|
|
||||||||
EKSPOR ENVIRONMENTALISME ENRON: VISI BUSH UNTUK JOHANNESBURG |
||||||||
| Victor
Menotti*
|
||||||||
| September 25, 2002 | ||||||||
|
Ketidakhadiran
Presiden George. W. Bush akan sangat mencolok, ketika para kepala negara dan
puluhan ribu orang tumpah ruah di Johannesburg, Afrika Selatan dari tanggal
26 Agustus s/d 4 September 2002, pada konferensi puncak PBB tentang pembangunan
berkelanjutan, World Summit on Sustainable Development (WSSD) yang menandai
tahun ke sepuluh sejak pertemuan puncak Rio de Janeiro. Sekalipun secara fisik
tidak hadir, akan tetapi visi George Bush akan tetap hadir. Sekalipun pada saat
persiapan untuk pertemuan puncak banyak kritik terhadap Amerika, dianggap "tidak
terlibat" atau "tidak bersungguh sungguh" dalam proses WSSD,
tetapi kalau kita periksa seksama hasil-hasil yang dibayangkan akan muncul,
maka akan nampak bahwa kritik ini tidak benar. Rencana
Bush untuk pertemuan Johannesburg menunjukkan proyeksi yang lebih strategis
daripada apapun yang pernah dia ajukan ke pertemuan internasional. Di dalam
"Jalan menuju ke Johannesburg", terdapat rancangan besar yang akan
membebaskan Amerika Serikat dari tanggungjawab terhadap krisis kembar kemiskinan
global dan kerusakan lingkungan global. Sekalipun
banyak orang menilai bahwa PBB tanpa diganggu memang peranannya sudah sangat
kecil, akan tetapi tetaplah kita perlu mengakui dibutuhkannya suatu institusi
internasional di luar WTO dan IMF, yang dapat memberi batas pada globalisasi
korporatis. Memang PBB telah menghasilkan banyak instrumen legal penting yang
dapat melindungi ekosistem dan masyarakat miskin dari injakan perusahaan global.
Sistem perlindungan yang disebut sebagai kesepakatan lingkungan multilateral
PBB (Multilateral Environment Agreement / MEA) ini lah yang sebenarnya akan
dihancurkan oleh pemerintahan Bush. Penarikan diri dari Protokol Kyoto hanyalah
ujung kecil saja. Di balik semua ini ada langkah besar untuk menarik diri dan
menaklukan seluruh sistem MEA. Johannesburg,
sebuah pertemuan penting antar pemerintah demi menangani krisi global, oleh
proposal Bush dibelokkan menjadi ajang untuk promosi pertumbuhan korporatisme.
Lebih jauh lagi poroposal Bush telah menutup segala kemungkinan munculnya solusi
yang nyata. Proposal Bush memuat setidaknya tiga strategi utama: 1.
Menggulung Rio Dengan
cara menarik diri dari prinsip-prinsip kunci dan memblokir segala komitmen pemerintahan
baru untuk memberlakukan hasil hasil Rio. 2.
Menghijaukan Globalisasi Dengan
cara menekankan bahwa cara suatu pemerintahan untuk menerapkan pembangunan berkelanjutan
adalah dengan merangkul Agenda Baru Doha dari WTO (World Trade Organization)
untuk perdagangan bebas global. 3.
Mengekspor "Environmentalisme Enron" Yaitu
dengan cara menggeserkan tanggungjawab perusahaan terhadap krisis melalui "kemitraan"
sukarela antara publik-privat dalam soal air, energi dan sector-sektor lainnya. Sekalipun
dengan segala kekurangan dan banyaknya bagian yang perlu direformasi, PBB dengan
MEA-nya memuat proses yang absah yang telah menghasilkan produk yang perlu dibela.
Dalam teori dan prakteknya, PBB merupakan satu-satunya institusi internasional
dimana ide-ide dari masyarakat dapat diajukan, disepakati dan diimplementasi
sebagai hukum internasional. Apa yang sedang dipertaruhkan di Johannesburg adalah
keutuhan dari mekanisme ini untuk melawan globalisasi korporatis. Selain keutuhan,
juga dipertaruhkan ruang strategis di dalam arsitektur internasional yang ditempati
sistem perlindungan PBB. Penggulungan
RIO Secara
spesifik AS mencoba menarik diri dari setidak-tidaknya dua negosiasi prinsip
yang telah disepakati di RIO: a.
Prinsip pencegahan (Precautionary Principle) Adalah
pemikiran bahwa pemerintah harus mencermati adanya kemungkinan terjadinya kerusakan
lingkungan yang parah dan tak dapat diperbaiki. Butir ini adalah sendi dari
berbagai penciptaan kebijakan publik untuk lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Banyak industri berbasis teknologi (seperti misalnya bioteknologi, kimia dan
bahkan manufaktur peralatan telekomunikasi) memandang prinsip ini menghalangi
pengembangan dan penggelaran penemuan-penemuan baru mereka. Pandangan ini memang
benar, karena "prinsip pencegahan" menuntut bahwa industri harus menunjukkan
"tidak adanya bahaya" sebelum mengakibatkan masyarakat memikul risiko
eksperimen industri. Prinsip
Pencegahan juga merupakan suatu sendi penting dari salah satu produk terpenting
Rio yaitu Konvensi tentang keragaman hayati, "Protokol Cartagena tentang
keamanan biologi", yang memberikan hak kepada bangsa-bangsa untuk menetapkan
regulasi terhadap import bahan hidup yang dimodifikasi secara genetis (Genetically
Modified Organism / GMO). Malangnya konsep ini bertabrakan dengan aturan WTO
yang menetapkan bahwa suatu negara perlu menggunakan "dasar ilmiah yang
kokoh" dengan menggelar bukti ilmiah yang konklusif sebelum memberlakukan
segala tindakan yang mungkin dapat membatasi perdagangan. Aturan WTO ini berlawanan
dengan prinsip pencegahan. AS ingin agar aturan WTO inilah yang menang agar
industri bioteknologi AS tidak menghadapi pembatasan dalam eskpor benih hasil
rekayasa genetik mereka. Tindakan meremehkan prinsip pencegahan ini akan bergema
memantul ke berbagai kebijakan internasional lain, seperti misalnya kebijakan
tentang makluk yang terancam punah, agen polusi organik persisten (Persistent
Organic pollutant /POP), perubahan iklim dan lain lain. b.
"Tanggung jawab bersama tapi membedakan" Ini
adalah konsep bahwa negara yang berperan terbesar dalam menyebabkan persoalan
harus juga terdepan dalam mengatasinya. Konsep ini terutama penting demi negara
miskin yang tidak punya sumber daya teknologi dan finansial untuk bertindak.
Sebagai contoh, banyak negara maju memandang bahwa persoalan perubahan iklim
disebabkan oleh negara-negara industri, dan karena itu negara industri-lah yang
harus memulai membersihkannya. Banyak negara ingin menjalankan tindakan untuk
menghindari biaya tinggi pembakaran minyak bumi di negara berkembang, tetapi
langkah ini akan sulit dimulai apabila produsen polusi terbesar tidak memulainya.
Jika prinsip (yang disetujui oleh ayahnya Bush di Rio) ini ditolak, maka hasil
upaya perundingan antar pemerintah bertahun-tahun untuk sampai pada kesepakatan
tentang bagaimana cara mengatasi masalah lingkungan akan diremehkan. Amerika
Serikat juga secara aktif memblokir segala upaya negara manapun untuk membawa
produk Rio ke Johannesburg. Para penandatangan protokol Kyoto berencana untuk
menyelenggarakan upacara seremonial untuk "memberlakukan" protokol
Kyoto di Johannesburg, dengan demikian akan mempermalukan AS yang baru-baru
ini menarik diri dari protokol tersebut. AS juga telah menekan segala upaya
pendanaan bagi negara miskin untuk menerapkan hasil-hasil kesepakatan Rio. Kepala
delegasi AS di pertemuan di Bali, Jonathan Margolis, tatkala menjelaskan mengapa
pemerintah Bush begitu berniat menghentikan segala tindak lanjut baru, mengatakan
bahwa jadual dan target adalah ‘teater’ dan ‘tak akan berguna’. Jonathan kiranya
perlu disarankan untuk berkonsultasi dengan koleganya di kantor perwakilan perdagangan
AS, yang tak pernah gagal menggunakan jadual dan target dalam negosiasi untuk
kesepakatan-kesepakatan baru dalam perdagangan bebas. MENGHIJAUKAN
GLOBALISASI AS
memimpin dalam menggelar wacana "menghijaukan globalisasi" di Johannesburg
dengan memaparkan agenda perdagangan dan penanaman modal bebas sebagai identik
dengan pembangunan berkelanjutan. Di pertemuan di Bali, negosiator dari perwakilan
perdagangan AS bersikukuh bahwa cara terbaik bagi pemerintah untuk menangani
masalah lingkungan dan kemiskinan adalah dengan mengadopsi program kerja baru
Doha WTO. Klaim AS ini sebenarnya menutup mata pada kenyataan mendasar bahwa
kesepakatan pasar perdagangan bebas, dirancang untuk mengikis kemampuan masyarakat
untuk menggunakan pemerintahnya untuk mengatur kegiatan ekonomi. Melepaskan
kendali pemerintah terhadap tindak-tanduk perusahaan justru berlawanan dengan
langkah pemerintah untuk "mengubah arah ekonomi" menuju pembangunan
berkelanjutan. Ketidakpuasan
terhadap Doha dan keterpecahan tentang dampak globalisasi banyak nampak di berbagai
paragraf pada "Draft rencana implementasi untuk WSSD", antara
lain: Paragraf
45: "Suatu keprihatinan yang mendalam dan meningkat bahwa tidak semua negara
memetik manfaat dari globalisasi, dan bahwa beberapa negara tertinggal dalam
globalisasi". Ini adalah bahasa yang dikehendaki negara miskin untuk mengungkapkan
ketidakpuasan terhadap globalisasi. AS tidak akan membiarkan pernyataan resmi
apapun bahwa ekonomi global berdampak menyebabkan kerusakan. Paragraf
82: "Diadakannya mekanisme internasional untuk stabilisasi harga- harga
komoditas demi menghadapi ketidakstabilan harga komoditas dan menurunnya nilai
tukar (terms of trade)". Bahasa yang dikehendaki negara-negara miskin ini
menunjukkan adanya suatu pertempuran kunci dengan negara industri. Sebagai akibat
dari menuruti nasihat IMF/Bank Dunia, banyak negara berfokus pada mengekspor
hanya dua atau tiga komoditas. Akan tetapi karena begitu banyak negara yang
menuruti nasehat IMF yang demikian itu, maka terjadi kelebihan produksi yang
serius, mengakibatkan kemacetan di pasar komoditas global, sehingga pendapatan
para produsen komoditas menurun terus. Jika fenomena ini dikombinasikan dengan
aturan WTO yang melarang negara-negara membatasi ekspor demi menaikkan harga,
maka deregulasi pasaran komoditas global merupakan bencana ekologi dan sosial.
Diperlukan suatu putaran baru kesepakatan-kesepakatan komoditas internasional
di agenda global dan salah satu ajang negosiasi untuk hal ini adalah di WSSD.
AS sangat menolak agenda- agenda untuk mekanisme seperti ini. Paragraf
87: "Ketidak-seimbangan dan asimetri yang terkandung dalam kesepakatan
WTO". Bahasa ini juga adalah advokasi negara-negara miskin yang menderita
dampak dari aturan-aturan perdagangan saat ini. Berlawanan dengan butir ini,
AS ingin menghindari segala rujukan negatif dalam hasil-hasil resmi yang mungkin
akan dapat mengarah kepada perubahan aturan WTO. Paragraf
88: "Pelaksanaan kesepakatan WTO-TRIPS (Trade Related Intellectual Property
Rights) untuk mengatasi masalah-masalah kesehatan masyarakat yang menimpa banyak
negara berkembang dan negara kurang berkembang". Konsep ini adalah kehendak
AS dalam rangka memperkuat rezim paten global yang memproduksi obat-obat penting
yang terlalu mahal bagi negara miskin yang menghadapi masalah-masalah HIV/AIDS,
TBC, Malaria, dan berbagai epidemi lainnya. Paragraf
122: "Memastikan adanya koherensi dan saling mendukung antara aturan MEA
dan aturan WTO". Ini adalah redaksi yang diajukan AS. Dengan istilah "koherensi",
AS mengartikannya sebagai bahwa MEA tunduk dibawah WTO. Butir ini adalah isu
sentral penyelenggaraan (governance) yang dipertaruhkan di Johannesburg, di
mana para menteri-menteri lingkungan hidup sedunia seharusnya menyatakan bahwa
nasib MEA jangan sampai hanya ditentukan oleh WTO saja (lihat "From Doha
to Johannesburg" di www.ifg.org). EKSPOR
"ENVIRONMENTALISME ENRON" AS
perlu membawa sesuatu yang bisa disampaikan di Johannesburg. Untuk itu AS sedang
berusaha merampungkan suatu paket konsep tentang "kemitraan" sukarela
antara kepentingan publik dan sektor privat untuk WSSD. Sekjen pertemuan puncak
Johannesburg Nitin Desai telah menyatakan bahwa "kemitraan jangan dijadikan
substitusi dari komitmen baru pemerintah". Nitin Desai menggunakan istilah
"koalisi yang mau". Persoalan di Johannesburg adalah mengabaikan "yang
tidak mau", yaitu perusahaan-perusahaan besar dan pemerintahan nakal yang
menentang opini publik dan hukum-hukum internasional. Kasus-kasus inilah sebenarnya
persoalan yang sesungguhnya, dan sejauh ini tidak ada indikasi niat politis
atau pembicaraan serius di WSSD tentang bagaimana menghadapi hal ini. AS
secara sempit mendefinisikan problem ini sebagai "tidak cukup jumlah masyarakat
yang menikmati akses pada pelayanan mendasar, oleh karena itu kita perlu menyediakannya
untuk menaikkan standar taraf kehidupan". Butir ini ada benarnya sebagai
bagian dari rumus, tetapi ada kelemahan penting yakni karena: (1) butir ini
memandang bahwa penyelesaiannya adalah pendekatan "pertumbuhan", padahal
pendekatan ini telah terbukti mengundang risiko ambang batas ketahanan lingkungan
dan sosial; (2) mengabaikan kelebihan konsumsi sumber daya yang padat limbah
di negara industri. Salah
satu bagian yang paling aneh dalam retorika delegasi AS adalah bahwa delegasi
AS nampak sangat yakin bahwa permasalahan yang dihadapi dunia memang sangat
besar, akan tetapi resep yang diajukan untuk menghadapinya hanya berurusan dengan
kepentingan AS. Sebenarnya penyelesaian yang diajukan AS sama dengan kebijakan
yang selama ini telah digelar dan selama ini terbukti menyebabkan bencana-bencana
global. Visi Bush adalah mempercepat (dengan uang para pembayar pajak) proses
privatisasi pelayanan mendasar seperti air dan energi, melalui kemitraan tanpa
mekanisme akuntabilitas. Inilah yang disebut sebagai "ENVIROMENTALISME
ENRON". Para
sejarahwan bisa meninjau kembali kontradiksi tak terselesaikan yang saat ini
sedang berlangsung, yaitu bahwa: pada saat korupsi korporatis sedang melanda
politik dan pasar finansial AS (lengkap dengan tuduhan penggelapan pada birokrat
elit Bush) beberapa minggu sebelum pertemuan puncak Johannesburg, pada saat
yang sama delegasi negosiator AS masih bisa mendominasi prosiding WSSD dengan
nasihat-nasihat tentang "good governance" dan menekankan bahwa dunia
sebaiknya percaya pada inisiatif perusahaan tanpa regulasi. Kalau kita tidak
bisa mempercayakan urusan pensiun kita pada perusahaan, mengapa kita mempercayakan
planet ini kepada mereka? Dengan
meletakkan prioritas pada kemitraan atas pelayanan Air, Energi, Kesehatan, dan
Keragaman hayati (Water, Energy, Health, Agriculture and Biodiversity/WEHAB),
pemerintahan Bush menjanjikan akan menyediakan lebih banyak lagi "pelayanan"
melalui agenda mereka. Agenda ini mungkin bisa dicontohkan dengan kasus "Cochabamba
Plus", merujuk pada suatu kota kecil di Bolivia di mana privatisasi pelayanan
air telah menaikkan harganya sampai 300%, menyebabkan protes masyarakat dan
menjadi sebuah kasus ilustrasi global tentang penolakan terhadap privatisasi.
Proposal "ketersediaan energi" mematok sasaran bahwa "Pada tahun
2015 akan secara signifikan mengurangi jumlah penduduk yang tidak punya akses
pada pelayanan energi yang bersih, aman, handal, dan terjangkau". Sekalipun
klaim ini sekilas nampak masuk akal, tetapi sebenarnya akan dicapai melalui
privatisasi pelayanan energi, yang searah dengan proposal AS di WTO yaitu melebarkan
sayap pelayanan energinya ke seluruh dunia. Sekalipun
di satu sisi inisiatif-inisiatif privatisasi mungkin saja berarti berkembangnya
pasar bagi perusahaan perusahaan AS, tapi pencapaian pelaksanaannya mungkin
tidak terlalu menguntungkan. Untuk menjamin bahwa sektor privat memperoleh keuntungan
dari mekanisme ini, AS sedang menggelar suatu mekanisme yang disebut oleh Bush
sebagai "Global Marshall Plan" – yaitu konsep Millenium Challenge
Account (MCA). Konsep MCA ini akan menaikkan bantuan pembangunan AS ke luar
negeri sampai 50 %, dengan syarat bahwa bantuan ini hanya akan diberikan kepada
negara-negara yang terdepan dalam memulai membuka ekonominya bagi perdagangan
dan penanaman modal AS tanpa regulasi. Demi
melembagakan pergeseran fungsi PBB, AS ingin CSD (Committee on Sustainable Development)
untuk memfokuskan diri pada kemitraan baru dengan mengubahnya sebagai "penyelenggara"
kesepakatan bisnis dilengkapi dengan stempel dukungan PBB. Kemitraan bukanlah
barang baru, dan selama ini tidak banyak butuh campur tangan resmi pemerintah,
maka dari itu tak ada alasan untuk memanfaatkan satu-satunya forum antar pemerintah
untuk mensponsorinya, kecuali kalau memang niatnya adalah menjamin bahwa CSD
tidak melakukan sesuatu yang menghalangi kekuasaan perusahan. APA
YANG DIPERTARUHKAN DI JOHANNESBURG Keserakahan
perusahaan mengancam keamanan masa depan, dan generasi yang akan datang. Sebagaimana
privatisasi dan deregulasi memungkinkan para eksekutif menghisap dana besar
dari investor kecil, demikian juga privatisasi dan deregulasi ini telah membuka
jalan bagi perusahaan untuk mencuri modal alam yang menjadi gantungan kehidupan
orang banyak. Para kritikus globalisasi korporatis sering ditantang dengan pertanyaan
"Lalu apa alternatif kalian?" Pada forum WSSD inilah elemen-elemen
kunci dari sistem alternatif tersebut mendapatkan serangan. Dalam sistim internasional
yang akan muncul, yang didominasi oleh institusi yang pro hak perusahaan, Visi
Bush adalah serangan siluman terhadap sisa struktur yang masih dapat melindungi
rakyat dan bumi. Kalau kita bisa melihat kenyataan bahwa rangkaian proses PBB
(dari Stockholm 1972 sampai Rio 1992 sampai Johannesburg 2002) dan berbagai
produk MEA-nya adalah instrumen internasional yang tersedia untuk mengimbangi
globalisasi korporatis, maka dengan mudah dapat dilihat bahwa yang sedang dipertaruhkan
di Johannesburg adalah keselamatan dan prospek masa depan dari pandangan- pandangan
alternatif.
Victor Menotti : International Forum on Globalization (vmenotti@ifg.org). |
||||||||
|
|
||||||||