobosan politik
yang menghasilkan “barangkali, tingkat komitmen bersama yang paling
luas sekalipun dimobilisir”. Kewarganegaraan politik yang dipadukan
dengan visi imperium memberikan perdamaian dan kemakmuran bagi semua orang
guna menciptakan elemen moral yang tidak kelihatan tetapi esensial yang
dinamakan legitimasi.
Tak ada guna dikatakan, perluasan kewarganegaraan tidak memainkan peran
dalam tertib aturan imperium Amerika Serikat. Sebenarnya, kewarganegaraan
Amerika Serikat disediakan secara hati-hati bagi minoritas penduduk dunia
yang sangat kecil jumlahnya, siapa yang memasuki wilayahnya dikontrol
dengan ketat. Penduduk yang dikuasai tidak diintegrasikan tetapi diawasi
baik dengan kekerasan maupun ancaman kekerasan atau dengan sistem kelembagaan
dan perundang-undangan global atau regional WTO, BWS (Sistem Woods Breetton),
NATO – yang semakin dimanipulasi secara menyolok untuk melayani
kepentingan-kepentingan pusat imperium.
Walaupun perluasan sistem kewarganegaraan dunia tidak pernah menjadi alat
dalam gudang senjata imperium Amerika Serikat, selama perjuangannya melawan
komunisme dalam periode pasca Perang Dunia II, Washington tidak tampil
dengan formula politik guna melegitimasi jangkauan globalnya. Dua elemen
formula ini adalah suatu sistem pemerintahan global dan demokrasi liberal.
Dalam buntut langsung Perang Dunia II, sebenarnya ada harapan yang luas
tentang versi zaman modern dari Pax Romana. Ada harapan dalam lingkaran
liberal bahwa Amerika akan menggunakan sendirian status adikuasanya guna
menopang tatanan multilateral yang akan melembagakan hegemoninya tetapi
menjamin perdamaian Augustan di seluruh dunia. Itulah jalan menuju globalisasi
ekonomi dan pemerintahan multilateral. Itulah jalan yang dihapuskan oleh
Unilateralisme George W. Bush.
Seperti pengamat Frances Fitzgerald dalam bukunya Fire in the lake, janji
akan meluasnya demokrasi liberal adalah cita-cita yang sangat kuat yang
menyertai angkatan bersenjata Amerika selama perang dingin. Tetapi, saat
ini, demokrasi liberal tipe Westminster atau Washington menghadapi kesulitan
di seluruh dunia berkembang, dimana demokrasi sudah diredusir guna memberikan
ruang bagi kekuasaan oligarkis seperti di Filipina dan Pakistan sebelum
Musharraf dan di seluruh Amerika Latin. Sebenarnya demokrasi liberal di
Amerika telah menjadi kurang demokratis dan kurang liberal. Tentu saja
beberapa negara di dunia berkembang melihat sebuah sistem yang dikorupsi
dan digerakkan oleh korporasi uang sebagai model.
Pemulihan pandangan moral yang dibutuhkan untuk menciptakan konsensus
bagi hegemoni Amerika Serikat akan sulit sekali. Tentu saja, pandangan
Washington saat-saat ini adalah bahwa ancaman penggunaan kekerasan merupakan
pembangun konsensus yang paling efektif. Lagiipula walaupun mereka bicara
tentang pembebanan demokrasi di dunia Arab, tujuan utama dari para penulis
neo-konservatif yang berpengaruh seperti Robert Kagan dan Charles Kranthammer
adalah transparan : manipulasi terhadap mekanisme demokrasi liberal untuk
menciptakan kompetisi yang beragam yang akan menghancurkan persatuan Arab.
Membawa demokrasi ke Arab tidak sebagaimana gagasan yang timbul kemudian
sebagai slogan sindiran.
Rakyat pengikut Bush tidak ingin menciptakan Pax Romana baru. Apa yang
mereka inginkan adalah sebuah Pax Amerikana dimana sebagian besar penduduk
yang dikuasainya seperti Arab diawasi secara ketat sekali oleh kekuasaan
Amerika, sementara kesetiaan kelompok-kelompok seperti pemerintah Filipina
dibeli dengan janji memperoleh bantuan uang dengan. Manajemen imperium
dengan visi yang tidak bermoral untuk mengikat mayoritas global ke pusat
imperium, seperti ini, hanya bisa mengilhami satu hal : perlawanan.
Masalah besar unilateralisme adalah perluasan yang berlebihan, atau pertarungan
yang berat sebelah antara tujuan Amerika Serikat dan sumber daya yang
dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Perluasan yang berlebihan
sifatnya relative. Itulah pentingnya fungsi perlawanan. Sesungguhnya,
kekuasaan yang terlalu besar barangkali berada dalam keadaan yang lebih
buruk sekalipun ada peningkatan yang signifikan dalam kekuatan militer
apabila perlawanan terhadap kekuasaan itu meningkat bahkan dengan derajat
yang lebih tinggi. Diantara indikator penting perluasan Amerika Serikat
yang berlebihan adalah sebagai berikut:
- Ketidakmampuan Washington secara terus menerus untuk menciptakan
tertib politik baru di Irak yang akan berfungsi sebagai fondasi yang aman
bagi kekuasaan colonial.
- Kegagalannya untuk mengonsolidasi rejim pro Amerika di Afganistan di
luar kota Kabul.
- Ketidakmampuan sekutu kunci, Israil, untuk mengakhiri pemberontakan
rakyat Palestina, sekalipun memperoleh dukungan Amerika Serikat yang tidak
terbatas.
- Bergeloranya sentimen kaum Muslim dan bangsa Arab di Timur Tengah, Asia
Selatan dan Asia Tenggara yang menghasilkan prestasi ideoligis bagi fundamentalis
Islam – yang paling diharapkan oleh Osama bin Laden.
- Jatuhnya aliansi Atlantik dalam perang dingin dan munculnya aliansi
pengimbang yang baru, dimana Jerman dan Perancis sebagai pusat kekuatan
aliansi tersebut.
- Penempaan gerakan masyarakat sipil yang kuat di seluruh dunia dalam
melawan unilateralisme, militerisme dan hegemoni ekonomi, ekspresinya
yang paling signifikan baru-baru ini adalah pergerakan anti perang secara
global.
- Menguatnya gerakan anti neo-liberal, anti Amerika Serikat di panggung
belakang Washington sendiri – Brazil, Venezuele, dan Ekuador ketika
pemerintahan Bush sibuk dengan Timur Tengah.
- Dampak militerisme yang kian negatif terhadap ekonomi Amerika Serikat,
ketika belanja militer tergantung pada defisit pengeluaran, dan defisit
pengeluaran semakin tergantung pada keuangan yang diperoleh dari sumber-sumber
yang ada di luar negeri, yang menciptakan stres dan ketegangan dalam ekonomi
yang sudah sekarat.
Kesimpulannya, proyek globalis sedang mengalami krisis.
Apakah proyek globalis itu bisa kembali muncul lewat pemilihan presiden
dari Partai Demokrat atau Partai Republik yang liberal sebaiknya jangan
dikesampingkan, terutama sejak adanya suara-suara globalis yang berpengaruh
dalam komunitas bisnis Amerika – diantaranya George Soros –
yang menyatakan perlawanannya terhadap dorongan unilateralis dalam pemerintahan
Bush. Dalam pandangan kami, tapi, ini tidak mungkin, dan unilateralisme
suatu waktu akan datang. Pendek kata kita telah memasuki bencana sejarah
yang ditandai oleh krisis ekonomi yag berkepanjangan, merebaknya perlawanan
global, munculnya kembali imbangan kekuatan di antara negara-negara inti,
dan timbulnya kembali kontradiksi-kontradiksi antara negara imperialist
yang akut. Kita perlu menaruh hormat pada kekuatan Amerika, tetapi tidak
perlu berandai-andai. Ada tanda-tanda bahwa Amerika Serikat secara serius
melakukan ekspansi yang berlebihan dan apa yang kelihatannya merupakan
manifestasi dari kekuatannya, barangkali sesungguhnya menandai kelemahannya
secara strategis.
|