|
|
||||||||
KRISIS KAPITALISME DAN KRIMINALITAS KORPORATIS |
||||||||
Walden Bello*
|
||||||||
| September 25, 2002 | ||||||||
|
Baru baru ini beberapa perusahaan besar yang dulunya terdaftar
secara terhormat di Wall street terbongkar praktek praktek tidak layaknya. Fenomena
ini adalah hanya sebuah awal. Satu hal yang pasti, yaitu karena memang sudah
rawan sebelum jaman Enron, maka legitimasi kapitalisme global sebagai sistim
produksi, distribusi dan pertukaran yang dominan akan terus terkikis lebih jauh,
bahkan di jantung ranah asal dari sistem ini. Pada jaman kejayaan "Ekonomi
Baru" di tahun 2000, survey dari business week memaparkan bahwa 72 persen
masyarakat Amerika merasa bahwa perusahaan terlalu menguasai hidup masyarakat.
Angka itu sekarang mungkin jauh lebih tinggi lagi. Sama seperti evaluasi berlebihan terhadap saham yang mengakibatkan
jatuhnya perusahaan perusahaan dot.com di Wall street 2000-2001, tindak penyelewengan
korporatis merupakan salah satu ciri utama "Ekonomi Baru". Untuk memahami
hal ini, kita perlu memulai dari dua perkembangan penting dalam dinamika kapitalisme
global pada kurun 1980-an dan 1990-an: yaitu (1) Kapital finansial menjadi penggerak
utama ekonomi global, dan (2) krisis kelebihan kapasitas dan kelebihan produksi
dalam ekonomi sektor riil. Pada dua dekade terakhir ini terjadi deregulasi pasar finansial,
lengkap dengan dihilangkannya batas-batas perpindahan kapital antar negara dan
antar sektor usaha, salah satu contohnya adalah dihapuskannya peraturan Glass-Steagal
AS yang melarang lembaga keuangan terlibat sekaligus dalam perbankan investasi
dan perbankan komersial. Hasilnya adalah merebaknya kegiatan spekulatif secara
besar-besaran yang membuat keuangan menjadi sektor yang paling menguntungkan
dalam ekonomi global. Spekulasi sektor keuangan menjadi demikian menguntungkannya
sehingga selain dari kegiatan tradisional seperti simpan pinjam serta transasksi
saham dan ekuitas, pada tahun 1980-an dan 1990-an muncullah bentuk bentuk instrumen
finansial yang lebih canggih seperti futures, swaps, dan option-derivatives,
di mana laba diperoleh bukan dari perdagangan asset melainkan dari spekulasi
dan perkiraan risiko tentang asset. Daya pikat sektor finansial dibandingkan dengan sektor sektor
ekonomi lain seperti perdagangan dan industri, nampak jelas dari statistik,
bahwa di akhir tahun 1990-an, volume transaksi harian pasar pertukaran luar
negeri mencapai sebesar 1,2 trilyun dolar, setara dengan besar nilai transaksi
perdagangan dan jasa pada semester itu.. Dengan hujan uang pada sektor spekulatif, dan kebanyakan uang
datang dari luar AS, maka banyak perusahaan-perusahaan swasta industri, semakin
menggantungkan pembiayaannya pada kredit dalam jumlah besar dan penjualan saham,
ketimbang dari laba yang diperoleh. Ketergantungan ini makin menjadi menebal
di akhir 1990-an di akhir jaman Clinton. Boom ini mengakibatkan suatu ledakan
kegiatan penanaman modal global, yang akhirnya bermuara pada kelebihan kapasitas
di mana mana. Pada akhir 1990-an angka-angka indikator sangat mencolok. Industri
komputer di AS meningkat 40% per tahun, jauh di atas proyeksi demand tahunan.
Industri otomotif dunia hanya bisa menjual 74 persen dari produksinya sebesar
70.1 juta mobil per tahun. Begitu banyak penanaman modal di bidang sarana telekomunikasi
global, sehingga seluruh lalu-lintas dalam jaringan fiber-optic dunia baru menempati
2.5 persen dari total kapasitas jaringan tersebut. Sektor eceran juga mengalami
hal yang sama. Raksasa-raksasa eceran seperti K-Mart dan Wal-Mart mengalami
kekurangan tempat untuk barang-barang mereka. Terjadilah suatu "kelebihan
pasokan hampir di semua hal", kata ekonom Garry Shilling. Nampaknya laba mulai mengalami kemandekan di sektor usaha di
AS setelah 1997, mengakibatkan perusahaan-perusahaan besar melakukan merger,
sebagian dengan motivasi menyingkirkan saingan, sebagian dengan harapan mendapatkan
pembaruan keuntungan dari suatu proses mistis yang disebut "sinergi".
Contoh-contoh paling signifikan antara lain, penyatuan Daimler Benz-Chrysler-Mistsubishi,
Pengambil-alihan Nissan oleh Renault, merger Mobil-Exxon, kesepakatan antara
BP-Amoco-Arco, "Star-Alliance" di layanan penerbangan, merger AOL
dengan Time-Warner, Dibelinya perusahaan SLJJ MCI oleh WorldCom. Pada kenyataannya
banyak merger berakhir dengan konsolidasi pembiayaan tanpa menambah laba, seperti
pada contoh kasus AOL dan Time Warner. Ketika merger tidak bisa dilakukan, maka perusahaan bisa sampai
tewas dalam persaingan tersebut, serta mengakibatkan pailit atau bangkrut seperti
pada kasus raksasa eceran K-Mart, Dengan margin laba menjadi kurus atau habis, maka kelangsungan
hidup semakin bergantung pada pembiayaan dari Wall-street, yang semakin lama
semakin dikuasai oleh Bank blasteran investasi-komersial seperti JP Morgan Chase,
Salomon Smith Barney, dan Merril Lynch yang saling berkompetisi secara agresif.
Beberapa perusahaan yang sulit menunjukkan prospek, beralih ke jalur "mendapatkan
dana sekarang dengan menjual janji di masa depan", suatu praktek yang dikuasai
sangat baik oleh para manajer investasi di sektor high-tech. Ini adalah suatu
teknik yang nampak inovatif, teknik perdagangan yang bertumpu pada ilusi. Teknik
inilah yang mengakibatkan melangitnya share (saham) nilai di sektor teknologi
tinggi, dalam mana sebenarnya mereka kehilangan hubungan pada keadaan nyata
perusahaan. Amazon.com, misalnya melihat share sahamnya meningkat terus sekalipun
belum menjadi laba. Beberapa perusahaan lain yang baru berproduksi kehilangan
segala kontaknya pada industri dan beralih fungsi menjadi mekanisme untuk menggelembungkan
harga saham untuk memberi jalan bagi para kapitalis ventura (venture-capitalist)
dan manajer investasi yang punya akses dan pilihan untuk melakukan pembunuhan
sejak pada penjualan awal, dan setelah itu perusahahaan ditinggalkan sekarat,
lalu runtuh. Pada akhirnya, perdagangan ilusi ada batasnya. Alam nyata mengintervensi
pada tahun 2000, mengakibatkan hilangnya kekayaan investor sebesar 4,6 trilyun
dollar AS di Wall Street. Jumlah ini, menurut Business Week adalah separuh dari
Produk Domestik bruto AS, dan juga 4 kali jumlah kehilangan pada crash tahun
1987. Karena diperlebar oleh wabah dot.com, maka ekonomi AS mengalami resesi
pada tahun 2001. Dan karena keadaan nyata sudah begitu lama ditutupi oleh topeng
ilusi kekayaan, maka butuh waktu lebih lama untuk mangatasi ketidak seimbangan
struktural yang telah terbangun, itupun kalau memang mau diatasi. Akhirnya memang tak mungkin mengakali fakta untuk tetap bisa
menarik pemodal. Dalam neraca rugi laba, keuntungan harus lebih besar daripada
biaya. Ini kenyataan yang sederhana tapi berat. Kenyataan ini kemudian memunculkan
berbagai teknik akuntansi genit seperti "kemitraan"-nya Andrew Fastow,
eksekutif finansial Enron, yang sebenarnya merupakan suatu mekanisme untuk menyingkirkan
biaya dan hutang dari neraca. Ada lagi cara yang lebih kasar, misalnya seperti
yang dilakukan oleh WorldCom, yaitu menyamarkan biaya sebagai investasi. Kekuasaan
Neol-liberal dikawal oleh deregulasi dan pemanjaan sektor privat. Dalam konteks
ini, praktek-praktek tersebut dengan sangat mudah mengikis batas yang disebut
sebagai ‘dinding-api’ (firewalls) antara manajemen dengan dewan pemegang saham,
antara analis saham dengan pialang saham, antara auditor dengan yang diaudit.
Karena sama-sama dirundung oleh baying-bayang keruntuhan ekonomi serta menipisnya
pendapatan bagi semua pihak, maka baik para pengawas maupun yang diawasi memainkan
pretensi seolah olah dikendalikan oleh sistem cek dan keseimbangan, dan bersatu
untuk menciptakan ilusi kekayaan- dengan tujuan mempertahankan selama mungkin
uluran tangan dari pemodal yang tidak curiga. Front bersama ini tak bisa dipertahankan terus menerus, karena
orang-orang yang tahu keadaan sebenarnya akan sangat tergoda untuk menjual,
sebelum khalayak investor terbuka matanya. Dengan keadaan ini maka perhitungan
bisnis menyempit menjadi soal menentukan kapan menjual, kapan mengambil uang
dan kapan lari menghindar dari tindakan hukum. CEO Enron Jeffrey Skilling melihat
gelagat tanda-tanda, dia lalu mengundurkan diri, mendapatkan 112 juta dollar
AS dari menjual sahamnya, beberapa bulan sebelum kejatuhan Enron. Dennis Kozlowski
dari Tyco kurang begitu beruntung. Ia merasa tidak cukup dengan menggaruk uang
240 juta dollar AS. Ia masih berusaha memerah uang ketika perusahaan mulai jatuh,
dan sekarang ia terkena pasal menghindari pajak. Jelas akan banyak lagi bandit yang terbuka kedoknya, siapa
tahu dalam barisan ini nanti termasuk juga mungkin George W. Bush dan Dick Chenney.
Meskipun demikian kita tetap perlu ingat bahwa sekalipun akan ada sederet nama-nama,
tapi pusat persoalannya adalah pada dinamika sistim kapitalisme global berlokomotif
sektor finansial tanpa regulasi. Persoalan ini tak bisa dilenyapkan hanya dengan
pernyataan kebaikan seperti "Tak ada kapitalisme tanpa nurani" atau
penyelesaian usang seperti "good corporate governance". Sementara waktu, pemodal luar negeri meninggalkan AS, dollar
AS merosot, dan lubang kelebihan produksi makin menganga. Paduan antara krisis
ekonomi struktural yang semakin dalam dengan krisis legitimasi kapitalisme neo-liberal
ini jelas menjanjikan masa depan yang rawan. *** |
||||||||
|
|
||||||||