PANASNYA ….
Walau pun kenyataan bahwa Konferensi Tingkat Menteri WTO di Doha sudah duabelas
bulan berlalu, para anggota WTO yang berpengaruh telah memulai pekerjaan mereka
dalam meyakinkan bahwa konfigurasi faktor-faktor yang membuat keberhasilan pertemuan
Doha bagi mereka dapat kembali diulangi.
Sementara Doha mengawali negosiasi-negosiasi dalam beberapa sektor, Cancun dapat
memperluasnya dengan baik dalam putaran penuh dan juga menyokong liberalisasi
lebih jauh dalam sektor-sektor kunci, seperti pertanian dan jasa-jasa. Dalam
perundingan di Cancun akan dibicarakan isu-isu tentang investasi, kebijakan
kompetisi dan transparansi dalam belanja pemerintah. Disini diperlukan konsensus
yang jelas oleh para anggota guna memutuskan apakah perundingan-perundingan
tentang isu-isu ini akan diadakan atau tidak.
Taruhannya sangat besar bagi negara-negara maju yang mengalami resesi lama dan
melelahkan. Mereka juga bertekad meyakinkan bahwa kendaraan liberalisasi WTO,
yang jatuh di Seattle dan dikembalikan pada jalurnya di Doha, memperoleh tambahan
momentum di Cancun. Bagi negara-negara berkembang, tambahan liberalisasi pertanian
dan jasa-jasa dan ekspansi mandat WTO melalui perjanjian-perjanjian baru lebih
lanjut akan memperkokoh jerat ekonomi yang mengikat leher mereka dan diramalkan
akan lebih merusak bagi mereka, bahkan bila dibandingkan dengan putaran Uruguay
yang terkenal itu sekalipun.
MENCIPTAKAN KEMBALI KONFIGURASI DOHA TENTANG FAKTOR-FAKTOR YANG MEMBAWA “SUKSES”
Kombinasi faktor-faktor khusus yang diciptakan oleh kekuasaan besar yang membawa
Doha berakhir dengan sukses bagi Amerika dan Uni Eropa, meliputi:
- Duta Besar Harbinson sebagai ketua majelis umum berhasil memproduksi teks
yang terpisah-pisah yang menunjukan bahwa konsensus tetap berlaku jika tidak
satupun ada (lanjutan terputus dalam text)
- Serangkaian pertemuan tingkat kementrian mini dan Ruang Hijau (Green Room)
yang terdiri dari 3 negara yang menghilangkan mayoritas.
- Keluwesan dalam proses, yakni, dengan melanggar aturan-aturan prosedural untuk
membuat sebuah konsensus.
- Saat-saat untuk berhati-hati dan dosis tekanan bilateral yang diatur dengan
baik. Ini termasuk ancaman-ancaman pasca “September” bersama kami
atau melawan kami !
- Menghancurkan koalisi negara-negara berkembang dan mengucilkan ‘garis
keras’ seperti India.
Sementara masih setahun menuju Cancun, konfigurasi faktor-faktor ini sekarang
sedang disusun secara sistematis.
HARBINSON
Tidaklah mengherankan bahwa mantan duta besar Hongkong, Stuart Harbinson tahun
ini terpilih sebagai Ketua Komite Pertanian (isu yang paling sensitif dan kontroversial
di WTO), sedangkan ia masih mewakili Hongkong. Pada tanggal 10 September ia
menempati posisi barunya sebagai tangan kanan /Chef de Cabinet, Direktur Jendral
yang baru, Supachai. Negara-negara berkembang yang menentang kelanjutannya sebagai
ketua bidang pertanian karena ia menempati posisi sekretariat telah mengalami
tekanan-tekanan bilateral atau dikucilkan dari persoalan ini.
Gaya Harbinson adalah “membangun keseimbangan kepentingan-kepentingan
dimana setiap orang memberikan sesuatu dan setiap orang memperoleh sesuatu…”,
kecuali bahwa negara-negara berkembang berhenti membayar ongkos yang sangat
mahal dan tidak memperoleh sesuatu yang bahkan tidak berarti.
PERTEMUAN MINI TINGKAT MENTERI
Penguasa besar mengorganisir dua pertemuan mini tingkat menteri (mini-misterial
meeting) sebelum pertemuan Doha ketika mereka menyadari bahwa proses Jenewa
sedang membentur dinding batu. Pertemuan mini tingkat menteri bisa berfungsi
untuk mengajak para menteri dari kelompok negara-negara inti ke dalam satu barisan
dengan melakukan transaksi-transaksi bilateral sebagai kerja sampingan. Proses
itu berlanjut selama pertemuan menteri-menteri, dimana kelompok anti yang sama
diadakan di dalam Ruang Hijau (Green Room), dan paket itu diketuk bersama. Ini
memiliki pengaruh untuk memarjinalkan mereka yang tersingkir. Paket itu kemudian
dipresentasikan kepada mereka yang tersisa (yang merupakan mayoritas) untuk
mengikuti atau meninggalkan basis, dengan ancaman yang mendasar sehingga setiap
negara yang menentang paket konsensus seperti itu akan membayar ongkosnya (guna
mengakhiri rencana-rencana perdagangan istimewa).
Setelah pertemuan Doha, Duta Besar Boniface Chidyausiku dari Zimbawe mengingat
kembali pengalamannya tentang proses sebelum Doha “Negara-negara besar
menyadari bahwa mereka tidak bisa memukul proses Jenewa. Negara-negara berkembang
telah membangun kapasitas dalam proses Jenewa. Karena mereka menyadari bahwa
mereka tidak bisa memberikan agenda melalui Jenewa, mereka mulai mengadakan
pertemuan-pertemuan diantara kelompok kecil anggota-anggotanya”.
Pertemuan yang mengubah persoalan adalah pertemuan yang diadakan di Mexico (pada
akhir bulan Agustus). Setelah Mexico, orang mulai melihat permasalahan secara
berbeda. Lagi-lagi ada kelompok pilihan. Kelanjutan dari pertemuan itu adalah
pertemuan Singapura, walaupun dia mengatakan bahwa pertemuan itu bukan membahas
WTO (itu bukan pertemuan WTO). Tetapi baik ketua majelis umum maupun DG hadir
dalam pertemuan itu. Mereka juga meminta Dutabesar Singapura untuk memberikan
sambutan (laporan singkat) kepada seluruh anggota yang hadir. Menurut laporan
pers, apa yang terjadi di Singapura sangat dekat dengan apa yang disepakati
di Doha.
Metode ini kurang transparan dan merupakan tradisi peninggalan GATT, dimana
negara-negara yang kuat armada dagangnya datang bersama-sama dan memaksakan
agenda mereka kepada negara-negara lain.
PERTEMUAN KECIL TINGKAT MENTERI DI SYDNEY
Pertemuan kecil tingkat menteri telah direncanakan pada tanggal 14-15 November
2002 di Sydney. Hanya 23 negara telah diundang tetapi daftar negara-negara yang
akan hadir itu sangat penting. Tentu saja suara-suara keras yang berpengaruh
seperti India dilibatkan. Wakil-wakil negara Afrika yang selama bertahun-tahun
dan sampai saat ini dibawah pengaruh penguasa besar dan telah dididik untuk
mematahkan koalisi kelompok Afrika pada hal-hal yang strategis juga diikutsertakan.
Selain tuan rumah Australia, 23 Negara yang diundang adalah : Empat negara :
Amerika, Uni Eropa, Kanada, Jepang. Negara-negara maju lainnya : Korea Selatan,
Selandia Baru, Swiss. Negara Asia : Cina, India, Indonesia, Malaysia, Singapura,
Thailand. Amerika Latin-Karibia : Brazil, Kolombia, Mexico dan satu wakil kepulauan
Karibia. Negara-negara Afrika : Mesir, Kenya, Lesotho, Nigeria, Senegal, Afrika
Selatan.
Ini tidak berbeda dari pertemuan yang biasa dihadiri 2 negara atau peserta pertemuan
Ruang Hijau Green Room, dengan beberapa perubahan penting. Satu alasan yang
sangat penting adalah Pakistan tidak diundang, sebuah ilustrasi akan lemahnya
peranan mereka sejak 11 September dan digesernya duta besar di Jenewa yang terkenal
dan lugas bicara, Munir Akram, di awal tahun ini.
MELETAKKAN DASAR BAGI PERJANJIAN BILATERAL DENGAN NEGARA-NEGARA BERKEMBANG
YANG STRATEGIS.
Juga yang menarik adalah negara-negara Afrika yang terpilih. Di Doha wakil-wakil
kelompok Afrika (Nigeria), dan LDC (Tanzania) lah yang diundang ke pertemuan
Ruang Hijau Green Room. Negara-negara ini mengalami tekanan dan ini mengakibatkan
sikap kelompok berunding secara hati-hati untuk menggagalkan pertemuan pada
tingkat menteri.
Dari negara-negara Afrika pada daftar undangan pertemuan Sydney, telah dikenal
bahwa Afrika Selatan dan Mesir (sampai taraf yang luas) melantunkan nada yang
berpihak kepada Amerika Serikat dan Uni-Eropa. Kenya dan Nigeria juga sering
didekati oleh Amerika. Di Doha, Kenya memipin negara-negara ACP dan Menterinya
Biwott adalah orang yang bertanggung jawab meletakkan surat pelepasan ACP diatas
meja, secara jelas setelah dimanipulasi oleh anggota-anggota yang berpengaruh.
Belakangan ini Kenya memimpin kelompok Afrika di dalam WTO dan, sialnya karena
Kenya telah mengalah terhadap tekanan-tekanan yang dilakukan oleh negara-negara
besar, Kenya belum bisa memberikan kepemimpinan yang kuat sampai saat ini.
Kemungkinan baik Kenya, ataupun Nigeria akan mewakili lagi kelompok Afrika di
Cancun. Undangan mereka kesini menunjukkan bahwa negara-negara besar telah mulai
membangun suatu pemahaman dengan menteri-menteri mereka dan mulai melakukan
perundingan-perundingan dengan mereka. Dari kelompok LDC, hanya Lesotho dan
Senegal yang telah diundang. Lesotho telah menunjukkan tanda-tanda bahwa negeri
itu sering bertindak di bawah pengaruh Afrika Selatan (lagi tentang Lesotho
ada dalam bagian selanjutnya).
Semua menteri yang diundang telah menandakan bahwa mereka akan menghadiri pertemuan
kecil tingkat menteri (kira-kira pertengahan September) kecuali Cina. Menurut
seorang pejabat India pilihan mereka bukanlah untuk menghadiri pertemuan istimewa,
tetapi sebaiknya mereka ada di sana.
PERTANIAN AKAN MENEMPATI TAHAPAN UTAMA
Sampai saat ini tak ada agenda resmi dalam pertemuan Sydney, tetapi jangan
terlalu berandai-andai bahwa pertanian akan menjadi tahapan utama. Pertemuan
itu diadakan hanya sebulan sebelum kepala Sekretariat de Cabinet Cum, Ketua
Komite Bidang Pertanian, Stuart Harbinson, meluncurkan draf barunya tentang
perjanjian pertanian.
Pertanian juga menjadi isu yang paling diperdebatkan dalam persiapan menuju
Cancun. Negara-negara besar dalam negosiasi-negosiasi pertanian (Amerika, Uni
Eropa dan Australia) hampir menyepakati, tetapi tugas di belakang mereka yang
akan disampaikan di Sydney dipercayakan kepada Australia, dan Amerika akan merajut
kekuatan-kekuatan dalam Cairns Group (Kelompok Cairns) dan menyuap atau menekan
negara-negara lain, seperti Indonesia, agar tetap duduk di dewan pengurus. (lihat
artikel di atas). Tugas panitia mereka lainnya adalah menjual posisi mereka
yang berada di luar kelompok Cairns seperti India dan wakil-wakil negara Afrika.
Ada juga beberapa perbedaan yang sangat mendasar antara posisi Uni Eropa dan
Cairns, termasuk formula bagi pemotongan tarif dan tingkat penurunan bantuan
domestik. Berbagai paket perjanjian mesti harus dibuat antara Uni Eropa dengan
berbagai anggota Cairns.
PATAHKAN SEMUA ATURAN PROSEDURAL ! KELUWESAN DALAM PROSES
Mematahkan aturan-aturan prosedural merupakan faktor utama yang membawa hasil
di Doha. Ketidak jelasan prosedur memberikan ruang bagi negara-negara maju untuk
memanipulasi proses perundingan agar sesuai dengan kepentingan-kepentingan mereka.
Ketidakjelasan prosedur itu juga memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengesampingkan
atau mematahkan pandangan-pandangan negara berkembang, misalnya, dengan memilih
ketua-ketua yang menjadi teman putaran tersebut dan dengan menyelenggarakan
pertemuan Ruang Hijau (Green Room) pada malam hari diikuti oleh 20 negara di
Doha..
PROPOSAL KELOMPOK YANG SEPAHAM
Persiapan sebelum pertemuan Doha dan proses Doha begitu buruk sehingga mengakibatkan
15 negara berkembang yang dipelopori oleh India, menyerahkan naskah kepada Majelis
Umum pada bulan April tahun ini tentang apa yang semestinya menjadi proses yang
tepat. Beberapa permasalahan kunci yang mereka soroti adalah mendasarkan pada
apa yang semestinya dilakukan, tetapi tidak terjadi :
Proses persiapan di Geneva :
a) Konsultasi harus transparan dan terbuka
b) Draft deklarasi pertemuan tingkat menteri seharusnya didasarkan pada konsensus.
Jikalau hal ini tidak mungkin terjadi, perbedaan-perbedaan itu seharusnya direfleksikan
benar-benar secara seksama. Jikalau mayoritas anggota mempunyai perlawanan yang
kuat terhadap masuknya setiap isu dalam draft deklarasi tingkat menteri, semestinya
isu seperti itu tidak dimasukkan.
c) Sebuah draft deklarasi tingkat menteri hanya bisa diteruskan ke Konferensi
Tingkat Menteri oleh Majelis Umum melalui konsensus tersebut.
d) Para Ketua, termasuk fasilitator seharusnya diidentifikasi dengan cara konsensus
dalam proses persiapan di Jenewa, melalui konsultasi-konsultasi diantara semua
anggota.
e) Konsultasi-konsultasi oleh Ketua/Fasilitator sebaiknya dilakukan pada pertemuan
terbuka. Ketua/Fasilitator dapat mengadakan pertemuan-pertemuan yang dihadiri
oleh para pendukung maupun penentang, tentang masalah yang ditandatangani dan
anggota lain yang berminat semestinya bebas bergabung dalam rapat seperti itu…..
jadwal setiap pertemuan seharusnya diumumkan paling tidak beberapa jam sebelumnya.
f) Semua teks dan draft keputusan yang sedang dirundingkan sebaiknya hanya disampaikan
dalam pertemuan-pertemuan terbuka.
g) Setiap draft baru tentang isu yang spesifik sebaiknya diedarkan pada semua
anggota terlebih dahulu, sehingga para anggota mempunyai cukup waktu guna mempertimbangkannya.
Saran-saran yang masuk akal itu disampaikan oleh para penentang yang hebat
dari beberapa negara pada bulan Juni.
PROSES PROPOSAL YANG DIPIMPIN OLEH AUSTRALIA
Pengelompokan delapan negara Australia, Kanada, Hongkong, Korea Selatan, Mexico,
Selandia Baru, Singapura, dan Swiss menjawab dengan proses paper mereka sendiri.
Sikap mereka yang bertentangan dengan naskah LMG mengatakan bahwa “Dalam
sebuah proses organisasi yang digerakkan oleh anggota perlu dibuat luwes. Kita
perlu menghindari kekakuan”.
Sebaiknya mereka menegaskan, bahwa “Pendekatan-pendekatan yang rinci
dan berupa petunjuk-petunjuk tentang proses persiapan adalah tidak tepat dan
tidak akan menciptakan suasana terbaik untuk mencapai konsensus yang akan muncul
dalam pertemuan Cancun”.
Argumen yang mereka gunakan adalah “dalam proses seperti ini banyak bergantung
pada tingkat ambisi dan kekuatan para anggota yang mereka gunakan untuk mengejar
tujuan-tujuan pribadi. Pada akhirnya konsensus akan dapat dicapai hanya jikalau
para anggotanya disiapkan untuk memperlunak tujuan-tujuan ini dan menggunakan
perundang-undangan yang lebih luas tentang kepentingan-kepentingan apa yang
mereka butuhkan”.
Jelaslah, bagaimana strategi yang ingin dilakukan oleh empat negara dan sekutu-sekutunya,
telah direncanakan. Pelanggaran aturan-aturan yang lama sebaiknya diijinkan
demi mencapai konsensus! Untuk sebuah organisasi yang diperkirakan berbasis
peraturan agak mengejutkan, sehingga aturan-aturan prosedural, karena bekerja
melawan kepentingan-kepentingan orang yang berpengaruh, sangat mudah dipatahkan”.
LMG telah menyerahkan naskah mereka bersama dengan permohonan bahwa sebaiknya
diciptakan panduan prosedural. Ketua Majelis Umum berjanji untuk mengadakan
konsultasi-konsultasi tentang masalah ini setelah masa istirahat pada bulan
Agustus. Tidaklah mengejutkan bahwa sudah sebulan sejak masa istirahat pada
musim panas, tidak ada konsultasi tentang masalah ini.
Seorang duta besar dari negara berkembang pasca Doha menyampaikan isu-isu ini
dalam perspektif, “informalitas proses bearti bahwa, sebenarnya, merupakan
proses konsultasi dan diskusi secara tetutup. Dalam proses itu berarti mereka
yang memiliki kekuasaan akan sangat berpengaruh. Ada beberapa negara yang akan
menentang sebuah keputusan yang tidak diajukan sebagai perjanjian yang sudah
matang”.
TEKANAN-TEKANAN BILATERAL
Pertemuan Doha juga tidak akan berhasil kalau tanpa tekanan-tekanan bilateral
yang dilakukan lewat ibukota-ibukota negara. Ketika pertemuan tingkat Menteri
mendekat dan para Duta Besar yang berbasis di Jenewa tetap keras kepala, perhatian
lebih ditempatkan di ibukota-ibukota. Komisaris Perdagangan Uni Eropa Pascal
Lamy, Wakil Dagang Amerika Robert Zoellick, Dirjen WTO pada waktu itu, Mike
Moore dan berbagai pejabat wakil dagang Amerika bekerja keras menjelajahi dunia
untuk menjalin hubungan dengan para menteri negara-negara berkembang yang strategis.
Duta Besar Amerika Serikat yang bermarkas di ibukota-ibukota negara berkembang
juga mengunjungi para menteri dan pejabat. Tekanan-tekanan bilateral juga terjadi
secara intens selama pertemuan tingkat menteri tersebut.
Lagi-lagi hal ini terjadi. Misi-misi Amerika yang berbasis di Negara-negara
berkembang telah menjual posisi pertaniannya kepada para pejabat negara berkembang.
Ini dampaknya sangat penting terhadap negosiasi-negosiasi pertanian di Jenewa
karena sebelumnya sikap-sikap tegas yang dikemukakan oleh negara-negara berkembang
sekarang memperoleh serangan dan sedang diperlunak. Misalnya El Salvador yang
merupakan bagian dari koalisi negara-negara dalam kotak pembangunan (yang meminta
proteksi pada sektor pertanian mereka), mengumumkan dalam akses pasar sesi pertanian
pada bulan September bahwa mereka mendukung sikap Amerika Serikat yang membela
penurunan tarif secara drastis.
Sebelum pertemuan Doha, para Duta Besar yang bermarkas di Jenewa yang mengikuti
sikap-sikap bertentangan dengan negara-negara besar, yang menolak pembungkaman,
juga menjadi target; dan keluh kesah para Duta Besar tentang negara-negara besar
itu disampaikan kepada para bos menteri mereka, bahkan kepada negara mereka.
Tahun ini telah terjadi tekanan-tekanan yang sama. Duta Besar Republik Dominika
yang teguh Federicco Cuelo digusur pada bulan Agustus karena perannya yang aktif
dalam Koalisi Bersama (LMG). Demikian juga halnya Duta Besar Pakistan yang lugas
dipromosikan dan dikirim ke New York pada tahun ini.
MEMATAHKAN KOALISI NEGARA-NEGARA BERKEMBANG
Strategi memecah dan mengatur merupakan faktor krusial lainnya dari “suksesnya”
pertemuan Doha. Pada saat yang genting ini, strategi yang sama sedang dijalankan
untuk membuat koalisi negara-negara berkembang menjadi impoten terutama kelompok
koalisi bersama dan kelompok Afrika.
Sebuah contoh adalah sikap kelompok Afrika untuk mencari pemecahan yang terbaik
terhadap isu kesehatan dan TRIPS. Deklarasi Kesehatan Masyarakat TRIPS di Doha
mencatat bahwa anggota yang kemampuannya kurang dan tidak memiliki pabrik dalam
sektor farmasi bisa menghadapi kesulitan-kesulitan dalam membuat perijinan yang
efektif. Sebuah pemecahan terhadap persoalan ini akan dilaporkan kepada Majelis
Umum pada akhir tahun 2002.
Sikap kelompok Afrika menghendaki digunakannya bermacam-macam unsur agar negara-negara
menemukan pemecahan yang terbaik untuk mengatasi krisis kesehatan masyarakat
di negara mereka ketika mereka tidak memiliki kemampuan memproduksi obat-obatan.
Sikap mereka adalah bahwa interpretasi yang berwenang terhadap pasal 30 yang
berkaitan dengan perkecualian-perkecualian terhadap hak-hak istimewa yang diberikan
oleh paten tidak cukup. Dengan mengamandemen pasal 31 yang berkaitan dengan
wajib mengajukan perizinan juga tidaklah cukup. Sikap Uni Eropa adalah bahwa
pasal 31 harusnya diamandemen, tetapi untuk sementara diberlakukan surat pernyataan
pelepasan sampai amandemen disetujui pada tingkat menteri. Sebaiknya, kelompok
Afrika meminta langkah ini diberlakukan, dan surat pernyataan pelepasan yang
sebaiknya diterima untuk sementara, bukan solusi akhir.
Sama sekali tanpa diduga, dalam pertemuan majelis TRIPS terakhir, Lesotho, tanpa
melakukan konsultasi dengan kelompok Afrika lebih dahulu, menyampaikan proposal
yang menyatakan bahwa surat pernyataan pelepasan akan menjadi jalan pemecahan
yang cukup, sehingga hal itu mematahkan kedudukan kelompok Afrika. Kenyataan
bahwa Lesotho yang dengan jelas menarik garis negara-negara berpengaruh tertentu
telah diundang ke pertemuan kecil tingkat menteri di Sydney, bukanlah berita
yang baik bagi kelompok Afrika maupun koalisi LDC.
SAKIT SEBENTAR ATAU KEHILANGAN DALAM WAKTU LAMA
Ketika dihadapi bersama-sama, konfigurasi faktor-faktor ini sangat mempersulit
pejabat negara-negara berkembang untuk menentang secara efektif agenda yang
tidak melayani kepentingan-kepentingan mereka. Penentangan dalam negosiasi-negosiasi
WTO, kesimpulannya, berarti membangkitkan kemungkinan-kemungkinan untuk menghadapi
suatu bentuk sensor yang ketat atau yang lainnya. Suasana dan pilihan-pilihan
yang ditawarkan di hadapan pemerintah negara-negara Selatan benar-benar curang.
Bukanlah pertanda baik bahwa para pejabat pemerintah pun yang sangat diharapkan
biasanya hadir dengan pikiran yang diprogram untuk menjadi pragmatis sampai
menjadi rabun, karena mereka cenderung menyetujui atau memilih kehilangan dalam
waktu yang lama, demi menghindari sakit sebentar. Tambahan terhadap masalah
ini, iklim politik pasca “September”, pemerintah negara-negara Selatan
tampaknya mudah mengalami kemerosotan.
Kecuali jikalau kelompok-kelompok negara dapat menggunakan tekanan politiknya
yang memadai pada tingkat nasional untuk mempertahankan sikap mereka yang tertentu
- seperti tak ada lagi liberalisasi dalam bidang pertanian dan jasa-jasa dan
tak ada lagi perjanjian-perjanjian investasi - kita bisa menggunakan waktu selama
dua tahun berikutnya dengan baik untuk meluruskan kesalahan-kesalahan dalam
pertemuan di Cancun.
* Alieen Kwa adalah peneliti luar biasa yang bekerja untuk Fokus on the Global
South yang berdiam di Jeneva.