Pertemuan Organisasi Perdagangan
Dunia (WTO) pada bulan September di Cancun lagi-lagi akan memperlihatkan
betapa sedikit yang diperoleh Benua Afrika dari liberalisme perdagangan.
Ini bukan persoalan jangka pendek, tapi merupakan sesuatu yang mencerminkan
persoalan jangka panjang yang berkaitan dengan globalisasi. (1) juga mencerminkan
sikap Afrika Selatan yang kontradiktif, yang menterinya di bidang perdagangan
Alec Erwin telah mencapai posisi yang sangat penting sebagai juru runding
Dunia Ketiga yang kerjanya melawan kepentingan-kepentingan Dunia Ketiga.
Seperti yang terjadi dalam Konferensi Tingkat Tinggi WTO di Doha sebelumnya,
Erwin akan aktif memutar lengan dan menawarkan komentar yang menyejukkan
kepada media internasional. Tetapi pada sebagian besar isu-isu penting,
bila beberapa tahun belakangan ada pemandu, Amerika Serikat dan Uni Eropa
akan melibas Afrika, atas petunjuk Erwin.
Tidak ada perdebatan tentang besarnya persoalan, walaupun interprestasi-interprestasi
berbeda secara menyolok tentang apakah penyakit globalisasi bisa disembuhkan
setidak-tidaknya dengan globalisasi. Sumbangan Afrika terhadap perdagangan
dunia merosot selama seperempat abad terakhir, sementara volume ekspornya
meningkat. Tidak ada benua yang berorientasi ekspor seperti Afrika. Karena
itu ‘majinalisasi’ terjadi bukan karena kurangnya integrasi
(seperti yang sering dituduhkan oleh neoliberal), tetapi karena pengaruh
wilayah dunia lainnya – terutama Asia Timur – yang bergerak
ke arah ekspor barang-barang manufaktur, sementara industri Afrika yang
potensial mengalami kemerosotan berkat deregulasi yang berlebihan yang
berkaitan dengan penyesuaian struktural. (2) Dalam proses itu, intregasi
perdagangan yang pesat menimbulkan ketimpangan sosial, suatu cara yang
sekarang diterima dimana-mana bahkan oleh Staf Bank Dunia yang jujur.
Menurut ahli ekonometri utama pada lembaga yang mengkaji ketimpangan,
Branco Milanovic, ‘pada tingkat pendapatan yang rata-rata sangat
rendah, orang kayalah yang diuntungkan dari keterbukaan …….
Tampaknya keterbukaan menyebabkan distribusi pendapatan lebih buruk sebelum
membuat distribusi lebih baik! (3)
Keterbukaan sejak akhir tahun 1970-an mempunyai dampak yang merusakkan.
Turunnya indeks harga bagi komoditas utama (non-migas) merosot sangat
dramatis dari tahun 1977 sampai 1982, sementara harga-harga ekspor dari
negara-negara maju naik dengan stabil. Selama tahun 1982 – 1990
perluasan global, hubungan-hubungan dagang negara-negara Dunia Ketiga
merosot secara menyolok, sebanyak 4 persen pertahun. Kemerosotan itu banyak
disebabkan oleh jatuhnya harga minyak yang betul-betul dirasakan mulai
tahun 1986, tetapi negara-negara Dunia Ketiga yang tidak memproduksi minyak
juga mengalami kemerosotan harga-harga tahunan sebanyak 1,5 persen dari
harga-harga ekspor relatif terhadap impor (dibandingkan dengan harga impor).
Kecenderungan ini berlanjut sesudah resesi dunia 1990 – 1992, yang
menyebabkan harga-harga komoditi mereka berada pada level terendah sejak
terjadi Depresi Besar. (4)
Dalam hubungan-hubungan sejarah yang lebih luas, harga-harga komoditi
primer (selain bahan bakar) telah mengalami naik turun sesuai dengan irama
yang lebih dalam (deeper rhythm). Pengekpor barang komoditi primer, misalnya,
berjalan dengan sangat jelek ketika para pemodal menjadi sangat kuat.
Siklus itu secara khas meliputi jatuhnya harga-harga komoditas, naiknya
utang luar negeri, kenaikan suku bungan secara dramatis, intensifikasi
ekspor yang menyedihkan yang malah menurunkan harga-harga lebih lanjut,
dan kebangkrutan. Kecenderungan merosotnya hubungan-hubungan dagang sangat
merusakkan karena adanya ketergantungan dunia yang sangat besar pada beberapa
komoditi ekspor. Negara-negara berikut ini menanggung derita karena mengandalkan
pada satu produk untuk setidaknya 75% dari pendapatan mereka: Angola,
Botswana, Burundi, Kongo, Gabon, Guinea, Niger, Nigeria, Somalia, Uganda,
dan Zambia. Hanya beberapa negara yang memperbanyak ragam ekspor mereka
sehingga mereka mengklaim paling tidak 25% pendapatan ekspor mereka yang
berasal lebih dari empat produk adalah Gambia, Losotho, Afrika Selatan,
Swaziland, Tanzania, dan Zimbabwe. Umumnya di seluruh Afrika, empat produk
atau lebih merupakan tiga perempat dari pendapatan ekspor. Lebih dari
tiga perempat perdagangan Afrika dilakukan dengan negara-negara maju.
Strategi pertumbuhan yang diarahkan untuk ekspor yang benar-benar dianut
sejak akhir tahun 1970-an oleh negara-negara Dunia Ketiga berarti bahwa
harga saham pasar Afrika terhadap koka turun dari 75% menjadi 58%, minyak
kelapa turun dari 58 menjadi 18%, dari 48 menjadi 36%, kopi dari 35 menjadi
20%, minyak mentah dari 15 menjadi 8%, kapas dari 12 menjadi 7%, dan tembaga
dari 10 menjadi 6%. Studi yang paling jauh jangkauannya tentang hubungan-hubungan
dagang menunjukkan hilangnya pendapatan selama tahun 1970-an dan 1980-an
hampir 4% dari GDP, hamper dua kali lipat tingginya kerugian dibanding
dengan negara-negara lain. (5) Sekalipun demikian jatuhnya harga-harga
dan pasar saham, sebenarnya tidak ada ekonomi Afrika yang perlu digeser
dari ketergantungannya pada ekspor komoditas primer.
ALIANSI UNTUK PERUBAHAN HUBUNGAN-HUBUNGAN DAGANG
Selain para pejabat perdagangan Afrika, justru ada orang lain peduli –
yang kebanyakan turun ke jalan-jalan pada pertemuan-pertemuan yang berkaitan
dengan Perjanjian Umum tentang Tarif dan Perdagangan (GATT) dan penggantinya
WTO. Di Bangalore, lebih dari setengah juta petani melakukan demonstrasi
pada tahun 1994 untuk menentang ketentuan-ketentuan GATT yang akan membatasi
akses mereka terhadap padi-padian, dan banyak kerusuhan menentang IMF
terjadi karena timpangnya perdagangan, cepat-cepat dihapuskannya subsidi
dan proteksi terhadap barang impor selama tahun 1980-an- 1990-an. Ketegangan-ketegangan
mengemuka pada pertemuan WTO di Seattle pada bulan Desember 1999. Bukan
hanya masalah demokrasi, lingkungan, kondisi buruh, hak masyarakat adat,
dan perjuangan sosial lainnya yang tidak ditangani secara serius oleh
para juru runding perdagangan, tuduh para demonstran. Para delegasi Dunia
Ketiga sangat teralinasi dari diskusi-diskusi tingkat tinggi di ‘Ruang
Hijau’ yang diselenggarakan oleh kelompok pilihan dari delegasi
yang berpengaruh seperti Amerika, Uni Eropa, Jepang, Kanada, Korea Selatan,
Singapura, India dan Afrika Selatan. (6)
Khususnya perlakuan tidak hormat, terutama terhadap delegasi Afrika, mangakibatkan
‘penolakan secara formal terhadap konsensus’ Afrika dan Negara-negara
Dunia Ketiga lainnya. (7) Para juru runding setingkat Menteri dari kelompok
Afrika menggunakan bahasa yang keras karena kurangnya transparansi, yang
sedikit berhasil diperlunak oleh Erwin, walaupun ia tidak bisa membujuk
delegasi-delegasi dari benua itu bahwa perundingan-perundingan Ruang Hijau
demi kepentingan mereka. Pernyataan pleno yang terakhir dari Erwin di
Seattle mengutuk para demonstran masyarakat sipil dan juga pemerintah
Amerika Serikat, karena manajemennya yang buruk! Secara tajam dan terang-terangan
ia salah menafsirkan, protes-protes itu ‘dirancang (demikian) untuk
memberikan beberapa wawasan kepada kita dalam bentuk tekanan-tekanan’
pada juru runding dari negara-negara Utara dari konstituen mereka sendiri.
(8)
Erwin bukanlah satu-satunya pemimpin yang pemarah dari Pretoria. Seperti
yang diceritakan oleh Menteri Keuangan Afrika Selatan Manuel Irevor pada
seminar sebelas bulan kemudian, dalam pidato yang dipersiapkan yang mencerminkan
kurangnya pengertian tentang konflik Seattle, ‘bila pemerintah-pemerintah
dan masyarakat sipil dari dunia maju serius memerangi kemiskinan dunia,
mereka lebih nyaman minum obat “perdagangan bebas” yang mereka
rumuskan sedemikian liberalnya pada dunia berkembang! (9) Dengan jitu
ingatan-ingatan itu sifatnya selektif pada masalah ini. Dalam wawancara
pada tahun 2000 Menteri lingkungan Valli Moosa mengakui, ‘Seattle
jelas-jelas mengetuk perasaan kita di negara-negara berkembang, bahkan
di tingkat pemerintah. Dengan jujur, terbuka, orang-orang di jalanan Seattle
itu berbicara bagi kita’ (maksud Moosa adalah untuk membedakan antara
para demonstran yang baik di Seattle dari para demonstran yang jelek pada
KTT Bumi tentang Pembangunan Berkelanjutan di Yohannesburg yang ‘mencoba
meniru peristiwa dramatis di Seattle, dalam konteks yang sama sekali salah
! (10).
Ketegangan antara Erwin disatu pihak, dan para juru runding Afrika dan
aktivis masyarakat sipil dipihak lain, timbul sebelum dan setelah pertemuan
Doha. (11) Seperti dikatakan oleh Dot Keet, analis perdagangan dari Alternative
Information and Development Center (AIDC yang berkantor di Cape Town)
‘Dalam pertemuan Seattle dan sesudahnya, Pretoria gagal menggunakan
bobot moral politiknya dan pujian demokrasinya untuk memprioritaskan secara
aktif pembaharuan-pembaharuan kelembagaan yang nyata sebagai pra-kondisi
yang sangat perlu bagi diskusi-diskusi lainnya di WTO!
Erwin juga gagal dengan menerima posisi sebagai ‘Kawan Ketua’
dalam apa yang dilukiskan oleh Keet sebagai ‘proses Doha yang bahkan
lebih tidak adil sama sekali dan tidak demokratis ! (12) Deklarasi Puncak
Masyarakat Pipil Afrika mengulangi hal ini pada bulan Juni 2003 : ‘Praktek-praktek
manipulatif dan tidak demokratis seperti pengangkatan Kawan-kawan Ketua
dalam kelompok-kelompok kerja informal yang dimulai di Doha, yang membuat
keputusan-keputusan tidak demokratis tentang isu-isu penting, sedang dilembagakan
di WTO dalam perjalanan menuju Cancun ! (13)
Ketika agenda konferensi Doha pada bulan November 2001 muncul, para kritikus
gerakan sosial bersatu dengan para delegasi Afrika yang lebih ambisius.
Erwin memandang alasan-alasan mereka dengan hina: para delegasi dari Afrika
dan Dunia Ketiga lainnya, ‘semata-mata hanya mengartikulasikan sikap-sikap
dasar mereka secara ekstrim dan sangat jarang beranjak malampaui wilayah
itu! (14) Pretoria memilih bekerja bahu membahu dengan Mesir, walaupun
delegasi-delegasi tingkat Menteri Afrika yang lebih agresif – dan
katanya paling efektif – pada pertemuan-pertemuan WTO adalah berasal
dari Nigeria, Tanzania, Uganda, Kenya, dan Zimbabwe. Selama lima bulan
sebelum pertemuan Doha, beberapa pertemuan regional diadakan dimana Erwin
mencoba mengemukakan sikap pro-WTO (‘putaran baru’ atau ‘agena
yang basisnya luas’) : Pretoria (Para Menteri Perdagangan Masyarakat
Pembangunan Afrika Selatan), Zanzibar (para Menteri Perdagangan LDC),
Cairo (para Menteri Perdagangan COMESA), (15) dan Abuja (para Menteri
Perdagangan Afrika). (16).
Ada beberapa pertanyaan, kurang dari dua bulan setelah serangan teroris
tanggal 11 September, apakah Doha akan mengalami penyerangan. Pemerintah
Amerika Serikat dan perusahaan-perusahaan multinasionalnya yang terkemuka
bersedia mati-matian, secara stilis, mempertahankan keraguannya terhadap
kerjasama internasional. Berkenaan dengan isi, perjanjian Doha, memperkuat
agenda perdagangan bebas yang telah menggerakkan ketidakadilan, ketimpangan,
kerusakan ekologi dan penderitaan perempuan yang hebat selama beberapa
dekade sebelumnya. Raj Petel dari SEATIWI menjelaskan bahwa perjanjian
yang menambah banyak wilayah baru tentang liberalisasi perdagangan dan
investasi – akan memiliki pengaruh guna menggertak negara-negara
yang paling lemah di dunia:
“Di Seattle pemerintah dari negara-negara belahan Selatan menolak
menandatangai deklarasi bukan karena mereka menentang masuknya neo-liberalisme
dan penyimpangan kelas elite yang muncul bersamanya, tetapi karena mereka
telah diperlakukan secara kasar. Para delegasi tidak dapat memasuki pertemuan-pertemuan,
dan tim perundingan dari Amerika Serikat telah merampok rasa inferior
negara-negara Selatan dengan terang-terangan ……….”
“Sebaliknya, di Doha, Wakil Dagang Amerika Serikat Robert Zoellick
adalah seorang agen, makelar perjanjian, pedagang konsensus. Rasa rendah
diri yang barusan ditemukan ini dengan jelas menekan “kenop”
para elite negara berkembang. Sehingga mereka menandatangani perjanjian.
Ini tidak mengherankan. Ini adalah kaum elite yang memeras dan merampas
mayoritas rakyat di negara-negara mereka sendiri. Sukar dimengerti mengapa
mereka ditempatkan di hotel berbintang lima dan dibuat merasa penting
sehingga barangkali mereka agak sulit disuap.
Kebanyakan pemerintah negara berkembang belum mengambil sikap yang tegas
terhadap neo-liberalisme. Dan para pejabat mereka masih bergulat dengan
isu-isu dan berulang-ulang menjelaskan dengan gamblang: neo-liberalisme
sedang membunuh para konstituen mereka. Dalam perjalanan menuju pertemuan
puncak tingkat menteri, kelompok Afrika mengusulkan agar ‘pematenan
keragaman hayati dilarang saja sebaiknya’ dan Perjanjian Dagang
tentang Hak Kekayaan Intelektual supaya’ jangan menghalangi para
Negara Anggota dalam mengambil langkah-langkah untuk melindungi kesehatan
masyarakat! (18) Berkat tekanan para aktivitas di tingkat akar rumput
(grass root) yang besar dan konsisten, setidak-tidaknya, tuntutan yang
kedua ini membuat Amerika, Jepang dan Uni Eropa menyerah. (19)
Ada juga serangan yang gagal yang diarahkan pada Perdagangan Umum dalam
Perjanjian dibidang Jasa-jasa. Para pejabat dari kelompok yang memiliki
kepentingan sama (LMG), ditambah kawan-kawan baru Kuba, Haiti, India,
Kenya, Peru dan Venezuela menawarkan kritik yang menggugah tentang perjanjian
jasa-jasa yang penting untuk dikutip secara panjang lebar. Kelihatannya
ini kasus langka dimana para elite Dunia Ketiga berbicara benar kepada
penguasa (meskipun mereka remuk dalam tekanan pada saat-saat terakhir)
:
“Negara-negara berkembang jelas-jelas tidak memperoleh keuntungan
yang mereka harapkan. Negara-negara maju terus-menerus memperketat peraturan
dengan cara mempertahankan kendala-kendala perdagangan terutama dalam
beberapa sektor yang menyangkut kepentingan-kepentingan negara-negara
berkembang. Misalnya, standar-standar teknis dan perijinan dalam jasa-jasa
professional tertentu, digunakan secara efektif untuk membatasi masuknya
negara-negara berkembang kedalam industri …….
“Prakarsa-prakarsa regulasi yang diambil oleh negara-negara berkembang
tampaknya sudah memiliki dampak negatif bagi mereka karena banyak negara
berkembang telah mengadopsi peraturan-peraturan yang ternyata lebih disesuaikan
dengan kebutuhan dan tingkat pengembangan industri jasa di negara-negara
maju ……..
“Ada bahayanya bahwa re-regulasi yang dianjurkan dalam pasal VI
sebenarnya bisa berubah menjadi deregulasi (dan hal ini) secara mendasar
bisa bertentangan dengan syarat atau keinginan banyak pemerintah dalam
menyediakan jasa-jasa publik yang mendasar bagi rakyatnya, terutama karena
sebagian dari penduduk mereka tidak mampu membayar harga pasar untuk jasa-jasa
ini…
“Banyak pasar jasa dikuasai hanya oleh sedikit perusahaan besar
dari negara-negara maju dan sejumlah kecil pemain. 20 pengekspor jasa
teratas terutama berasal dari negara-negara maju ….
“Liberalisasi dalam keadaan persaingan yang timpang telah memperburuk
pembagian kapasitas pemasokan antara negara-negara maju dan negara-negara
berkembang …….
“Para pemasok kecil dari negara-negara berkembang juga dirugikan
dengan cara lain, seperti melalui akses terhadap saluran informasi dan
jaringan distribusi yang diskriminatif …….
“Dalam kondisi-kondisi liberalisasi, privatisasi jasa-jasa bisa
terjadi dengan sangat mudah karena perusahaan-perusahaan asing yang lebih
kompetitif kemungkinan bisa memasuki pasar baru dan mengambil alih dari
perusahaan lokal. Ini memiliki konsekuensi pada akses terhadap jasa-jasa
dasar bagi mereka yang mungkin tak mampu membayar harga-harga jasa komersial.
“Lagipula, ketika investasi masuk tidak ditanamkan pada sektor-sektor
yang paling menguntungkan bagi negara tuan rumah ….
“Pada sektor-sektor pedesaan di banyak negara berkembang, pelayanan-pelayanan
dasar tidak diberikan oleh Negara, tapi disediakan oleh masyarakat dan
penguasa lokal yang saat ini memakai sumber-sumber daya yang sama seperti
air, mineral, bahan bakar ……
“Melalui marketisasi, barang-barang publik yang sebelumnya tersedia,
hilang dari jangkauan banyak orang ketika barang-barang ini dibatasi dalam
proses privatisasi. Pengalaman beberapa Negara berkembang dengan penyesuaian
struktural telah menunjukkan bahwa segmen- segmen besar penduduk mengalami
kesulitan yang serius dalam memperoleh akses terhadap komoditas-komoditas
dasar dengan harga yang dapat mereka jangkau! (20)
Perlawanan lain dilakukan, dan kalah di Doha melawan negara-negara terkemuka
diatas, dan El Salvador, Honduras, Nikaragua, Nigeria, Senegal, dan Sri
Lanka – peduli pertanian :
“Pembicaraan-pembicaraan ini tetap didominasi oleh Uni Eropa disatu
pihak, dan Amerika Serikat dan kelompok Cairns yang terdiri dari negara-negara
pengekspor dipihak lain. Akibatnya, perundingan-perundingan ini telah
mengabaikan keprihatinan negara-negara berkembang tentang persoalan-persoalan
yang dihadapi oleh para petani gurem kami yang hidup secara subsistn ……
Karena sebelum pertemuan Seattle, kami telah mendesakkan ‘Kotak
Pembangunan’ (Development Box) untuk WTO seharusnya menjamin keadilan
dalam perdagangan, tetapi dalam prakteknya sistem perdagangan pertanian
pada saat ini melegitimasi ketidakadilan, misalnya, dengan membiarkan
adanya dumping produk-produk pertanian dari negara-negara Utara”.
(21)
Dunia ketiga bertekuk lutut pada kesempatan ini, dan tentunya, kapan saja
Amerika Serikat dan Uni Eropa mempertahankan dengan kuatnya hubungan perdagangan
yang tidak adil itu. Selain dari konsesi obat-obatan (kemenangan yang
terlalu banyak makan korban bagi Afrika Selatan, sebagaimana dicatat di
bawah), suatu alasan mengapa Doha memberikan kekalahan-kekalahan sistematik
bagi Dunia Ketiga adalah karena Alec Erwin telah memperoleh apa yang dikatakan
oleh Mike Moore, Direktur Jenderal WTO yang berikutnya sebagai, ‘kepemimpinan
Afrika yang sangat bermanfaat’ (22) Seseorang diperlukan untuk mencerai-beraikan
(demobilize) pengorganisasian kelompok-kelompok masyarakat sipil dan negara
di Afrika yang kebal yang menentang naskah yang akan dipertimbangkan pada
pertemuan puncak tingkat menteri. (23) Secara terbuka Erwin mengakui,
‘pendekatan kami secara utuh adalah untuk mempertahankan keseimbangan
dalam naskah itu secara utuh’, (24) dan ia dijadikan kawan Ketua
bagi tujuan ini, yang bertanggung jawab untuk melakukan perundingan undang-undang
WTO. Para kritikus masyarakat sipil menyebutnya (dia) salah satu dari
lima ‘orang hijau’, karena fungsi kawan-kawan ketua WTO adalah
menggunakan tempat Ruang Hijau yang dibenci.
Berkat orang-orang Hijau yang liat di WTO, modus operandinya sedikit berubah
dari Seattle, tetapi elite lingkaran dalam tetap mempertahankan berbagai
sumber kekuasaan untuk melawan mayoritas dunia. Para delegasii yang menolak
diancam bahwa preferensi dagangnya akan dicabut. Pada suatu kesempatan,
microphone yang masih hidup itu diambil dari diskusi Moore yang difasilitasi
menteri perdagangan Qatari guna menghentikan delegasi dari India agar
tidak berbicara.
Analis perdagangan utama pada lembaga Save the Children, di Inggris, John
Hillary, menyimpulkan bahwa ‘Gertakan dan pemerasan telah menjadi
bagian integral dari kerja WTO, sebagaimana kita melihat semuanya begitu
jelasnya pada pertemuan tingkat menteri di Doha. Berkali-kali negara-negara
berkembang terpaksa melepaskan posisi perundingan mereka karena mendapat
ancaman ekonomi, ancaman politik, bahkan ancaman pribadi terhadap delegasi-delegasi
mereka. (25) Aileen Kwa dari Focus on the Global South melaporkan bahwa
“apa yang mematahkan Afrika dalam dua hari terakhir, adalah ketika
Amerika Serikat dan Uni Eropa mengontak kepala negara seperti Presiden
Obasanjo dari Nigeria dan para pemimpin Afrika lainnya. Ini menyebabkan
para delegasi di Doha mendapat telepon dari ibukota negara mereka. Sementara
Nigeria yang sebelumnya begitu teguh perlawanannya, tiba-tiba diam saja
dalam pertemuan terakhir pada tanggal 13 November.” (26)
Alasannya telah disiapkan ketika Erwin menemui kelompok negara-negara
Afrika ACP dan LDP (negara-negara terbelakang). Pada hari terakhir masa
perundingan di Doha. Menurut Keet, ia “menasehati negara-negara
Afrika tersebut bahwa ia tidak ada pilihan lain kecuali menerima naskah
tersebut, yang merupakan ‘hasil terbaik barangkali dalam keadaan
seperti itu’. Menurut para peserta dan saksi mata, ada sejumlah
jawaban kemarahan terhadap menteri dari Afrika Selatan itu, bahkan beberapa
orang bertanya secara retorik siapa yang dia wakili dan kepentingan siapa
yang dia layani …. Pertemuan bersama itu bubar cerai-berai. Ini
merupakan maneuver terakhir yang menyemburkan perlawanan dari kelompok
utama negara-negara berkembang yang diharapkan oleh banyak orang bakal
mengulang peran mereka di Doha pada pertemuan di Seattle nanti. Ini tidak
akan terjadi : Tetapi semua tekanan dan bujuk rayu, manipulasi dan manuver
hanya berhasil menyelamatkan apa yang dicirikan oleh MEP Eropa sebagai
‘setuju tapi diam-diam marah ! (27)
AFRIKA SELATAN DIBAWAH IMPERIUM
Agenda Erwin sendiri di Doha pertama kali diekspose kepada khalayak setempat
dalam mingguan Mail and Guardian yang terbit di Yohannesburg, yang melaporkan
bahwa sekalipun ‘Afrika memperoleh suap berupa janji kepada dunia
berkembang untuk membantu meningkatkan kapasitasnya’, keseluruhan
hasilnya negatif. Munculnya manipulasi yang dilakukan sub-imperium bahkan
diakui oleh lembaga pemikir (think-tank) yang terkenal buruk reputasinya
di Yohannesburg karena menghasut Pretoria untuk memainkan peranannya dengan
tepat, menurut Mail dan Guardian.
"Strategi orisinil kebanyakan negara-negara Afrika, sejalan dengan
kebanyakan dunia berkembang, adalah merintangi ‘putaran perundingan-perundingan
WTO yang baru sampai dibicarakannya isu-isu - yang belum terselesaikan
setelah putaran Uruguay 1986-1994 dan dirasakan sebagai hal yang esensial
guna mendorong kepentingan dunia berkembang dalam sistem perdagangan dunia.
Tetapi, bagaimanapun juga, pada malam pertemuan tingkat menteri WTO yang
ke empat, yang diadakan di Doha dari tanggal 9-13 November, pemerintah
Afrika Selatan mulai melakukan kampanye besar-besaran untuk mengajak negara-negara
Afrika guna mempertimbangkan, sebuah putaran perundingan perdagangan WTO
yang baru.
"Pemerintah Afrika Selatan berhasil menggandeng SADC tetapi gagall
mencapai konsensus dengan negara-negara Afrika lainnya, kata Lembaga Masalah-masalah
Internasional Afrika Selatan ........ Situasi ini, kata peneliti lembaga
itu, Carin Voges, ‘barangkali menandakan bagi kelompok negara-negara
Afrika bahwa Afrika Selatan, pemimpin terkemuka benua itu, tidak memiliki
kepentingan terbaik mereka dalam batinnya, dengan demikian mengkompromikan
masa depan kelahiran kembali bangsa Afrika’. (28)
Sementara itu, Erwin melukiskan ‘Agenda Pembangunan di Doha’,
- untuk semua tujuan praktis ‘putaran baru itu’ ditentang
keras oleh para kritikus WTO dari masyarakat sipil dan negara-negara Afrika
– sebagai sebuah prestasii yang fantastis! (29) Ini berarti, menurut
reporter Business Day yang aneh, bahwa Afrika Selatan sekarang menjadi
bagian dari Lima Besar (The Big Five) perdagangan global (bersama Amerika,
Uni Eropa, Jepang dan Canada). (30)
Dalam kenyataan, Keet menyimpulkan, ‘peran Afrika Selatan tidak
banyak menjembatani antara negara-negara maju dengan negara-negara berkembang,
tetapi lebih merupakan jalan untuk mengalirkan pengaruh dari negara maju
ke negara berkembang! (31) Demikian juga, analis yang pro-WTO Peter Draper
memperingatkan kemungkinan ‘kecurigaan bangsa Afrika’ terhadap
Erwin yang semakin memburuk dalam perjalanan menuju pertemuan puncak berikutnya
di Cancun dengan adanya kepentingan yang berbeda-beda akan sulit bagi
Afrika Selatan untuk membangun dan mempertahankan posisi-posisi Afrika
bersama secara kooperatif dalam perundingan-perundinganWTO’ (32)
RASA SYUKUR AMERIKA SERIKAT/UNI EROPA
Tetapi agenda Erwin tidak berhasil – pada masanya sendiri yang terbatas
sekalipun. Dihadapkan dengan serangan gencar proteksionis dari Amerika
Serikat beberapa minggu saja setelah pertemuan Doha – subsidi-subsidi
pertanian dan tariff baja, pakaian, sepatu yang besar sekali yang menginginkan
tuntutan-tuntutan terhadap kemajuan pada pertemuan puncak WTO –
menteri perdagangan Pretoria mengumumkan aliansinya dengan Brazil, Australia,
dan 18 negara dari kelompok Cairns yang mengekspor makanan : ‘Kita
akan melawan mati-matian’. (33) Tetapi setahun kemudian Erwin mengalami
kebingungan dan kalah, posisi itu sangat tidak menguntungkan. Saya kira
kita sedang menuju saat yang sulit sekali di Cancun ! (34) Pada tahun
2002, batas waktu (deadline) lainnya juga dihabiskan oleh para juru runding
perdagangan yang berkaitan dengan perlakuan istimewa (special and differential
treatment) yang dikehendaki oleh Dunia Ketiga dan kebutuhan sektor kesehatan
agar dibebaskan dari ketentuan-ketentuan paten farmasi yang diatur pada
Perdagangan dalam Hak Kekayaan intelektual (Haki). Bahkan pada pertengahan
tahun 2003, masih ada peraturan yang tidak jelas, sebuah naskah ketua
dii Cancun diselipkan pada delegasi-delegasi Cancun (yang semestinya ketua
memfasilitasi naskah anggota), dan undangan yang hanya ditujukan pada
pertemuan mini tingkat menteri lebih lanjut akan menggerogoti legitimasi
proses-proses pembuatan keputusan.
Kesulitan-kesulitan menghadapi Amerika Serikat khususnya, tampak jelas
selama periode pasca Doha. Wakil Menteri Keuangan Amerika John Toylor
menjelaskan kemunafikan rejim Bush yang sangat berubah-ubah, kita melangkah
kedepan dan mundur lagi. Selalu begitulah masalahnya! (35) Tepat sebelum
pertemuan puncak G8 di Evian, Perancis, Bush dan Blair mengumumkan perlawanan
mereka terhadap rencana tuan rumah, Presiden Jacques Chirac guna menghentikan
“dumping” makanan Eropa yang bersubsidi di Afrika. (36) Tetapi
Bush mengusulkan dinaikkannya subsidi yang berkaitan dengan bantuan pada
ekspor pertanian oleh pemerintahannya sendiri dan juga mengatakan bahwa
‘pemerintah negara-negara Eropa harus bergabung – jangan merintangi
– maksud besar guna mengakhiri kelaparan di Afrika’, dengan
menurunkan subsidi-subsidi pertanian di dalam negeri mereka sendiri dan
mengijinkan perdagangan pangan hasil rekayasa genetik. (37)
Akibatnya, menurut enam gerakan keadilan global Afrika yang terkemuka
yang bertemu dekat Evian, ‘pertemuan G8 tahun 2003 pada akhirnya
menjadi bencana bagi petani Afrika. Pertemuan itu gagal mengadopsi proposal
yang terbatas pun bagi moratorium pengurangan kendala tarif Amerka dan
Eropa dan subsidi-subsidi bagi pertanian Eropa dan Amerika. Kebijakan-kebijakan
ini jahat. Sementara jutaan petani Afrika, yang kebanyakan mata pencaharian
perempuan dihancurkan oleh kebijakan-kebijakan ini, peternakan Eropa dijamin
oleh subsidi negara yang besar! (38)
Contoh lain dari pembebanan Bush terhadap pembangunan yang tidak berkelanjutan
pada Afrika adalah kontraversi pangan hasil rekayasa genetik (GM). Uni
Eropa, Australia, Jepang, Cina, Indonesia dan Saudi Arabia (yakni lebih
dari separuh dunia) telah melarang produksi dan perdagangan hasil rekayasa
genetik, sehingga Bush jelas-jelas nekat membuka pasar-pasar baru di Afrika,
seperti yang dia nyatakan pada pertemuan Puncak Bisnis Amerika-Afrika
tidak lama sebelum mengadakan perjalanan pada bulan Juli 2003.
Guna membantu Afrika agar menjadi lebih mencukupi sendiri produksi pangannya,
saya telah mengusulkan prakarsa untuk mengakhiri kelaparan di Afrika.
Prakarsa ini akan membantu negara-negara Afrika dalam menggunakan tanam-tanaman
bioteknologi baru yang tinggi produksinya dan melepaskan kekuatan pasar
guna meningkatkan produktivitas pertanian secara dramatis.
“Tetapi ada persoalan. Ada persoalan. Saat ini beberapa negara menghalang-halangi
masuknya tanam-tanaman hasil bioteknologi, yang menghambat negara-negara
Afrika dalam memproduksi dan mengekspor tanam-tanaman ini. Pelarangan
yang dilakukan oleh negara-negara itu tidak berdasar; dan tidak ilmiah;
dan merongrong masa depan pertanian Afrika. Dan saya mendesak mereka agar
menghentikan pelarangan ini.” (39)
Konferensi Uskup-uskup Katholik Afrika Selatan menjawab, “Kami tidak
percaya bahwa perusahaan-perusahaan pertanian atau teknologi plasma akan
membantu para petani kami guna memproduksi makanan yang diperlukan pada
abad ke-21. Sebaliknya, kami pikir teknologi itu akan menghancurkan keragaman,
pengetahuan lokal dan sistem pertanian yang berkelanjutan yang telah dikembangkang
oleh para petani kami selama ribuan tahun dan selanjutnya teknologi itu
akan menggerogoti kemampuan kami untuk menyediakan pangan kami sendiri!
Lori Wallach, direktur Public Citizen’s Global Trade Watch, menafsirkan,
‘Pemerintah Bush tidak berterus terang. Bukanlah kemiskinan di Afrika
yang menjadi isu paling penting bagi pemerintahannya tetapi pertimbangan-pertimbangan
bisnis untuk kepentingan sektor pertanian dan teknologi Amerika’.
Seperti yang dilaporkan oleh Inter Press Service, ‘Zambia, dengan
menyebutkan masalah-masalah kesehatan, menolak jagung hasil rekayasa genetik
baik dalam bentuk butiran maupun gilingan. Satu tahun kemudian, Presiden
Levy Mwanawasa mengumumkan minggu lalu bahwa tahun ini Zambia akan menggandakan
hampir 600.000 ton padi-padian yang dipanen pada musim lalu, yang memberikan
bahan bakar baru untuk memberikan alasan bahwa teknologi rekayasa genetik
tidak diperlukan guna mengurangi kelaparan di Afrika’. (40)
Bush melanjutkan pidatonya pada Pertemuan Puncak Bisnis Amerika- Afrika
dengan sebuah ancaman pencabutan bantuan keuangannya, ‘uang akan
mengalir ke negara-negara berkembang yang pemerintahannya memiliki komitmen
terhadap tiga strategi yang luas : Pertama mereka harus memerintah secara
adil. Kedua mereka harus melakukan investasi di Bidang kesehatan dan pendidikan
terhadap rakyatnya. Ketiga, mereka harus memiliki kebijakan-kebijakan
yang mendorong kebebasan ekonomi! (41) Strategi terakhir akan menterpedo
dua strategi pertama dan kedua, strategi itu dapat diramalkan dengan pasti.
Sementara Afrika Selatan, dibawah arahan Erwin, melanjutkan undangannya
yang tidak bertanggung jawab ke Monsanto dan kepada para produsen makanan
rekayasa genetik lainnya untuk mengimpor dan menanam bahan pangan itu
di tanah Afrika.
HIDUP DAN MATINYA PERDAGANGAN
Contoh yang paling penting bagaimana undang-undang perdagangan yang didominasi
oleh negara-negara Utara menyebabkan keterbelakangan – bahkan kematian
masal – adalah diterapkannya Hak Kekayaan Intelektual yang mencegah
digunakannya obat-obatan yang dapat diproduksi di negara Selatan. Menurut
laporan Bussiness Day, Erwin mengakui bahwa ‘isu penting bagi dunia
berkembang adalah perjanjian untuk mengijinkan negara-negara berkembang
mengimpor atau membuat obat-obat jenerik guna menanggulangi krisis kesehatan
masyarakatnya yang besar tanpa mengalami persoalan hak paten. Erwin mendesak
perusahaan-perusahaan farmasi yang menggunakan tekanan untuk menghalangi
sebuah perjanjian sampai ke dewan. Pemerintah Amerika Serikat sedang menegakkan
sebuah perjanjian, dibawah tekanan dari lobi farmasinya! (42)
Tentu ini benar. Walaupun Bush menjanjikan 15 milyar dolar dalam memberikan
bantuan dana yang baru, guna manggulangi penyakit AIDS dari tahun 2003-2006,
ini akan sangat menguntungkan perusahaan-perusahaan farmasi Amerika Serikat.
Bagaimanapun juga, Bush dengan cepat memundurkan janjinya dengan memotong
alokasi 2003-2004 menjadi dua bagian dan memberikan sedikit bantuan dana
global tersebut (Global Fund) yang didirikan untuk memberantas AIDS, malaria,
dan TBC oleh PBB. (43)
Pada bulan Mei 2003, para kritikus dari LSM menuduh rejim Bush mrmiliki
‘kepercayaan yang hampir buta dalam sistem Kekayaan Intelektual,
tanpa memandang kenyataan pasien yang mati-matian membutuhkan teknologi
kesehatan yang lebih efektif dan lebih baru dan akses terhadap obat-obatan
esensial yang ada. Mengingat krisis penyakit AIDS/HIV, dan masalah-masalah
yang masih diungkapkan oleh banyak delegasi dari Dewan Kesehatan Dunia,
dalam menjamin akses yang adil dan berkelanjutan terhadap obat-obatan
anti retroviral yang dapat dibuat, naskah ini memberikan kesan bahwa Amerika
Serikat telah kehilangan sentuhan terhadap kenyataan. Sementara Amerika
Serikat bersikeras bahwa perlindungan kekayaan intelektual merupakan jalan
terbaik untuk meningkatkan penelitian dan pengembangan, menurut kritikus
LSM, ‘Dari 1.393 obat-obatan baru yang disepakati antara tahun 1975
dan 1999, hanya 16 (atau hanya diatas 1%) dikembangkan secara khusus untuk
penyakit tropis dan TBC, penyakit-penyakit yang menanggung 11,4% beban
penyakit dunia.’ (44)
Erwin, sama-sama telah kehilangan sentuhannya dengan konstituennya sendiri,
karena ia tetap menolak menggunakan kekuasaannya sebagai regulator dalam
undang-undang obat-obatan 1997 guna menurunkan harga obat-obatan. Kampanye
Aksi Perawatan (TAC) menuduhnya telah gagal mencegah kematian prematur
yang dapat diprediksi dan dihindarkan terhadap ratusan ribu orang yang
meninggal karena AIDS selama awal abad ke-21. Pada hari Hak Asasi Manusia
tahun 2003, dalam memperingati 69 orang yang ditembak mati di Sharpeville
pada tahun 1960, Erwin dan Menteri Kesehatan Manto Tshabalala-Msimang
oleh TAC dituduh melakukan pembunuhan yang patut dicela. Menurut berita
acara yang disimpan di kantor polisi, ‘selama periode 21 Maret 2000-21
Maret 2003 dalam semua distrik perawatan kesehatan Republik Afrika Selatan,
dituduh secara lalai dan melanggar hukum menyebabkan kematian orang laki-laki,
perempuan dan anak-anak. Distrik-distrik perawatan itu juga melanggar
kewajiban kepada konstitusionalnya untuk menghormati, melindungi, meningkatkan
dan memenuhi hak orang-orang ini untuk hidup dan memiliki martabat. Erwin,
secara spesifik, mengabaikan ‘permohonan yang diulang-ulang’
guna menerbitkan lisensi yang mendesak bagi perawatan anti retroviral
dan juga ‘untuk meminta perusahaan-perusahaan farmasi guna memberikan
lisensi secara suka rela guna memproduksi obat-obatan jenerik.’
Erwin secara sadar mengabaikan usaha-usaha para ilmuwan, dokter, perawat,
aktivis serikat buruh, orang yang hidupnya menderita AIDS/HIV, agen-agen
internasional, organisasi-organisasi masyarakat sipil, masyarakat dan
pemimpin agama.’ Lagipula, ia dan Tshabalala -Msimang ‘berulang-kali
menunda pelaksanaan undang-undang obat-obatan dan bahan bakunya yang terkait,
dan kontrol amandemen dan peraturan-peraturannya.’ Erwin ‘menyadari
akan peraturan-peraturan yang diterapkan di negara lain seperti Brazil
guna meningkatkan akses terhadap obat-obatan yang penting, termasuk anti
retroviral, tetapi menolak tawaran-tawaran dari negara itu untuk melakukan
alih teknologi dan memberikan bantuan lainnya! Lagipula ia dan Tshabalala-Msimang
yang mengarahkan kehendak mereka guna menjamin kebijakan pemerintah bukanlah
ketentuan anti retroviral. Dianggap tahu dan bisa memprediksikan bahwa
ini akan menyebabkan kematian banyak orang tetapi tetap tak terhindarkan
oleh kemungkinan ini! ‘Sikap Erwin yang gagal menyediakan obat-obatan
ini kepada rakyat yang membutuhkannya tidak memenuhi standar orang yang
layak’, menurut kesimpulan TAC. (45) Karakteristik timbulnya paranoia
di Pretoria, polisi tidak menangani perkara dengan serius, dan lagipula
memukul para pengunjuk rasa TAC yang damai di Durban, seolah-olah hari
Sharpeville merupakan permakluman guna mengingatkan massa terhadap monopoli
kekerasan oleh Negara.
JALAN KEDEPAN – DEGLOBALISASI DAN DEKOMODIFIKASI
Tidak ada jalan keluar untuk mengubah undang-undang WTO dari dalam dan
tidak ada dasar untuk mempercayai pemerintahan subimperium Afrika Selatan
dalam menggunakan pengaruh internasionalnya yang besar demi kepentingan
Afrika.
Apakah ada sebuah alternatif? Pada tahun 1985, ahli ekonomi-politik Afrika
yang terkemuka, Samir Amin, terkenal dengan usulannya untuk membuat strategi
‘pemotongan hubungan’ yang ‘tidak sepadan dengan autarki
tetapi lebih merupakan subordinasi hubungan eksternal menuju logika pembangunan
internal ……… yang dirembeskan dengan pelipatgandaan
berbagai macam kepentingan.’ (46) Pada tahun 2002, pernyataan kembali
thema pemutusan hubungan dari Samir Amin dikemukakan oleh Direktur Focus
on the Global South Walden Bello, dalam bukunya Deglobalisation:’saya
bicara tentang penarikan diri dari ekonomi internasional. Saya bicara
tentang reorientasi ekonomi kita dari produksi untuk ekspor ke produksi
untuk pasar lokal (dalam negeri).’ (47)
Ada banyak aktivis Afrika yang memiliki komitmen untuk mengedepankan kampanye-kampanye
menentang WTO, dengan menggunakan istilah-istilah yang praktis. Jaringan
Dagang Afrika, misalnya, telah aktif menentang AGOA. Sebuah gerakan yang
terorganisir dengan baik di Mauritius mempersiapkan sebuah protes besar
melawan upaya George W. Bush untuk menciptakan perdagangan bebas Afrika
pada bulan Januari 2003. Hubungan-hubungan dagang kapitalis yang tidak
adil juga digasak secara teratur oleh sebuah LSM terkenal dari Accra,
Isodec, yang berafiliasi dengan Jaringan Dunia Ketiga yang berkantor di
Penang. Jaringan Solidaritas Rakyat Afrika Selatan meliputi para peserta
kunci – The Organization African on Debt and Development (Harare);
Africa Trade Network (Southern Africa); Alternative Information and Development
Center; Associacio para
Desenvolvimento Rural de Angola; kelompok-kelompok gereja dan ekumene
dari sebagian besar negara; serikat-serikat buruh; Jender dan Jaringan
Perdagangan (Southern Africa); Kelompok Jubelium dari Angola, Malawi,
Afrika Selatan dan Zambia; Ledikasyon pu Travayer (Pekerjaan Pendidikan-Mauritas);
Mwelekoo Wa Ngo (Mwengo-Zimbabwe); Kongres Pemuda Zwaziland dan Kampanye
Swaziland Melawan Kemiskinan dan Ketimpangan Ekonomi; dan Koalisi Zimbabwe
untuk Utang dan Pembangunan – yang pada pertemuan puncak perdagangan
alternatif di Windhoek pada bulan Agustus 2000 memututskan,
“bahwa pemerintah di negara-negara kita telah lama terlibat dalam
deklarasi-deklarasi retorika tentang pembangunan nasional dan kerjasama
pembangunan dan integrasi regional dengan sedikit prestasi yang efektif;
sangat prihatin dengan terpeliharanya dan meningkatnya hak-hak istimewa,
kekuasaan, status kelompok dan individu mereka sendiri, dan pencurian
sumber daya bangsa oleh pribadi klas yang akan berkuasa; dan karena alasan-alasan
ini sering terlibat dalam persaingan yang menimbulkan perpecahan dan bahkan
konflik-konflik berbahaya di kalangan mereka sendiri dengan mengorbankan
kepentingan rakyat pada tingkat nasional dan regional; pada saat yang
sama berikrar untuk saling mendukung dan saling membela kapan saja kepentingan
dan kekuasaan kelas yang berkuasa dalam menghadapi konflik hak asasi manusia,
dan aspirasi-aspirasi pembangunan dan demokrasi dari penduduk mereka sendiri;
dan menggunakan SADC sebagai ‘kelompok laki-laki tua’ yang
melayani diri sendiri untuk saling mendukung; yang semakin responsif dan
tunduk kepada tekanan dan bujukan dari agen-agen pemerintah di negara-negara
industri yang sangat kaya, dan perusahaan-perusahaan global, agen-agen
pemerintah dan bank-bank, dan organisasi-organisasi keuangan lainnya,
dan lembaga-lembaga ‘multilateral’ yang didominasi dan digunakan
oleh negara-negara tersebut”.
Kritik yang keras itu semakin padu dengan kampanye yang dilakukan secara
aktif guna memilih politik, kebijakan, dan strategi pembangunan alternatif.
Perlawanan terhadap “komodifikasi” alam dan masyarakat tampak
mengalami kemajuan di banyak negara Afrika, sehingga Perjanjian Umum tentang
Perdagangan Jasa-jasa – yang akan melakukan privatisasi air, listrik,
perawatan kesehatan, dan jasa-jasa lainnya – sedang ditolak oleh
perjuangan masa rakyat (dan juga benar-benar kesulitan untuk menarik keuntungan
dari rakyat yang paling miskin di dunia). Menurut Bank Dunia, investasi
sektor swasta di Dunia Ketiga pada tahun 2000 menurun separuh pada level
120 milyar dolar pada tahun 1997. “Kita telah sepakat menanggung
kerugian bisnis, tetapi resiko politiklah yang membunuhmu,’ menurut
Mike Curtain dari Bechtel Group (yang menderita kerugian begitu besar
pada bulan April 2000 karena pemberontakan terhadap privatisasi air di
Cochabamba, (Bolivia). ‘Saya kuatir bahwa sektor swasta akan diusir
dari sector air’. (48)
Di Afrika, tempat penting dari perjuangan ini adalah di Ghana (dimana
Kampanye Menentang Privatisasi Air memperoleh dukungan rakyat yang luas)
dan di Afrika Selatan. (49) Afrika Selatan menjadi tuan rumah gerakan-gerakan
aktif yang bertujuan memperoleh akses yang bebas terhadap air sebagai
sumber hidup, obat-obatan anti-retroviral, pendidikan, perumahan, tanah,
bahkan tunjangan penghasilan dasar (basic income grant) sebesar 12 dolar
perbulan. Gerakan penghapusan utang yang dilakukan oleh Jubelium terus
melakukan pengorganisasian, dan tuntutan-tuntutan hukum untuk memperoleh
ganti rugi terhadap perusahaan-perusahaan yang diuntungkan dari investasi
‘apartheid’ dan uang pinjaman, mulai mencemaskan para elite
global – terutama cabang Afrika Selatan. Selama diskusi parlementer
yang diselenggarakan pada bulan April 2003, Erwin menyatakan bahwa Pretoria
‘memperoleh penghinaan dan perlawanan berupa tuntutan hukum’
terhadap lintah darat rejim Pretoria, dan setiap temuan-temuan yang bertentangan
dengan perusahaan-perusahaan yang kedapatan bermasalah ‘tidak akan
dihormati’ di Afrika Selatan. (50) Ketika 20.000 orang mengadakan
pawai menentang KTT bumi tentang Pembangunan Berkelanjutan dan Nepad pada
bulan Agustus tahun 2002, walaupun ada pelarangan terhadap pawai - sampai
protes tanpa kekerasan itu pada saat dan periode terakhir memperoleh represi
dari Negara Afrika Selatan selama beberapa minggu sebelumnya, hal itu
menegaskan bahwa gerakan-gerakan ‘anti kapitalis’ global untuk
keadilan telah hadir di Afrika. (51)
Pada tahun-tahun terakhir ini, Mesir, Kenya, Mauritius, Nigeria, Sinegal,
Zambia dan Zimbabwe juga menyaksikan konflik-konflik antara gerakan rakyat
dengan partai-partai yang berkuasa. Kelanjutan dari keributan melawan
IMF menyarankan bahwa keluhan warga setempat dan kritik kaum kiri terhadap
neoliberalisme tetap gawat bagi masa depan Afrika. (52) Gerakan buruh
yang semakin nekat di benua itu juga menjadi lebih militan. (53) Beberapa
peningkatan protes yang sangat mengesankan baru-baru ini adalah bidang
yang dapat diistilahkan keadilan lingkungan. Contoh-contoh ilustrasi berasal
dari wilayah Delta Nigeria, dimana pada pertengahan tahun 2002, kaum perempuan
melakukan aksi duduk di kantor-kantor perusahaan multinasional setempat
tepat sebelum berlangsungnya KTT Bumi tentang Pembangunan berkelanjutan,
dan pada awal tahun 2003, para pekerja perminyakan melakukan pemberontakan
di beberapa landasan dengan menyandera sejumlah manajer perusahaan multinasional
tersebut. Forum Jaringan Keadilan Lingkungan Afrika Selatan dan LSM-LSM
yang berpandangan jauh seperti Ground Work bekerja bahu-membahu dengan
rekan-rekan perjuangannya dimana-mana untuk melawan rasisme lingkungan,
dumping terhadap barang-barang yang mengandung racun, kompensasi terhadap
asbes, kampanye menentang tempat-tempat pembuangan sampah dan polusi air.
Jikalau Forum Sosial Afrika yang baru itu terus menarik bersama beberapa
aktivis benua itu yang terkemuka, terutama dalam formasi-formasi regional
dan nasional yang memungkinkan fenomena forum sosial muncul kembali dari
bawah keatas, sangat mungkin bahwa “Konsensus Rakyat Afrika”
akan muncul secara organik dari perjuangan pinggiran yang sepotong-potong
(cutting edge struggles) melawan “komodifikasi” kehidupan.
WTO, Nepad dan subimperialisme Afrika Selatan bersama-sama mewakili formasi
kesatuan musuh yang hebat bagi para aktivis Afrika, tetapi persekutuan
sebelumnya yaitu kekuatan ekonomi Amerika Serikat -Uni Eropa juga tampaknya
merupakan kekuatan yang tidak terkalahkan. Jikalau perjuangan melawan
apartheid rasial berhasil karena mendasarkan pada kombinasi antara pemberontakan
lokal dan solidaritas internasionalis, demikian juga perjuangan rakyat
Afrika melawan apartheid kelas global akan sukses, jikalau rakyat di benua
itu meraih bentuk martabatnya. (54)
? Profesor, University of the Witwatersrand, Johannesburg
dan profesor tamu, York University Toronto. (pbond@sn.apc.org)
CATATAN KAKI
1.Saya mengemukakan alasan ini secara mendalam pada buku Bond, P. (2003),
Elite Transition: From Apartheid to Neoliberalism in South Africa, London,
Pluto Press and Pietermeritzburg, University of Natal Press; Bond, P.
(2003), Against Global Apartheid: South Africa meets the World Bank, IMF
and International Finance, London, Zed and Cape Town, University of Cape
Town Press; dan Bond, P. (yang akan datang), Sustaining Global Apartheid:
South Africa’s Frustrated International Reforms.
2.Arrighi, G. (2002) ‘The African Crisis: World Systematic and Regional
Aspect,’ New Left Review 2, 15; Saul, J. and C. Leys (1999), ‘Sub-Saharan
African in Global Capitalism,’Monthly Review, July.
3.Milanovic, B. (2002), “Can we discern the Effect of Globalization
on Income Distribution?, Evidence from Household Budget Surveys,’Kertas
Kerja Riset Kebijakan Bank Dunia 2876, April.
4.Barrat-Brown, M. dan P. Tiffen (1992), Short Changed: Africa anda World
Trade, London, Pluto, hal. 3.
5. Elbadawi, A. dan B. Ndulu (1996), ‘Long-run Development and Sustainable
Growth in Sub-Saharan Africa,’ dalam M.Lundahl dan B.Ndulu (editor),
New Directions in Development Economics: Growth, Environmrntal Concerns
and Governments in the 1990s, London Routledge, hal.6.
6.Tandon, Y. (1999), ‘A Blip or a Turnaround?,’ Journal of
Social Change and Development, 49, December.
7. Cerita itu diuraikan secara rinci dalam Keet, D. (2002) South Africa’s
Official Role and Position in Promoting the World Trade Organization,
Cape Town, Alternative Information and Development Centre.
8. Erwin, A. (1999), ‘Statement to the World Trade Organisation
Plenary’, Seattle, 1 December.
9. Manuel, T. (2000),’Address to the Seminar on South Africa’s
Relation and Creation of National Wealth and Social Welfare,’ Rand
Afrikaans University Centre for European Study in Africa, Johannesburg,
20 October.
10. New Agenda, 8, 2002.
11. Ulasan lebih lanjut peran negatif Erwin di Doha dapat dicari di Bond,
P and M. Manyanya (2003), Zimbabwe’s Plunge: Exhausted Nationalism,
Neoliberalism and the Search for Social Justice, London, Merlin Press,
Pietrmaritzburg, University of Natal Press and Harare, Weaver Press, hal.142-145.
12. Keet, South Africa’s Official Role and Position in Promoting
the World Trade Organization, hal 23.
13. The Nation, 19 June 2003.
14. New Agenda, 3, 2001.
15. Pada pertemuan COMESA, Erwin berhasil meminta kepada ketua agar semua
delegasi LSM Afrika dikeluarkan (Keet, South Africa’s Official Role
and Position in Promoting the World Trade Organization, hal.26).
16. Pertemuan di Abuja menyertakan insiden yang dilukiskan oleh Keet,
South Africa’s Rol and Position in Promoting the World Trade Organization
(hal.28): ‘Dalam diterminasi mereka untuk mencegah para pejabat
dan menteri perdagangan Afrika supaya tidak mendengarkan pandangan-pandangan
LSM, para anggota delegasi SA secara terbuka bermusuhan dengan LSM-LSM
yang hadir. Ini termasuk serangan pribadi secara langsung terhadap WTO
oleh seorang ahli dari LSM yang diakui dunia, Martin Khor, Direktur Third
World Network yang berbasis di Malaysia, yang sebenarnya diundang oleh
OAU untuk memberikan nasehat khusus kepada para pejabat perdagangan Afrika.’
17. http://voiceoftheturtle.org/articles/raj-doha.shtml
18. Africa Group (2001),’Proposals on TRIPS for WTO Ministerial,’
http://www.twinside.org.sg, 19 Oktober
19. http:voiceoftheturtle.org/articles/raj-doha.shtml
20. Cuba, Republik Domonica, Haiti, India, Kenya, Pakistan, Peru, Uganda,
Venezuela dan Zimbabwe (2001), ‘Assessement of Trade in Services,’
Special Communication to the World Trade Organization, 9 October.
21. Friends of the Development Box (2001), ‘Pernyataan pers,’
Doha 10 November.
22. Business Day, 12 February 2002.
23. Hormeku, T. (2001), Text a Slap in the Face for African Countries’,
Business Day, 8 November.
24. Disitir dalam Keet, South Africa’s Official Role and Position
in Promoting the World Trade Organization hal. 35.
25. Disitir dalam Lynas, M. (2003), ‘Playing Dirty at the WTO,’
Third World Network Features, Penang Malaysia, Juni.
26. Kwa, Power Politics in the WTO, hal. 24.
27. Keet, South Africa’s Officials Role and Position in Promoting
the World Trade Organization, hal. 35.
28. Mail and Guardian, 16 November 2001.
29. Business Report, 16 November 2001.
30. Business Day, 7 Maret 2002.
31. Keet, South Africa’s Officials Role and Position in Promoting
the World Trade Organization, hal. 44.
32. Draper, P. (2003),’To Liberalise or Not to Liberalize? A Review
of the South African Government’s Trade Policy,’ SA Institute
of International Affairs Working paper, Johannesburg, hal.18.
33. http://enn.com/news/wire-stories/2002/05/052220022/reu-47285.asp
34. Business Day, 20 May 2003.
35. New York Times, 1 June 2003.
36. Bagaimanapun juga, rencana itu gagal meraih dukungan Uni Eropa sekalipun.
Menurut George Monbiot (The Guardian, 3 June 2003), ‘Proposal-proposal
Chirac hanya membicarakan bagian dari permasalahan, tetapi proposal-proposal
itu tidak dapat memulai melakukan proses pembongkaran sistem yang tidak
terlalu membahayakan kantong-kantong, atau lingkungan kita dan kehidupan
sebagian rakyat yang paling rentan di dunia. Barangkali kita kemudian
berharap pada Tony Blair, yang menciptakan peristiwa diplomatik yang besar
pada tahun lalu ketika ia dengan tepat melalap Chirac karena tidak mau
mengalah, untuk menanggung kerugian dan memberikan subsidi yang besar
untuk domba kedalam “kandang” pasar bebas. Tetapi sebaliknya,
Perdana Menteri kita sendirian menghancurkan inisiatif Perancis. Alasan
itu akan diketahui sekarang. George W. Bush yang memperoleh dukungan politik
yang penting dari kaum industrialis agro di Amerika Serikat, pengekspor
padi-padian dan pabrik-pabrik pestisida, tidak siap membuat konsesi-konsesi
yang diperlukan untuk dipadukan dengan tawaran Chirac. Jikalau Uni Eropa,
dan khususnya anggota yang mengklaim bertindak sebagai jembatan Atlantik
mendukung Perancis, tekanan moral terhadap Bush barangkali akan sangat
menarik. Tetapi segera setelah Blair menjelaskan bahwa ia tidak akan mendukung
rencana Chirac, prakarsa itu mati. Jadi, berkat perasaan bersalah dari
perdana menteri kita, dan kebiasaannya sebagai negarawan untuk melakukan
apa saja yang dikatakan Bush kepadanya, Afrika sekarang benar-benar tersumbat.
37. The Guardian, 23 May 2003.
38. Jaringan Komunikasi dan Pembangunan Perempuan Afrika, Jaringan Pemberdayaan
Perempuan Afrika, Konggres Serikat Buruh Afrika Selatan, Dewan Pengembangan
bagi Penelitian Ilmu Sosial Afrika, Krisis dalam Koalisis Zimbabwe dan
LSM Mwelwkwo wa (2003),’Pernyataan Bersama: Pertemuan Puncak G 8
tahun 2002 ke 2003: >From Trickle to a Drop,’ Geneva, 3 Juni.
39. Bush,’Ucapan-ucapan Presiden kepada Dewan Korporasi pada Pertemuan
Puncak Bisnis Amerika-Afrika di Afrika.
40. Interpress Service, 19 Jun 2003.
41. Bush, Ucapan-ucapan Presiden kepada Dewan Korporasi pada Pertemuan
Puncak, Gertakan ini sudah biasa; lihat Tibbet, S. (2003),’The Spoils
of the War on Poverty: The West’s Rhetoric about Foreign Aid Conceals
a Greedy Self-Interest,’ The Guardian, 2 July.
42.Business day, 20 May 2003.
43. Business Day, 3 July 2003.
44. Medicins Sans Frontiers, Health GAP, Health Action International,
ACT UP Paris, Peoples Health Movement, Oxfam (2003), ‘Respons bersama
LSM terhadap proposal Amerika Serikat mengenai Hak Kekayaan Intelektual,
Inovasi dan Kesehatan Masyarakat pada Majelis Kesehatan Dunia yang ke
56,’ Geneva 21 Mei.
45. Treatment Action Campaign (2003), ‘The People’s Docket:
Indictment Against South African Government Ministers, Cape Town, March
21.
46.Amin, S. (1985), Delinking: Towards a Polycentric World, London, Zed
Books.
47. Bello,W. (2002), Deglobalization: Ideas for a New World Economy, London
, Zed Press.
48. Bloomberg, 7 March 2003.
49. Bond, P. (2002), Unsustainable South Africa: Environment, Development
and Social Protest, London, Merlin Press and Pietrmaritzburg, University
of Natal Press.
50.Untuk ulasannya, lihat, misalnya , Financial Times, 19 May 2003.
51. Bond, P. and T. Guilwe (2003), ‘Nepad and the World Summit on
Suatainable Development: South Africa Civil Society Critiques and advocacy,’
dalam O.Edigheji dan G.Mhone (Editor), Governance and Globalization, Cape
Town, University of Cape Town Press; dan Munnik, V danJ.Wilson (2003),
The World Comes to One Country, Berlin dan Johannesburg, Heinrich Boell
Stiftung.
52. Ellis-Jones, M. (2003), ‘States of Unrest III: Resistance to
IMF and World Bank Policies in Poor Countries,’ London, World development
Movement, April.
53.Fisher, J. (2002),”Africa,’ dalam E. Bircham dan J. Charlton
(Editor) (2002), Anti-Capitalism: A Guide to the Movement, London, Bookmarks;
Zeilig, L. (Editor) (2002), Class Struggle and Resistance in Africa, Cheltenham,
New Clarion.
54. Bond, P. (2003),’Africa Anti-Capitalism,’ dalam R. Neuman
dan A. Hsiao (Editor), Anti-Capitalism: A Field Guide to the Global Justice
Movement, New York, New Press.
|