PARA KETUA MENYALAHGUNAKAN KEKUASAAN DALAM PERUNDINGAN-PERUNDINGAN
OLEH Aileen Kwa

“Para anggota dapat berkata apa saja yang mereka inginkan (dalam rapat-rapat WTO), tetapi pada akhirnya, apa yang diputuskan adalah apa yang dikatakan oleh Ketua seperti diputuskan dalam rapat (komentar yang diberikan oleh seorang JURU runding dari negara berkembang baru-baru ini).
Sejak pertemuan Doha, para ketua di WTO mengikuti contoh yang ditentukan oleh Stuart Harbinson ketika ia menjadi dutabesar Hongkong untuk WTO dan ketua Dewan Umum. Dalam perjalanan menuju pertemuan tingkat menteri di Doha, Harbinson menyerahkan naskah deklarasi tingkat menteri kepada Dewan Umum “atas tanggung jawabnya sendiri”. Walaupun naskah ini ditentang oleh mayoritas anggota, Harbinson yang mengabaikan prinsip pembuatan keputusan melalui konsensus dalam WTO, tidak memasukkan berbai pandangan tentang isu-isu yang tidak kontraversial (seperti yang dipraktekkan), dan sama sekali mengesampingkan keberatan-keberatan negara berkembang terhadap naskah – bahkan keberatan-keberatan yang telah diungkapkan dengan istilah yang demikian sangat kuat.
Di mata pemerintah negara-negara maju (dan sedikit negara berkembang) hasil pertemuan Doha, yang menyerupai naskah Harbinson merupakan sukses besar. Pertemuan lainnya di Seattle, telah dikesampingkan dan para menteri dari negara-negara berkembang yang mengalami tekanan hebat, telah menyerah.
Sejak pertemuan Doha, semua ketua badan perundingan telah mengadopsi gaya Harbinson. Laporan-laporan dan naskah-naskah perundingan telah diajukan “atas namanya sendiri” dan tidak mencerminkan pandangan-pandangan yang berbeda. Lagipula, naskah yang sudah steril ini memberikan pandangan ketua tentang bagaimana sebaiknya hasil perundingan itu, atau apa “yang diputuskan ketua” bisa menjadi sikap kompromi. Persoalannya adalah para ketua cenderung lebih mencerminkan sikap-sikap politik dan ekonomi negara-negara anggota yang lebih kuat. Apakah sikap seorang anggota yang tercermin dalam naskah akhirnya mengurangi kekuasaan politik anggota? Bukankah ini merupakan multilateralisme yang mungkin dihindarkan?
Pada hari Jum’at tanggal 18 Juli, Ketua Dewan Umum, Dutabesar Uruguay Perez-del-Castillo mengedarkan kerangka naskah Teks Menteri untuk Pertemuan Tingkat Menteri yang akan diadakan pada bulan September. Ada beberapa persoalan :

ISU-ISU YANG MENJADI PERDEBATAN
Pertama, naskah itu tidak memasukkan isu-isu yang paling kontraversial secara terperinci tentang agenda WTO seperti TRIP dan Kesehatan, Pertanian dan keputusan tentang isu-isu Singapura.
Dikeluarkannya isu-isu yang menjadi perdebatan sangat problematik mengingat bahwa hanya ada waktu satu bulan sebelum menuju Cancun (WTO akan ditutup pada minggu terakhir bulan Juli dan minggu pertama bulan Agustus). Para juru runding negara-negara berkembang tahu bahwa ada naskah-naskah yang sedang diedarkan, misalnya tentang isu-isu Singapura, tetapi naskah tersebut tidak dibahas bersama mereka hingga saat ini. Para juru runding sangat senang bahwa naskah ini hanya akan dicomot begitu saja dari lobang WC pada tahapan yang sangat akhir dan dengan demikian tidak ada waktu lagi untuk mempertimbangkan pandangan-pandangan mereka. Akankah ketua itu kemudian menyerahkan naskah steril yang tidak menyertakan pandangan-pandangan mereka? Apa yang akan terjadi pada pertemuan tingkat menteri? Bahkan negara berkembang yang terbesar, seperti India pun merasa tidak sanggup mengontrol proses itu dalam pertemuan tingkat Menteri.

TANGGUNG JAWAB SENDIRI
Kedua, naskah kerangka itu dibagi-bagikan kepada para Anggota atas tanggung jawab sendiri sang Ketua. Ini menimbulkan pertanyaan apakah ketua Dewan Umum ingin mengikuti contoh Harbinson dan menyerahkan naskah “atas tanggung jawabnya sendiri” ke Cancun, sebuah naskah yang dibuat tanpa konsensus dan pandangan-pandangan mayoritas? semua indikasi sampai kini tampaknya mengarah pada kecenderungan ini.

NEGARA-NEGARA BERKEMBANG MENENTANG PARA KETUA YANG MENGUASAI PERUNDINGAN-PERUNDINGAN
Isu tentang peran para ketua yang tepat dalam WTO diperdebatkan dengan sengitnya menyusul Pertemuan Tingkat Menteri di Doha. Pada bulan Januari 2002, anggota dari negara-negara berkembang, masih terbakar sejak pengalaman Doha dimana para menteri mereka yang masih mengalami tekanan yang sangat hebat untuk mendukung sikap-sikap yang bukan pilihan mereka, ingin menciptakan peraturan-peraturan yang jelas yang akan membatasi kekuasaan ketua.
Dalam sebuah pernyataan yang mengungkapkan kesedihan yang mendalam, bahkan kemarahan yang dirasakan oleh para juru runding tentang prosedur Doha, dan sikapnya yang acuh tak acuh sama sekali terhadap prosedur yang pantas dalam perundingan-perundingan itu, Kelompok Afrika, dalam pertemuan Komite Negosiasi Perdagangan yang pertama (TNC) pada bulan Januari 2002 mengatakan,
“Kelompok Afrika, bersama dengan delegasi-delegasi lainnya telah membuat aturan-aturan dasar bagi sebuah pra-kondisi guna menyepakati kepemimpinan Direktur-Jenderal (TNC). Kelompok itu tidak mengerti mengapa dalam organisasi yang berbasis undang-undang, beberapa rekanan menolak usulan ini. Kelompok itu mencatat bahwa Ketua Dewan Umum telah mengemukakan pernyataannya tentang peraturan-peraturan, dalam hal ini, tetapi, masih kurang memuaskan bagi kelompok tersebut. Kelompok itu tetap yakin, misalnya, bahwa setiap ketua sebaiknya jangan menyerahkan naskah perundingan atas wewenangnya sendiri ke badan yang lebih tinggi. Dalam peristiwa yang tidak dilandasi konsensus yang berkaitan dengan naskah perundingan, kemudian sikap para delegasi yang berbeda-beda harus dipikirkan dengan jelas”. (TNC 28 Januari dan 1 Februari 2002, WTO, TN/C/M/1).
Pandangan ini juga dikemukakan oleh Kelompok Negara yang Memiliki Pendapat Sama (Like Minded Group seperti Kuba, Republik Dominika, Honduras, India, Indonesia, Kenya, Malaysia, Pakistan, Sri Lanka, Tanzania, Uganda dan Zimbabwe) dalam posisi papernya tentang peranan para Ketua dan proses perundingan. Dalam paper itu, mereka berkata,
“Ketua Kelompok perundingan hanya boleh menyerahkan naskah-naskah perundingannya yang merupakan konsensus kelompok tersebut dan bukan naskah yang disiapkan atas dasar wewenangnya sendiri…..
“Laporan-laporan dan naskah keputusan kelompok perundingan yang akan dikirim ke badan-badan yang lebih tinggi, harus dimusyawarahkan dalam badan perundingan yang bersangkutan berdasarkan konsensus. Jikalau tidak ditemukan konsensus pada setiap isu, pandangan para anggota yang berbeda-beda, dengan saran-saran alternatif, harus dipertimbangkan dalam naskah-naskah yang akan dikirim ke badan-badan yang lebih tinggi untuk diputuskan” (WTO, TN/C/W/2 29 Januari 2002).

PENGADUAN-PENGADUAN NEGARA-NEGARA BERKEMBANG TENTANG PARA KETUA SEBELUM MENUJU CANCUN
Dalam hiruk pikuk konsultasi yang diorganisir oleh ‘sahabat-sahabat‘ ketua baru-baru ini, para Juru runding dari negara berkembang, bila bisa mengikuti dalam sekejap waktu saja, mengetahui banyak cerita horor tentang proses perundingan yang terjadi baru-baru ini dan mengetahui cara-cara para Ketua menyalahgunakan posisi-posisi mereka.

Fasilitas Perdagangan
Seorang juru runding mengikuti sebuah pertemuan yang terjadi pada tanggal 8 Juli tentang fasilitas perdagangan. Tetapi ada pertemuan informal lainnya yang terdiri dari kepala-kepala delegasi (dimana semua peserta diundang tetapi hanya beberapa orang yang bisa hadir karena pengembangan pertemuan-pertemuan itu dalam beberapa minggu belakangan tidak memungkinkan bagi para delegasi untuk mengirimkan tenaga ahlinya untuk hadir secara phisik di semua pertemuan itu).
Dalam pertemuan itu, Tuan Milan Hovarka, Dutabesar Rebuplik Ceko yang sedang memfasilitasi diskusi-diskusi yang menyimpulkan bahwa dari cara diskusi-diskusinya yang sedang berlangsung, menurut penilainnya, konsensus untuk melakukan perundingan-perundingan dalam bidang perdagangan hanya muter-muter ditempat.
Ia jelas mengabaikan kenyataan karena hanya dua minggu sebelumnya, Para Menteri Perdagangan Uni Afrika (AO) mengumumkan persoalan tentang isu-isu Singapura – dimana fasilitas perdagangan merupakan sesuatu – yang “perlu memperhatikan implikasi-implikasi yang sangat serius dari isu-isu ini bagi ekonomi kami, kami menghendaki proses klarifikasi agar dilanjutkan” (Deklarasi Menteri Grand Baie pada Konferensi Tingkat Menteri yang Kelima WTO, 20 Juli 2003).
Mengikuti pernyataan yang tidak masuk akal dari ketua itu, wakil dari Pakistan mengangkat benderanya dan mengatakan bahwa negara-negara berkembang mempunyai banyak persoalan dengan menyetujui peraturan yang mengikat dalam fasilitasi perdagangan dan sangat vokal terhadap masalah ini dalam konsultasi-konsultasi dan bahwa ia tidak melihat bagaimana Ketua dapat memberikan laporan faktual tanpa mengerti pandangan-pandangan itu.
Wakil EC segera melawan Pakistan, dengan mengatakan bahwa wakil Pakistan itu salah mengatakan negara-negara berkembang dan bahwa banyak negara berkembang siap menerima peraturan itu. Ketika ia sedang berbicara, wakil dari Kostarica mengangkat bendera dan juru bicara dari EC langsung menimpali bahwa ia bisa melihat Kostarica mengangkat benderanya untuk mendukung pandangannya.
Seorang delegasi dari India mencampuri urusan ini, dengan mengatakan bahwa India sepakat dengan penilaian Pakistan tentang situasi itu, bahwa banyak negara berkembang tidak siap mengesahkan undang-undang tentang isu ini.
Segera setelah tukar-menukar pendapat ini, ketua menutup pertemuan, dengan alasan waktu telah habis.

Pertanian
Di Doha, negara-negara berkembang dijanjikan bahwa ketentuan-ketentuan perlakuan istimewa (special and different treatment) akan diperkuat, ‘yang menjadikan ketentuan-ketentuan itu lebih tepat, efektif dan operasional’. Sialnya batas waktu (deadline) bagi keputusan-keputusan ini sudah lewat (kedaluwarsa). Belakngan ini empat ketentuan perlakuan istimewa diserahkan kembali ke Komite Pertanian untuk diputuskan. Dalam Sidang Khusus Bidang Pertanian pada tanggal 18 Juli, Harbinson (yang sekarang jadi Ketua Kabinet di Sekretariat, dan juga Ketua Sidang Khusus Bidang Pertanian) menyatakan bahwa ia telah menyiapkan laporan kepada Dewan Umum (GA) – yang akan bertemu pada tanggal 24 Juli – untuk membicarakan empat isu itu, dan ia akan menyerahkannya pada Dewan Umum atas tanggung jawabnya sendiri. Ini menyebabkan kericuhan-kericuhan dalam pertemuan itu. Para delegasi yang mengikuti perlakuan istimewa melaporkan bahwa mereka hanya mengikuti satu kali pertemuan pada empat isu perlakuan istimewa dibidang pertanian ini. Komentar-komentar mereka yang disampaikan pada pertemuan itu merupakan pendahuluan, dan Harbinson telah menjanjikan untuk mengadakan pertemuan-pertemuan pada hari berikutnya. Pertemuan-pertemuan yang dijanjikan itu tidak pernah ada. Pada tanggal 18 Juli, menyusul pengumuman Harbinson tentang laporannya yang akan datang ke Dewan Umum (GA) tentang pasal-pasal perlakuan istimewa ini, ia ditanyai tentang apa dasar yang dipakai untuk menyiapkan laporannya, mengingat ia hanya bertemu sekali dengan para anggotanya untuk membahas isu-isu tersebut.
Karena adanya keprihatinan-keprihatinan yang diungkapkan oleh para anggota, Harbinson membacakan seluruh isi naskah itu (tetapi tidak membagi-bagikannya), naskah yang telah ia siapkan tentang empat isu tersebut.
Menurut seorang delegasi, laporannya sangat problematik. Kelompok Afrika menyerahkan sebuah proposal tentang 6-2 tentang perlakuan istimewa dan usulan itu tidak dibacakan dalam laporan Harbinson. Harbinson beralasan bahwa usulan mereka telah menjadi bagian dari perundingan-perundingan yang sedang berlangsung di bidang pertanian. Alasan ini tidak dapat diterima oleh para delegasi dari Afrika.
Ada juga pasal tentang UU Sanitasi dan Fitosanitasi yang telah disarankan oleh negara-negara berkembang, yang meminta agar Perjanjian tentang Sanitasi dan Fitosanitasi (SPS) tidak digunakan sebagai pagar proteksionis. Negara-negara berkembang (Kelompok Afrika, Venezuela dan lain-lainnya) menginginkan isu ini dibahas dalam perjanjian bidang Pertanian (dalam pasal 14, yang merujuk pada Perjanjian tentang Sanitasi dan Fitosanitasi). Sikap negara-negara maju menghendaki hal ini dibahas dalam Perjanjian tentang Sanitasi dan Fitosanitasi. Dalam laporan verbal Harbinson, rupanya telah diputuskan bahwa isu itu harus dibahas dalam Komite Sanitasi dan Fitosanitasi (SPS).
Beberapa delegasi langsung angkat bicara dan berkata bahwa keseluruhan proses (dan hasilnya yang penting) tidak adil, bahwa proposal Harbinson harus dibagi-bagikan kepada para anggota sebagaimana mestinya dan mereka harus diberi kesempatan untuk berpendapat sebelum Harbinson menyerahkan proposal itu kepada Dewan Umum (pada tanggal 24 Juli).
Setelah pengalaman ini dan pengalaman-pengalaman lainnya yang sejenis para delegasi di Jenewa yakin bahwa proses itu berjalan dari keadaan buruk menjadi lebih buruk. Di bidang pertanian banyak pihak sangat prihatin. Setelah dua setengah tahun menghadapi gaya Harbinson memimpin (sebagai Ketua Dewan Umum pada tahun 2001 dan dari 2002 – 2003 sebagai Ketua Bidang Pertanian), ada sedikit keyakinan bahwa pandangan-pandangan mereka akan terwakili dalam laporan-laporan atas tanggung jawabnya sendiri. Dalam Sidang Khusus yang lalu, (18 Juli), Harbinson menjanjikan bahwa ia sedang menyiapkan naskah modalitas tentang pertanian bagi para menteri agar disepakati di Cancun. Pertanyaan-pertanyaan sedang diajukan tentang dimana modalitas ‘tanggung jawabnya sendiri‘ akan bergantung mengingat tidak adanya konsensus terhadap isu-isu pertanian yang kontraversial. Permainan politik macam apa yang akan dijalankan, sehingga negara-negara anggota yang lebih lemah tidak akan bangkit dan memberontak (seperti yang terjadi di Seattle)?
Seorang anggota delegasi yang merasa muak dengan keadaan permasalahan ini berkata, “Ini barangkali organisasi yang disetir oleh seorang anggota tetapi para ketua melaporkan atas nama tanggung jawab mereka sendiri-sendiri. Ini harus dihentikan karena para ketua hanya mendiktekan isu-isu. Mereka mengira bisa menulis apa yang mereka inginkan karena ‘atas tanggung jawab mereka sendiri, tetapi laporan ini kemudian mengikat kita. Ketika mereka menyiapkan laporan, semestinya didasarkan pada diskusi-diskusi yang berlangsung. Tetapi, sekarang, mereka memberikan pandangan pribadi mereka. Ini tidak dapat diterima.”
Delegasi lainnya berkata bahwa dalam perundingan-perundingan yang panas pada awal tahun 2002 (yang mengangkat Direktur Jenderal sebagai Ketua TNC), negara-negara berkembang memperoleh beberapa prosedur panduan. Walaupun tidak memenuhi apa yang mereka inginkan, salah satu prinsip dan praktek yang diadopsi oleh TNC adalah sebagai berikut:
‘Dalam laporan mereka secara teratur untuk mengawasi badan-badan, para ketua seharusnya mencerminkan konsensus, atau bilamana tidak mungkin, mencerminkan berbagai sikap terhadap isu-isu (WTO, TN/C/M/I 28 Jan dan 7 Feb 2002).
Delegasinya akan menggunakan pasal ini guna menekan para ketua jikalau mereka mencoba melampaui kekuasaan mereka dan menyerahkan dokumen tanpa lewat konsensus pada Pertemuan Tingkat Menteri di Cancun.

INFORMAL, INFORMAL DAN INFORMAIL LAGI
Persoalan utama lainnya yang berkenaan dengan proses yang terjadi saat ini adalah pertemuan-pertemuan persiapan menuju Cancun terutama yang dilakukan secara informal oleh kepala-kepala delegasi, semua pertemuan informal dalam WTO tidak dicatat. Alasan yang diberikan oleh negara-negara maju adalah bahwa pertemuan-pertemuan formal dan tercatat tidak kondusif bagi diskusi-diskusi terbuka dan jujur.
Tetapi ada implikasi-implikasi politik yang berbahaya bagi anggota-anggota negara berkembang. Jikalau para ketua terus bermain gila, seperti mengajukan naskah yang bersih yang tidak mewakili sikap banyak negara, laporan pertemuan membantu anggota yang lebih lemah secara politik untuk memberi alasan ketidakmampuan mereka menerima naskah-naskah ketua ini di kemudian hari.
Ini sangat penting dalam sebuah lembaga dimana, ketika Pertemuan Tingkat Menteri sudah dekat permainan mencari-cari kesalahan kian meningkat, kesalahan ditimpakan pada negara-negara berkembang apabila mereka menghambat-hambat naskah ketua, atau terus mempertahankan sikap-sikap yang tidak membantu perundingan-perundingan bergerak maju! Para juru runding di sini di Jenewa (dan menteri-menteri mereka di Cancun) akan dicap sebagai tidak konstruktif!
Catatan-catatan juga untuk menghindarkan diri dari kebohongan-kebohongan yang sama sekali palsu atau salah informasi yang sering digunakan dalam permainan ini, terutama ketika para juru runding dari negara-negara maju bertemu dengan lawan-lawan berunding mereka dari negara-negara berkembang. Misalnya, Komisaris Dagang Uni Eropa Pascla Lamy atau Wakil Perdagangan Amerika Serikat Robert Zoellick bisa berkata kepada para menteri negara-negara berkembang bahwa ada sedikit penolakan terhadap isu tertentu (misalnya, fasilitasi perdagangan) ketika, sesungguhnya banyak keprihatinan dan penolakan mentah-mentah diucapkan dalam pertemuan-pertemuan informal dan tidak tercatat di Jenewa.

APAKAH SKENARIO SEATTLE II BURUK BAGI NEGARA-NEGARA BERKEMBANG?
Bahkan ketika negara-negara maju membebani agenda Cancun dengan bersikeras memulai perundingan-perundingan dibidang-bidang yang baru (seperti investasi, persaingan yang tidak diinginkan oleh negara-negara berkembang), kesalahan akan digeser ke negara-negara berkembang, haruskah mereka bersikeras menolaknya? Kampanye kotor, yang menggunakan media, akan dilancarkan terhadap negara-negara yang ingin mempertahankan wilayah kebijakan nasional mereka sendiri, seperti yang dilakukan India di Doha.
Mereka akan dicap sebagai ‘musuh’ karena mengancam bangkrutnya sistem perdagangan multilateral. Tidak ada menteri dari negara berkembang yang senang mendapat tuduhan sekeras itu, dari patner-patner dagang utama mereka.
Tetapi apakah skenario Seattle II merupakan sesuatu yang buruk? Negara-negara berkembang pada saat ini sedang dipaksa untuk meliberalisasi dan melakukan deregulasi, sekalipun perusahaan-perusahaan dalam negeri mereka tak bisa bersaing dengan raksasa-raksasa transnasional. Bukankah bangkrutnya industri-industri dalam negeri mereka (sebagaimana sudah dan sedang terjadi) tidak baik bagi pembangunan?
Sepintas lalu, WTO berbasis hukum dan demokratis. Tetapi dalam kenyataan, WTO menempatkan hukum untuk mencurangi kepentingan negara-negara berkembang dengan menggunakan taktik-taktik yang sewenang-wenang dan isolasi total, yang dibarengi dengan gertak sambal di ruang rahasia, pemerasan (seperti ancaman penghentian bantuan dan pinjaman lunak) dan penyuapan (penawaran bantuan teknis).

Aileen Kwa adalah analis kebijakan untuk Focus on the Global South, lembaga yang berkantor di Bangkok. Ia menulis buku ‘Power Politics in the WTO’ dan penulis pendamping untuk buku yang akan terbit, ‘Behind the Scenes at the WTO : The Real World of International Trade Negotiations’. Ia bisa dihubungi lewat e-mail : aileenkwa@yahoo.com