|
|
||||||||
KOMERSIALISASI
KEBERLANJUTAN: WTO DI WSSD |
||||||||
|
Shalmali Guttal |
||||||||
| September 25, 2002 | ||||||||
|
(Laporan ini ditulis setelah Prep.Com IV di Bali, tiga bulan kemudian
belum banyak terjadi perubahan). Hampir
selama 2 minggu berbagai negara yang bertemu di Pertemuan komite persiapan
ke-empat (Prep.Com IV) konperensi puncak tentang pembangunan berkelanjutan
(WSSD), terlibat pertarungan sengit dalam menentukan program kerja yang
akan dibawa ke Johannesburg bulan Agustus ini. Berdasarkan laporan dari
pengamat di berbagai sesi, dan berdasarkan keadaan terakhir Draft rencana
implementasi versi tanggal 2 Juni 2002 (diistilahkan sebagai Naskah ketua),
nampak kebuntuan tanpa harapan, antara Utara-Selatan, Utara-Utara, dan
bahkan Selatan-Selatan. Kebuntuan
inti terletak pada isu-isu liberalisasi perdagangan, akuntabilitas dan
regulasi perusahaan, lingkungan domestik untuk penanaman modal swasta,
penyelenggaraan pemerintahan, pembiayaan pembangunan, transfer teknologi,
bantuan teknis dan peningkatan kapasitas. Gugus Jepang, AS, Canada, Australia
dan Selandia Baru (kelompok JUZCANZ) telah mematahkan segala upaya untuk
menetapkan sasaran dan jadual untuk komitmen antar pemerintah dan inisiatif
multilateral. Uni Eropa mencoba menyembunyikan kepentingannya dibalik
soal ratifikasi Persetujuan
lingkungan hidup multilateral (Multilateral Environment Agreement
/ MEA). Mereka semua dengan tangkas memblokir segala upaya untuk mengendalikan
liberalisasi perdagangan dan penanaman modal atau untuk membatasi kekuasaan
sektor perusahaan. Cina dan Kelompok G-77 juga ikut tersandung, tidak
berhasil muncul dengan posisi kolektif yang dapat cukup mewakili prioritas
dari beragam anggota kelompok. Utusan wilayah Selatan yang progresif tidak
hadir atau kalaupun hadir tak bersuara dalam negosiasi kunci. Secara umum
kelompok G-77 nampaknya cukup puas hanya dengan Agenda OPEC sebagai posisi
kolektif untuk seluruh anggota kelompok. Yang
nampaknya disepakati oleh kebanyakan utusan adalah bahwa globalisasi ekonomi
dan rezim perdagangan WTO tak boleh dikompromikan oleh pembicaraan muluk
tentang pembangunan yang berkelanjutan. Ketidaksepakatan terhadap Naskah
ketua lebih mencerminkan perbedaan pandangan para pemerintah pada format
dan modalitas, dan bukan tentang posisi substantif terhadap keberlanjutan.
APAKAH
NASKAH KETUA BERBICARA TENTANG PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN? Jawabnya: TIDAK.
Paragraf pertama naskah ketua ini menegaskan kembali komitmen berbagai
pemerintah terhadap Prinsip-prinsip Rio, pelaksanaan penuh agenda 21,
pencapaian tujuan-tujuan pembangunan yang telah disepakati secara internasional
– termasuk yang termuat dalam deklarasi Millenium PBB - dan hasil-hasil
dari berbagai persetujuan internasional sejak tahun 1992. Nah disinilah
kemunduran dari naskah draft implementasi. Persetujuan
Internasional yang paling signifikan selama sepuluh tahun terakhir adalah
berdirinya WTO. Kesepakatan yang dinegosiasikan di dalam WTO mempunyai
kekuatan pemberlakuan lebih dari kesepakatan di segala forum multilateral
lain. Di berbagai paragraf, naskah ketua menyatakan kembali komitmen berbagai
pemerintahan untuk melaksanakan kesepakatan dan inisiatif WTO. Tapi jutaan
orang sudah tahu dan jutaan orang lain akan segera tahu bahwa kita semua
perlu daya khayal luar biasa untuk bisa melihat adanya korelasi positif
antara WTO dengan pembangunan yang berkelanjutan. Dalam
kerangka WSSD, Pembangunan berkelanjutan diasumsikan tergantung pada 3
pilar yaitu: Lingkungan hidup, ekonomi dan sosial. Anggapan logisnya adalah
bahwa menurut definisi ini, suatu agenda pembangunan yang berkelanjutan
akan mengupayakan tindakan-tindakan yang mendukung kesetaraan, keadilan
sosial dan ekonomi, perlindungan lingkungan hidup, peluang yang adil bagi
pembangunan manusia, sosial dan ekonomi, juga menjamin hak masyarakat
atas penghidupan yang aman dan sehat, dan sebagainya. Semua ini tidak
muncul. Berbagai rencana kerja yang digariskan oleh Naskah Ketua tidak
menyentuh penyebab dan dasar dari kegagalan keberlanjutan, dan ketidak-adilan
yang mengganggu stabilitas kehidupan dan planet ini. Naskah ketua berisi
wacana standard resep-resep yang ramah globalisasi dengan ditambahi imbuhan
"berkelanjutan" di sana sini. Ada strategi yang menarik dalam
naskah Draft rencana ini, yaitu bagaimana tantangan dan tanggungjawab
pembangunan berkelanjutan dibagi antara negara maju dan negara
berkembang. Dalam naskah tersebut permasalahan utama yang dihadapkan kepada
negara maju adalah konsumsi yang tak berkelanjutan dan sarat limbah, sedangkan
negara berkembang dipersalahkan atas baik konsumsi maupun produksi yang
tak berkelanjutan dan sarat limbah.. Soalnya adalah bahwa dalam melaksanakan
pembangunan berkelanjutan, negara maju punya modal, teknologi, sumber
daya, struktur institusional dan pengetahuan yang tidak dimiliki negara
berkembang. Di lain fihak kebanyakan rakyat miskin berada di negara berkembang,
dan karena kemiskinan menghalangi pembangunan berkelanjutan (disebut demikian
dalam naskah), maka negara berkembanglah yang harus menggelar keputusan
dan langkah tegas untuk pembangunan berkelanjutan. Dengan demikian maka selanjutnya
denah yang tergelar untuk menghadapi tantangan pembangunan yang berkelanjutan
kurang lebih adalah penegasan kembali hubungan ekonomi kolonial : yaitu
negara berkembang harus melaksanakan serangkaian langkah-langkah di semua
sektor demi pembangunan berkelanjutan, menggunakan teknologi, kapasitas
institusional dan sumber daya finansial yang dimiliki negara maju. Sebagai
imbalannya negara memberikan sumber alam dan pasar kepada negara maju.
Janji penanaman modal, dukungan finansial dan bantuan teknis di masa depan
diberikan dengan syarat bahwa negara berkembang harus melaksanakan langkah
apapun demi mencapai pembangunan berkelanjutan sesuai tercantum dalam
naskah draft rencana. Dalam draft ini, sal ah satu dari langkah yang perlu
dicatat adalah "menciptakan lingkungan domestik yang kondusif dan
memungkinkan" untuk meningkatkan penanaman modal asing dan pelaksanaan
penuh rencana kerja dari pertemuan menteri-menteri WTO di Doha. Model pe mbangunan berorientasi pertumbuhan,
berlokomotif expor yang dipromosikan oleh negara industri kaya dan perusahaan
perusahaan mereka yang juga lebih kaya dan lembaga internasional seperti
World Bank, IMF, WTO dan Bank Pembangunan Regional tetap tak tersentuh
oleh naskah ketua. Kenyataan bahwa pendekatan pembangunan ini bertumpu
pada pola keuntungan dan kesejahteraan yang terkonsentrasi secara sempit
dan mengakibatkan bencana ekologis juga tidak disentuh. Naskah ini juga
tidak menyebutkan pengaruh program penyesuaian struktural di masa lalu
dan sekarang, meningkatnya militerisasi, beban hutang yang menumpuk, dan
persyaratan perdagangan yang selalu memburuk terhadap ekonomi, lingkungan
hidup dan masyarakat di negara berkembang. Sebaliknya
draft rencana mengusulkan supaya kapasitas negara berkembang diperkuat
dengan cara meningkatkan campur tangan dari para aktor yang dulunya sangat
berperan dalam mengakibatkan krisis pemiskinan struktural, perusakan lingkungan,
dan kerawanan sosial; yaitu lembaga keuangan internasional, WTO, traktat
perdagangan regional, dan perusahaan swasta. Di bidang krisis utang, muncul
hal baru yaitu utang pertukaran pembangunan, dan keterlibatan sektor swasta
dalam mengurusi krisis akibat utang. Kebanyakan keterlibatan ini terjadi
karena sejak awal penanaman modal sektor privat memang tidak diregulasi.
Tuntutan untuk suatu kerangka legal yang berlaku tentang akuntabiltas
perusahaan telah digulung, disulap menjadi "kemitraan tipe II"
di mana perusahaan
sektor swasta menyetorkan dana dan teknologi, dan sebagai imbalannya regulasi
dan pengawasan publik dikurangi. Draft
rencana implementasi sedikitpun tidak membahas tentang pembangunan berkelanjutan
itu sendiri. Draft ini dipandu oleh asumsi bahwa globalisasi korporatis
kurang lebih adalah sesuatu yang baik-baik saja, dan dengan menambahkan
kata "berkelanjutan" pada praktek-praktek yang sudah berjalan,
pemerintah dapat terus dengan bisnis mereka memindah kesejahteraan publik
ke kantong swasta, tanpa lebih jauh mempertimbangkan dampak kerusakan
taraf kehidupan yang akan dialami oleh mayoritas masyarakatnya. Privatisasi
pembiayaan pembangunan sebagaimana yang tercantum dalam Konsensus Monterey
telah secara mulus diperlebar ke dalam naskah WSSD. Sektor swasta yang
dalam pembangunan berkelanjutan sudah sangat diperluas perannya, dalam
Naskah WSSD diberi perluasan peran lagi, tetapi tanpa perlu dilengkapi
dengan mekanisme yang dapat diberlakukan secara legal untuk menguji akuntabilitas
dan tanggung jawab mereka. Bagian
V draft rencana (pembangunan berkelanjutan dalam dunia globalisasi) menjabarkan
rangkaian tindakan yang diperlukan untuk "memungkinkan globalisasi
berjalan baik dalam pembangunan berkelanjutan". Dapat diramalkan
bahwa langkah-langkah yang disarankan ini antara lain termasuk juga berbagai
kebijakan yang selama ini telah mengakibatkan krisis sosial, ekonomi dan
ekologi yang dihadapi kebanyakan orang di muka bumi ini: yaitu kebijakan
memperbesar liberalisasi ekonomi keseluruhan, deregulasi perdagangan dan
penanaman modal ber-orientasi ekspor, memperbesar kekuasaan perusahaan
dan sektor swasta melalui "kemitraan publik-dan-swasta", memperkecil
tanggungjawab pengaturan dari pihak pemerintah, dan mempromosikan inisiatif
sukarela akuntabilitas dan pelaporan perusahaan. Pada saat yang sama pemerintah
negara berkembang harus menerapkan resep "penyelenggaraan pemerintahan
yang baik" (good governance) yang digelar oleh negara demi
memperlancar efisiensi ODA, dan menarik arus modal serta memfasilitasi
penanaman modal sektor swasta internasional termasuk perusahaan transnasional. Naskah ketua juga memainkan bahasa
tentang memperkuat kapasitas perempuan, masyarakat adat dan para petani
kecil. Tapi naskah ini buta pada kenyataan bahwa kelompok-kelompok ini
telah mengalami proses perenggutan daya sebagai akibat akumulasi peminggiran
dari hutan, tanah, sumber air yang dulunya mereka jaga turun temurun.
Kelompok-kelompok ini juga telah tersingkir dari pekerjaan yang aman dan
bermartabat, dan dari peluang yang cukup serta layak akan perkembangan
manusia. Akibat logika laba dan efisiensi, globalisasi, kaum perempuan,
masyarakat adat, petani dan nelayan kecil, buruh, dan generasi mendatang
telah kehilangan dasarnya akan makanan, aset produktif, pembangunan, kesehatan,
pendidikan, otonomi ekonomi dan kultural, dan penentuan nasib sendiri.
Dalam kera ngka yang digelar pada naskah
ketua, kelompok-kelompok tersebut kini harus masuk kedalam mekanisme pasar,
untuk mengklaim hak hak mereka yang selama ini tercerabut. DOHA + 10 bulan Draft pl an implementasi dengan jelas meletakkan
WTO di titik pusat dari segala kerangka masa depan untuk pembangunan berkelanjutan.
Peningkatan liberalisasi perdagangan melaui perjanjian perdagangan regional
juga hanya dianjurkan selama masih konsisten dengan sistim perdagangan
multilateral yang didefinisikan dalam WTO. Butir peran WTO dalam draft
rancangan ini tak bisa dinegosiasi dan dalam berbagai bagian naskah, ditekankan
bahwa semua kebijakan dan mekanisme implementasi diharapkan konsisten
dengan kerangka dan aturan WTO. Berikut ini beberapa cuplikan dari
naskah draft implementasi tersebut:
Laporan-laporan
dari contact-group pedagangan yang mengikuti jalannya negosiasi
menunjukkan bahwa negara-negara yang hadir bersemangat dalam menyisipkan
seluruh program kerja agenda Doha ke dalam rancangan pelaksanaan WSSD.
Para utusan membawa dokumen Doha ditangan mereka selama mereka bersidang
menelusuri baris demi baris
semua bagian dari masalah globalisasi, perdagangan dan keuangan. Watak
pertemuan ini sangat mirip dengan pertemuan WTO: dengan tidak adanya kesepakatan
dan konsensus yang jelas, naskah yang di ajukan AS dan EU tanpa halangan
menjadi rumusan alternatif sementara G-77 dan kelompok lain hanya bisa
termangu. Kebanyakan butir yang diajukan G-77 tidak diterima oleh kolompok
QUAD (AS, Jepang, Kanada dan EU). G-77 berjuang keras untuk mendesakkan
tambahan perlakuan berbeda dan khusus, tapi dipatahkan oleh AS dan EU,
yang sangat teguh bahwa komitmen WSSD tak dapat melangkahi komitmen WTO.
Ada desas-desus bahwa terjadi pertemuan tertutup, eksklusif, off-the-record
antara AS, EU dan G-77 untuk membereskan konsensus mengenai bagian-bagian
naskah ketua yang paling alot diperdebatkan. Penancapan agenda WTO-Doha kedalam
program kerja di Naskah Ketua sangat nampak jelas sehingga Dr. Wolfgang
Sachs, seorang ahli ekologi ternama berkomentar: "seharusnya bukan
disebut Rio+10 tahun, tapi Doha+10 bulan" Agenda WTO ditancapkan jauh lebih
dalam lagi dalam Draft rencana implementasi melalui rekomendasi untuk
meningkatkan kerjasama antara sistem PBB, sistim keuangan internasional
dengan sistim WTO. Secara keseluruhan, Naskah menyarankan supaya memperkuat
peran dan upaya lembaga lembaga Bretton Woods (BWI) dalam "mendorong
maju manfaat globalisasi" bagi pembangunan berkelanjutan. "Koherensi
kebijakan" adalah panglimanya, BWI dan badan badan PBB harus bekerja
sama untuk melaksanakan segala yang masih tersisa di Agenda 21, Deklarasi
milenium PBB, dan Konsensus PBB, dan tentu saja semua hasil konferensi
tingkat menteri Doha. MELOLOSKAN
DEREGULASI PERDAGANGAN SEBAGAI PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN. Sekalipun b ahasa preambul WTO menyatakan meningkatkan
kesejahteraan sosial dan menunjang pembangunan, akan tetapi WTO bukan
institusi pembangunan, WTO adalah institusi yang tidak setara, tidak adil,
sangat tidak transparan dan sangat tidak akuntabel. Institusi ini melindungi
dan memajukan kepentingan perusahaan besar yang kebanyakan berwatak transnasional
dan berbasis di negara kaya di utara. Perdagangan adalah kegiatan ekonomi
yang sangat penting dan mempunyai posisi kritis dalam pembangunan dan
dalam memperkuat kapasitas ekonomi domestik. Sekalipun demikian fungsi
terseburt tidak ada dalam rezim perdagangan yang diberlakukan WTO. WTO
adalah suatu tatanan yang dibangun untuk mempercepat dan memperluas globalisasi
korporatis, dan ini tercermin dalam perjanjian-perjanjian, kerangka institusional,
program kerja, serta proses pengambilan keputusannya. Menganggap bahwa
WTO sama dengan pembangunan berkelanjutan berarti membunuh segala makna
progresif yang tersisa pada konseptualisasi tentang keberlanjutan pembangunan. Model ekonomi yang dipromosikan
WTO bertumpu pada produksi dan konsumsi yang menguras dan tak berkelanjutan,
serta menciptakan ketergantungan ekspor dan utang di tingkat nasional,
lokal dan individu. Negara-negara yang menang dalam aturan main WTO adalah
negara-negara yang telah mendapatkan keuntungan signifikan dari penumpukan
modal, kapasitas teknologi, industri, produksi dan institusi yang telah
mapan. Negara yang tidak mempunyai kelebihan komparatif tersebut, akan
terreduksi menjadi "terengah-engah mengejar" (keteteran), karena
upaya upaya untuk mencapai keadilan tak pernah dilaksanakan di WTO sejalan
dengan munculnya kesepakatan baru. Dalam
model globalisasi korporatis yang diajukan WTO, segala urusan kehidupan
sehari hari, kesenangan dan rekreasi, dan bahkan krisis kemanusiaan semua
akan didefinisikan sebagai peluang bisnis. Oleh karena itu ada langkah-
langkah yang semakin meningkat
untuk memperluas perdagangan tanpa regulasi serta upaya penanaman modal
ke semua wilayah kebutuhan dasar keselamatan kehidupan: makanan, pertanian,
air, kesehatan, sanitasi, perlindungan lingkungan hidup, pendidikan, pelayanan
darurat, pariwisata, penguburan, dan sebagainya. Perjanjian WTO mengenai
pertanian (AoA) dan jasa (GATS) akan memastikan bahwa semua aspek kehidupan
kita dari lahir sampai meninggal akan dikomersialisasikan di luar jangkuan
kendali masyarakat maupun hukum. Hasi l-hasil pertemuan tingkat menteri
di Doha tidak mengandung agenda pembangunan menurut standard apapun kecuali
standard WTO itu sendiri. Deklarasi Doha menyatakan perlunya memberi perhatian
kepada isu-isu implementasi, tetapi tidak sedikitpun mengandung komitmen
untuk menangani masalah jangka panjang soal ketidak-setaraan dan ketidak-seimbangan
kapasitas negara berkembang untuk menegosiasi agenda perdagangan yang
ramah pembangunan. Program kerja tidak memuat sedikitpun
komitmen untuk mengimplementasi soal perlakuan berbeda dan khusus, juga
tak ada pernyataan yang memyarankan negara maju untuk terlebih dahulu
meninjau kembali kesepakatan TRIPs dan status privatisasi di negara berkembang
sebelum melangkah labih jauh ke negosiasi GATS. Sebaliknya program kerja
ini malahan diperluas dengan memasukkan juga isu-isu baru yaitu investasi,
kebijakan kompetisi, fasilitasi perdagangan, dan belanja pemerintah; dengan
demikian menambahi beban negara berkembang yang sudah sibuk berkutat dengan
delegasi yang kecil, kurang sumber daya dan kurang pembiayaan. Selain
itu sebuah bab baru tentang jasa lingkungan hidup telah ditambahkan pada
deklarasi pada jam ke sebelas tanpa ada konsultasi dengan mayoritas negara
berkembang. Jelas sangat mengkhawatirkan bahwa
rezim perdagangan WTO dan program kerja Doha mendapatkan peran yang sangat
sentral dalam draft rencana implementasi WSSD. Koherensi kebijakan yang
diusulkan dalam naskah ketua, mengakibatkan bahwa badan-badan PBB harus
lebih patuh lagi kepada BWI, karena dukungan finansial negara-negara G-7
dan OECD kepada BWI jauh lebih besar daripada kepada PBB. Selain itu dengan
langkah-langkah terakhir pada Prep.Com IV, maka WTO semakin mulus dalam
perjalanannya untuk menjelma menjadi pemerintahan global totaliter dengan
restu dari PBB. Dengan membiarkan semua ini terjadi,
sebenarnya akan sama saja dengan menyerahkan potensi lingkungan hidup,
kebudayaan, sosial dan ekonomi kepada perusahaan-perusahaan swasta, yang
akan beroperasi dengan tingkat impunitas jauh lebih tinggi dari sebelumnya.
Ini akan menindas segala kemungkinan peluang pembangunan berkelanjutan
yang sejati. Sekalipun banyak bagian dari naskah draft rancangan implementasi
masih dicetak tebal dan dalam kurung (yang menandakan bahwa bagian tersebut
belum mendapatkan kesepakatan), watak negosiasi sejauh ini tidak memberikan
tanda- tanda harapan bahwa naskah final yang akan diadopsi di Johannesburg
akan lebih baik dari draft versi saat ini Oleh karena itu kini kita ditantang
bukan soal bisa atau tidak mengubah berbagai paragraf draft rancangan
implementasi tersebut, melainkan soal bisakah kita mendorong pemerintah
untuk dapat menelorkan rancangan pembangunan berkelanjutan yang bukan
berbentuk perdagangan dan investasi tanpa regulasi. Dengan dasar ini,
dan dalam rangka menyelamatkan prinsip dan peluang- peluang masa depan
untuk pembangunan berkelanjutan, maka masyarakat sipil non-bisnis, non-korporat
harus menolak segala deklarasi antar pemerintah dari Prep-Com IV, yang
melegitimasikan Draft rancangan implementasi. Selanjutnya seharusnya kita
menghasilkan suatu program alternatif untuk pembangunan berkelanjutan
yang sesungguhnya dan menambah intensitas kerja kita di tingkat nasional
untuk memastikan bahwa pemerintah akan melindungi dan membela hak-hak
kita di Johannesburg. |
||||||||
|
|
||||||||