KACA BENGGALA LINGKUNGAN HIDUP
Pertemuan puncak dunia tentang pembangunan berkelanjutan di Johannesburg
akan semarak dengan gurat nuansa hijau: Pemeluk pohon bernuansa hijau
akan saling tukar manik-manik, loreng hijau gerilya akan bercocok tanam,
dan para eksekutif kebijakan bernuansa batu giok akan pesta lobby. Dalam
pelangi ini, semua warna tersebut sedang bergulat untuk jadi warna primer.
Ungkapan ini bukan retorika; pada tiap pergantian musim di lintasan sejarah,
kapitalisme selalu mengubah warnanya. Maka dari itu penting untuk mengenal
nuansa hijau ini dan bedanya dengan nuansa lama aslinya: hitam.
Sudah banyak terjadi konferensi internasional membahas situasi dan status
lingkungan hidup berkaitan dengan dua perhelatan besar sebelum ini. Setiap
KTT puncak selalu melahirkan pelangi makalah, proklamasi, deklarasi dan
kritik. Pada masing-masing KTT, gurat warna ungkapan krisis lingkungan
hidup akan berbeda beda, demikian juga wacana ideologi akan diwarnai oleh
situasi politik kontemporer masa tersebut. Demikian juga KTT yang di Johannesburg
kali ini, ciri utamanya adalah bahwa persoalan lingkungan hidup di-casting
sebagai peran penumpang gelap, dan urusan luar.
Sekedar penjelasan, definisi penumpang gelap adalah orang yang menikmati
keuntungan yang nikmat tapi menghindari membayarnya. Joseph Keller mengetengahkan
gambaran klasik persoalan penumpang gelap dalam kalimat beracunnya: “Saya
tidak mau lagi terlibat dalam perang” Mayor bertanya “Apa
kamu mau menyaksikan negara kita kalah?”. “Kita tak akan kalah,
orang kita lebih banyak, uang dan materi kita juga lebih banyak, Ada sepuluh
juta tentara yang bisa menggantikan saya, beberapa orang terbunuh, tapi
kan lebih banyak lagi yang akan dapat uang dan hidup senang, jadi biar
orang lain saja yang terbunuh”. “Tapi bagaimana kalau semua
orang di pihak kita berpikir begitu?”. “Yah kalau begitu aku
jadi orang konyol yang nggak berpikir demikian kan?”.
Masalah lingkungan hidup dianggap sebagai urusan luar, adalah suatu hal
yang lain lagi. Urusan luar: dampak tak terkompensasi dari tindakan seseorang
terhadap keselamatan orang lain yang kebetulan ada di dekatnya . Kaitan
dari dua cabang ini berasal dari persaingan dan kenyataan bahwa lingkungan
hidup tak dapat dikecualikan. Semua orang ingin udara yang bersih, tapi
kalau kita dapat mengakalinya supaya gratis (prinsip tak bisa dikecualikan),
sekalipun akibatnya semua orang lain menderita karena udara bersihnya
kita pakai (udara bersih adalah saingan), dan kalau kemudian orang lain
begitu teragitasi sehingga ia akan membersihkan udara tersebut, lalu buat
apa kita membayar? (kenapa tidak jadi penumpang gelap saja?). Inilah elemen
konstan dalam utak atik rumus kebijakan publik selama dua KTT lingkungan
hidup yang terdahulu, dan satu yang akan datang ini. Lensa ekonomi yang
dipakai mengamati masalah lingkungan ini menunjukkan adanya sesuatu yang
mengganjal dalam politik kontemporer.
TIAP GENERASI MEMBAWA RETORIKANYA
TIAP RETORIKA MEMBAWA TIRANINYA.
KTT Pertama di Stockholm tahun 1972, dilangsungkan dengan nama “Konperensi
dunia tentang lingkungan hidup manusia”. Keprihatinan utama KTT
tersebut adalah soal batas-batas pertumbuhan, yaitu bagaimana lingkungan
hidup membatasi ekspansi manusia, baik ekspansi demografis maupun ekonomis.
Para pakar Club of Rome memperbaharui argumen Malthus tentang batas populasi,
serta mengumumkan bahwa umat manusia sedang akan kehabisan sumber-sumber
daya tak terbarukan, dan dibayangi bencana krisis energi.
Sekalipun kaitan antara lingkungan hidup global dan pembangunan berkelanjutan
telah diangkat sebelum acara tersebut , tapi “Konperensi Dunia”
tersebut ternyata sebuah konferensi kecil saja, kebanyakan agenda KTT
tersebut dikendalikan oleh persoalan negara-negara vokal. Pemilihan tempat
berlangsungnya konferensi merupakan indikator bahwa permasalahan sentralnya
bukan “pembangunan berkelanjutan” global, tetapi hujan asam
di Skandinavia.
Sekalipun retorika bencana populasi duduk hadir di dasar pikiran konferensi
tersebut, tetapi kebijakan yang muncul bukan dari Malthus, melainkan dari
A.C. Pigou. Saat itu negara masih dianggap sebagai suatu mekanisme tepat
untuk menangani soal perbedaan antara biaya nominal dan biaya nyata kegiatan
ekonomi di suatu masyarakat, dan teori Pigou dengan mudah dapat diterapkan.
Di atas riak-riak konferensi muncul rakit penyelamat berupa resolusi yang
dapat segera diadopsi negara maju, serta beberapa yang bisa mempengaruhi
negara berkembang. Resolusi yang muncul membawa kerapuhan berupa anggapan
kemungkinan badan internasional seperti PBB untuk dapat menjinakkan urusan
luar yang terseret oleh kapitalisme industrial melalui alur informasi
dan niat baik semata. Setelah itu dimulailah Program lingkungan hidup
PBB (UNEP), yang melahirkan Earthwatch, yaitu suatu sistim penyelaras
dan penyebaran informasi PBB. Menilik apa yang terjadi kemudian, maka
sebenarnya pendekatan tersebut merupakan penyembuhan yang naif tergadap
persoalan lingkungan hidup internasional.
Sejak itu kemudian terjadi keheningan.
Setelah itu tak ada KTT besar tentang lingkungan hidup selama 20 tahun.
“Hilangnya dekade lingkungan hidup” dapat dijelaskan oleh
beberapa sebab: PBB sedang mengalami krisis; Presiden AS saat itu adalah
Reagan ; Perang dingin betul betul menjadi bertambah dingin; dan nampaknya,
pemerintah berbagai negara tak punya waktu untuk memikirkan soal lingkungan
hidup. Situasi “cegukan” multilateral tahun 1980-an ini, ternyata
tidak menghalangi kampanye para aktivis, dengan Greenpeace dan partai-partai
hijau menguat di Eropa. Dikuntit oleh tekanan ini, maka negara-negara
kuat kemudian mulai butuh memikirkan lagi soal-soal lingkungan hidup.
Tahun 1992, Konferensi terbesar PBB dalam sejarahnya digelar di Rio. 15
ribu orang menghadiri KTT Bumi. Ini sebuah jamboree, sebuah perayaan keberagaman,
karnaval manik-manik dan sandal.
Keberagaman tidak terbatas pada kubu NGO saja, di ruang-ruang kebijakan
terjadi pertarungan ideologi. Untuk mengantisipasi apa yang disebut sebagai
Jalan ketiga, digelarlah suatu resolusi sebagai penawar ketegangan antara
Adam-Smith yang neo-liberalis dari borjuasi Utara dengan kuasi-sosialisme
gerakan Chipko dari Selatan yang populis. Pada jaman-jaman skizoprenik
ini, cukup pantaslah kalau KTT bumi tersebut dikoordinasikan oleh Maurice
Strong, seorang yang menurut ucapannya sendiri “Berideologi sosialis,
bermetodologi kapitalis”.
Solusi politik konferensi Rio membereskan dikotomi sosialis kapitalis
dengan gemilang. Retorika deklarasi Rio diberi polesan yang tepat dan
progresif – “Lingkungan hidup manusia” berubah menjadi
“pembangunan berkelanjutan”, kepentingan Selatan (terutama
tentang aliran dana internasional untuk memfasilitasi pembangunan) diletakkan
di tengah panggung, dan deklarasi Rio dihiasi dengan retorika yang fasih.
Lebih dari 2 milyar dolar AS dihimpun untuk fasilitas lingkungan hidup
global. Bahkan di deklarasi final, sekalipun Israel menggonggong, kafilah
mencantumkan rujukan tentang hak pembangunan berkelanjutan bagi masyarakat
di wilayah pendudukan.
Bersama dengan deklarasi Rio, muncul juga dokumen lain, Agenda 21 yang
masif, komprehensif, ensiklopedis dan berkeanekaragaman. Dokumen Agenda
21 ini juga adalah makluk jamannya, berhiaskan konsep-konsep seperti “subsidiaritas”,
“desentralisasi” dan sebuah penafsiran yang amat ganjil atas
“berkelanjutan”. Di belukar Agenda 21 inilah kita dapatkan
tunas yang sekarang akan mekar di Johannesburg. Bab 2 bagian 1 Agenda
21 memperingatkan kita bahwa
“Proses pembangunan tak akan mendapatkan momentumnya jika ekonomi
global kurang dinamis dan kurang stabil serta diganggu oleh ketidak menentuan
…..Ekonomi internasional harus menyediakan iklim internasional yang
mendukung untuk dicapainya tujuan-tujuan lingkungan hidup dan pembangunan
melalui….. inter alia, mendorong pembangunan berkelanjutan melalui
liberalisasi perdagangan”.
Sebagaimana pada KTT lingkungan hidup pertama, retorika Malthusian digandeng
dengan kebijakan Pigouvian, demikian pula “proto-jalan ketiga isme”
di Rio punya ekonomnya juga, kali ini adalah Ronald Coase. Menurut Coase,
Pigou dan para pengikutnya sangat kurang memperhitungkan biaya transaksi
dalam mendorong pemerintah mengatasi urusan luar. Solusi Coase tentang
persoalan barang-barang publik adalah melepaskannya kepada mekanisme pasar
untuk menanganinya sebisanya.
Keadilan kesetaraan bukan isu yang terlalu merepotkan dalam analisa Coasian.
Contoh? Wilfred Beckerman, seorang ekonom yang Iconoclast dan Coasian,
dalam “Kecil itu Bodoh”-nya mampu menyarankan bahwa solusi
pencemaran udara akibat privatisasi barang publik adalah privatisasi udara.
Dengan menciptakan hak milik terkotak-kotak atas udara, maka mereka yang
memiliki udara akan lebih terdorong untuk memeliharanya dengan baik, dan
lebih banyak melakukan langkah-langkah aktif melawan siapa saja yang merusak
hak milik tersebut dengan cara menebari racun. Karena udara tidak punya
afiliasi kenegaraan, maka solusi berbasis negara tunggal tak akan berhasil
(walaupun sedikit yang menyesalkan keputusan unilateral AS untuk memagari
polusi atmosfir nya yang tidak proporsional). Dengan tidak adanya pemerintahan
global untuk menindak para penumpang gelap udara bersih negara tetangga,
dan dengan kenyataan bahwa mekanisme pengaturan akan memakan biaya transaksi
yang tinggi, maka mekanisme pasar menyediakan jawaban paling efisien untuk
membereskan urusan luar polusi atmosfir global. Dengan begitu privatisasi
udara secara selektif merupakan solusi logis untuk persoalan polusi atmosfir
global.
Karena termotivasi oleh pemikiran keadilan melalui efisiensi alokasi,
maka Coase jarang memikirkan konteks sosial yang lebih luas. Kalaupun
pas sedang memikirkannya, kira kira pemikirannya kurang lebih “Pada
umumnya saya yakin bahwa pengurangan polusi akan menguntungkan mereka
yang dari tingkat pendidikan sosial dan tingkat kesejateraan tinggi, serta
merugikan warga miskin komunitas kita” . Banyak korban keracunan
Union Carbide di Bhopal dan anak anak ashma di Meksiko, akan bersuara
lain.
PENGGUNAAN MANCUR OLSON
Lanjut ke masa kini. Bulan Agustus ini, Johannesburg akan menjadi tuan
rumah Konferensi Puncak Dunia tentang Pembangunan Berkelanjutan. Sebenarnya
Johannesburg akan menjadi tuan rumah 3 konferensi: 1 untuk delegasi resmi,
1 untuk “masyarakat sipil” dan satu lagi untuk mereka yang
tak mampu atau tak mau membayar biaya pendaftaran masyarakat sipil sebesar
165 Dollar AS.
Konferensi yang ditata dalam tiga tingkat ini, mencerminkan kenyataan
menyedihkan tentang kekuasaan dan kendali birokrasi serta perlawanannya,
suatu kenyataan tanda zaman ini . Pada WSSD, Bank Dunia akan mempresentasikan
visinya tentang “pembangunan berkelanjutan” dan Bank Dunia
ingin “masyarakat sipil” yang beradab ikut datang. Bank Dunia
dan kawan- kawan akan naik panggung, dan mereka ingin tampil dihadapan
pemirsa yang jinak dan manis. Jadi sebelum pertunjukan dimulai mari kita
pelajari naskahnya baik-baik dan bersiap-siap untuk membuat keonaran.
Sesudah itu kita bisa meninggalkan panggung, dan membakar naskah itu.
Dalam kelanjutan trend ideologi di luar panggung, KTT ke tiga ini punya
maskotnya juga, yaitu almarhum Prof. Mancur Olson. Kiriman terakhir dari
menara meriam kapitalisme internasional adalah draft laporan pembangunan
dunia tahun 2003 dari Bank Dunia, berjudul “Pembangunan Berkelanjutan
dalam Ekonomi Dinamis”. Laporan ini adalah manifesto Bank Dunia
untuk menyelesaikan masalah lingkungan hidup, baik lokal maupun global.
Jantung dari laporan ini adalah analisa Olsonian, sebuah analisa yang
kemutakhirannya akan membuat kita terpana.
Olson punya sebuah pemikiran besar: “individu rasional yang berkepentingan
diri, tak akan bertindak untuk mencapai tujuan bersama atau tujuan kelompoknya”,
karena persoalan penumpang gelap. Meskipun demikian toh kasus penumpang
gelap tidak terjadi sepanjang waktu. Hal ini dijelaskan dalam logika tindakan
kolektif Olson. Dengan asumsi bahwa anggota kelompok besar lebih akan
memilih untuk menjadi penumpang gelap, Olson merumuskan bahwa jika manfaat-manfaat
yang diperoleh oleh kelompok kecil bisa dilokalisir, maka ada insentif
untuk mendapat keuntungan dari kepasifan kolektif mayoritas. Bonusnya,
karena kelompok ukurannya kecil, maka penumpang gelap lebih mudah diketahui
dan dicegah. Kelompok orang yang jumlahnya sedikit, bersama-sama dapat
mengangkat lebih dari jumlah berat mereka, karena jumlahnya kecil. Begitulah
menurut Olson, seberapa besar atau kecil ukurannya, itulah yang menentukan.
Yang penting ukurannya (“size does matter!”), bukan relasi
ke alat produksi, sekalipun relasi ke alat produksi ini bisa mengakibatkan
munculnya kelompok kecil. Menurut Olson, ukuran lah yang menentukan, bukan
sejarah, meskipun kerawanan sejarah bisa saja membuat suatu kelompok terpojok
ke posisi minoritas. Dengan logika ini sebagai palu, Olson memaku semua
persoalan masyarakat dan politik dengan pendekatan yang sama. Keajegan
Olson secara konsisten berfokus pada ukuran kelompok, membuatnya diperkirakan
oleh rekan rekan sejawatnya sebagai calon kuat pemenang hadiah Nobel.
Sebelum sempat terbukti mendapatkan hadiah Nobel, Olson terlanjur meninggal
pada tahun 1998. Meskipun demikian, jiwa dan semangatnya tetap hidup.
Bank Dunia telah menggunakan Olson untuk menangani masalah lingkungan
hidup karena pendekatannya dapat diterapkan untuk politik barang-barang
publik.
Tinjaulah soal lobby industri misalnya. Kelompok lobby industri bisa menggapai
apa yang mereka inginkan karena mereka adalah kelompok kecil dari segi
ukuran jumlah orang. Kecil dan terorganisir dengan baik, dan mereka punya
semua insentif untuk membiayai kegiatannya demi menghindari biaya tinggi
penanganan lingkungan hidup. Kalau perlu bukti tentang hal ini, bisa periksa
keadaan Industri energi AS di rezim Bush. Bank Dunia sendiri sekalipun
sangat jarang, tapi kadang sensitif juga tentang fenomena kelompok kecil
ini. Lihat misalnya cuplikan laporan Bank dunia berikut ini:
“Keterlambatan antara riset dasar dengan penerapan komersial besar-besaran
sangat memprihatinkan. Industri swasta tidak punya kemauan untuk menjalankan
riset dasar di bidang fusi, pencarian karbon geologis, pembakaran arang
efisiensi tinggi, atau teknologi efisiensi bangunan untuk iklim tropis.
Lebih jauh lagi, lucunya bahkan untuk riset terapan pun banyak dikembalikan
ke bawah payung pemerintah. Contohnya misalnya investasi publik sebesar
3 juta dolar dalam teknologi jendela yang efisien diproyeksikan akan menghasilkan
penghematan energi sebesar 15 milyar dollar di tahun 2015 di AS saja.
Sekalipun demikian nilai pendanaan untuk riset penghematan energi telah
menurun di AS dan di Eropa .
Dipermukaan, Olson nampak sebagai teoritisi yang relevan. Kelompok kepentingan
industri mengancam lingkungan hidup, maka mereka perlu dihentikan. Masalahnya
karena teori Olson sangat monokromatik (berwarna tunggal), maka teori
ini bisa dibengkokkan dengan berbagai cara. Bank Dunia memelintir analisa
Olson dengan cara yang halus dan berbahaya.
PROTEKSIONISME DAN “SNIVEL SOCIETY”
Solusi Bank dunia terhadap problem Olson mengenai kelompok kecil kepentingan
adalah solusi yang menempatkan perdebatan aslinya dengan cara yang aneh.
Bank Dunia tidak pernah secara eksplisit membahas tentang kekuasaan, terutama
karena memang kekuasaan merupakan ide yang sangat sulit didefinisikan,
tapi juga karena memang nampaknya Bank Dunia tidak akan mengerti sekalipun
sudah memeras pikiran. Daripada menangani pertanyaan sulit tentang kekuasaan,
dan pertanyaan lebih sulit lagi sebagai konsekuensinya, Bank Dunia memilih
solusi lain. Bank Dunia menempatkan soal kelompok kecil dan penumpang
gelap sebagai soal teknis. Lalu cara menyelesaikan persoalan teknis ini
adalah melalui teknokrasi bukan melalui politik. Menurut argumen Bank
Dunia, kalau kita berhasil mengatasi kekuasaan kelompok kecil yang tidak
representatif, maka kita akan bisa dengan lebih baik mengatasi persoalan
kurang tersedianya barang publik lingkungan hidup.
Periksa lagi argumen tersebut dengan seksama. Argumen ini adalah argumen
kambing hitam yang sangat hebat. Bank Dunia berhasil menggunakan Olson
untuk sekaligus menghitamkan baik kelompok kecil kepentingan industri
maupun kelompok kecil organisasi progresif dengan kuas yang sama, yaitu
karena mereka kelompok kecil. Bukan karena politik, atau kekuasaan atau
hubungan mereka ke lingkungan hidup dan alam, tetapi karena kedua kelompok
ini sama- sama kecil. Menurut Bank Dunia, kecil itu tidak hanya bodoh,
tapi juga membahayakan lingkungan.
Dalam laporan Bank Dunia terbaru, kepentingan industri terproteksi di
negara maju dibahas cukup panjang. Ada dua penafsiran yang tampil di laporan
ini, penafsiran pertama agak bersifat dermawan, penafsiran kedua agak
kurang, keduanya valid. Mari kita lihat versi pertama. Ada faksi yang
agak radikal egalitarian dalam kubu neo-liberalisme. Faksi ini layak dipandang
karena niat mereka baik (sekalipun mereka mengaspal jalan ke neraka).
Ide radikal dalam neo-liberalisme adalah bahwa kita ambil sesuatu dari
kelompok kecil produser yang berkuasa, lalu diberikan kepada massa, kepada
konsumen. Berikut ini contoh pemikiran neo-liberal, yang kritis dan radikal:
8.82: Saat ini harga BBM dipatok ? dari harga pasaran dunia; minyak tanah
dijual dengan harga 8 persen dari harga pasaran dunia, dan BBM pada 6
persen dari harga pasaran dunia. Pemerintah Iran mengalokasikan 18 persen
dari anggaran untuk subsidi ini. Salah satu sasarannya adalah membantu
kaum miskin. Tetapi kalau pemerintah menghentikan subsidi ini, lalu menjual
minyaknya di pasar dunia, dan membagi keuntungannya dengan merata di seluruh
masyarakat, maka pendapatan masyarakat termiskin akan naik 3 kali lipat
dan pendapatan kaum miskin perkotaan naik 2 kali lipat. Jelas secara rata-rata
pendapatan kaum miskin di berbagai strata akan meningkat, tetapi industri
yang intensif energi akan mengalami kemungkretan output luar biasa, dan
pekerjanya akan menderita kecuali kalau sebagian besar dari penghematan
dari pencabutan subsidi disiapkan untuk membantu para pekerja berpindah
ke sektor kerja lain.
Ini adalah wacana yang potensial, bahkan progresif, setidak tidaknya bisa
dibaca secara simpatik. Cara yang lebih berguna untuk memahaminya adalah
bahwa Bank Dunia sedang berupaya menciptakan borjuasi internasional. Penting
memahami mengapa dibutuhkan borjuasi internasional. Kepentingan para pemilik
modal di berbagai negara maju belum tentu selalu selaras. Kesamaan dalam
mengeksploitasi kelas pekerja domestik tidak cukup memberi alasan bagi
mereka untuk akur di tingkat internasional. Barang-barang masuk ke pasar
internasional dengan persaingan, dan margin laba terancam oleh perbedaan
tingkat eksploitasi internasional. Olson meramalkan bahwa untuk mengatasi
ancaman menurunnya laba karena persaingan internasional, maka borjuasi
domestik akan membentuk kelompok perdagangan guna menjaga tingkat sewa
yang tinggi. Dengan adanya komitmen “perdagangan internasional yang
terbuka demi mempromosikan lingkungan hidup”, Bank Dunia ingin menyingkirkan
blok borjuasi nasional ini. Gramsci mengingatkan kita bahwa keselarasan
dalam borjuasi tidaklah otomatis -- berbagai elemen dalam borjuasi dapat
(bergantian) berperan dalam hegemoni pada waktu waktu yang berbeda-beda.
Hal yang sama juga terjadi di ajang internasional. Borjuasi komprador
yang proteksionis ditantang oleh blok yang lebih suka dengan ide perdagangan
internasional, dengan deindustrialisasi dan feminisasi pasar tenaga kerja
tak trampil di Selatan. Ini adalah pertempuran antar dua macam borjuasi,
antara borjuasi yang memeras rakyatnya dengan dalih nasionalisme, dengan
borjuasi yang juga memeras rakyatnya tapi di bawah bendera internasional
Dominasi borjuasi internasional tidak terjadi begitu saja. Untuk mencapai
dominasinya dibutuhkan ideologi ini-itu, intervensi ini-itu, dan komitmen
dari kelompok seperti Bank Dunia.
Sekarang kita kembali ke Olson lagi, karena ada sisi lain di Logika Olsonian
Bank Dunia ini. Ingat bahwa menempatkan soal lingkungan sebagai perkara
ukuran kelompok besar atau kecil sama sekali tidak menyentuh politik.
Maka kelompok kecil seperti Green Peace dan dana perlindungan lingkungan
hidup (termasuk pendukungnya yang besar) dihitung sebagai kelompok kecil
khusus. Kelompok ini hadir lalu di beri resep yang sama oleh Bank Dunia,
diberi tindakan disiplin yang sama. Setelah mendiagnosa bahwa ukuran kelompok
lah yang menentukan, Bank Dunia memberikan solusinya: Perdalam kebijakan
internasional terhadap politik domestik. Karena Olson sangat sumir dalam
apa artinya kelompok kecil, maka kritisisinya tentang kelompok kecil memberikan
lisensi kepada Bank Dunia untuk memerangi tak hanya kelompok kecil industri
yang kuat, tapi juga kelompok kecil yang lebih lemah yang merupakan masyarakat
sipil. Pendekatan ini adalah serangan ke jantung demokrasi.
Sebelum lanjut, kita tidak boleh naif tentang isu ini. Tidak semua kelompok
yang disebut ‘masyarakat sipil’ mendapat dukungan dari kaum
radikal atau pun kaum progresif. Bank Dunia dan teman-temannya sudah lama
membuka jalan ke “masyarakat sipil’, misalnya kelompok “astro-turf”
(rumput sintetis) aktivis industri perminyakan. Jadi soalnya adalah kekhawatiran
mengenai seberapa representatif dan seberapa demokratis kelompok-kelompok
kecil organisasi non- pemerintah di Selatan. Itulah kenapa akhir-akhir
ini muncul kritik terhadap “Snivel Society”, aktivis dan intelektual
yang sudah di kooptasi, yang politiknya adalah membantu rezim dan bukan
menantangnya . Demikian maka Johannesburg akan punya 3 tingkat pertemuan:
1) Para multi-lateral, 2) masyarakat sipil terkooptasi seharga 165 dollar
AS sekali main, dan 3) semua orang lainnya.
Penafsiran Olson secara selektif memberi lisensi untuk memperkuat keadaan
tata kekuasaan yang ada saat ini dengan cara tidak mengkajinya dengan
baik. Maka dari itu tidak ada diskusi tentang eko-rasisme dan patriarki,
Mungkin juga tidak fair mengharap Olson bisa menjelaskan ini, toh Olson
hanya membahas tentang barang-barang publik. Tetapi justeru di sinilah
persoalannya, Dengan menihilkan segala wacana pengalaman sosial, dan mentransformasi
soal pembangunan berkelanjutan manjadi manajemen teknokratik tentang kelompok
kepentingan kecil, maka jelas ini berarti kepedulian Bank Dunia pada persoalan
lingkungan hidup hanyalah sebuah etalase yang tidak bersungguh-sungguh.
Pada kasus-kasus di mana solusi teknokratik telah meningkatkan nasib kaum
perempuan dan meningkatkan pengeluaran biaya untuk menyekolahkan anak
perempuan misalnya, telah dikompromikan dengan desakan Bank Dunia untuk
perbaikan pembiayaan. April tahun lalu, dihadapkan pada statistik kinerja
penyediaan pelayanan mendasar negara sosialis yang relatif lebih baik
dibanding catatan Bank Dunia, James Wolfensohn menyatakan “Cuba
telah bekerja dengan sangat baik di bidang pendidikan dan pelayanan kesehatan,
hasil kerja mereka sangat baik dan saya tidak merasa malu untuk mengakuinya”.
Dengan kata lain, dengan menganalisa tiap-tiap KTT berdasarkan siapa ekonom
nya, maka lebih mudah untuk melokalisir ideologi dari konferensi ini dalam
wacana rasis dan patriarki. Ekonomi borjuasi mempunyai reputasi buruk
dalam kemampuan menghadapi isu gender dan ras. Bias,dan Blindspots dalam
eknomi borjuasi, serta kelemahannya dalam menyediakan alat perubahan sosial
membuat lemah kebijakan-kebijakan yang direkomendasikan. Bank Dunia dengan
cara pandang Olsonian-nya datang dengan visi yang spesifik tentang bagaimana
seharusnya demokrasi berjalan. Sama dengan trio persoalan ras-kelas-gender,
Bank Dunia sebenarnya tidak terlalu merasa nyaman dengan persoalan demokrasi.
Dalam laporan Bank Dunia, diulas persoalan akuntabilitas dari kelompok
kecil dan pemerintah (Tapi aneh nya tidak diulas akuntabilitas lembaga
bank pembangunan internasional).
Selanjutnya Bank Dunia menyatakan
“Demokrasi mungkin bisa jadi alat institusional yang membantu [keadilan].
Para penguasa Inggris telah membuat komitmen [sic] dengan memperkuat tangan
para bangsawan lewat penciptaan parlemen. Jelas, demokrasi (atau perluasan
pemungutan suara dengan kelompok-kelompok baru) bisa menjadi suatu komitmen
untuk re-distribusi. Di banyak negara, demokrasi telah diperluas dalam
menanggapi ketegangan sosial yang menuntut pengurangan ketidak adilan”.
Pernyataan ini adalah suatu pemahaman yang sangat aneh tentang perubahan
sosial, suatu cara berfikir yang meletakkan gerobak di depan kuda penghelanya.
Demokrasi adalah hasil dari perjuangan yang luas, dimana yang lemah bertempur
melawan yang kuat. Akuntabilitas adalah suatu nuansa hasil, tetapi tentu
hasil dari perjuangan yang panjang, pahit dan mungkin berdarah. “Transparansi”,
“Good governance” dan segala pernik anti-politik jaman kita
ini, tidak cukup untuk mengubah kesetimbangan kekuasaan.
KEMITRAAN
Keajaiban Olson, telah memberi peluang Bank Dunia untuk memata-matai tidak
hanya elemen sektor privat yang nasionalis keras kepala di Selatan, tapi
juga memata matai juga “masyarakat sipil” karena semua ini
ada di wilayah kelompok kecil, berpengaruh, dan menyulitkan, musuh-musuh
dari neo-liberalisme. Jika penafsiran ini benar, maka kita akan melihat
peningkatan jumlah aliansi transnasional antara borjuasi non-negara, publik,
dan sipil – ini diberi terminologi “kemitraan”. International
Institute for Sustainable Development telah memasang “kemitraan
untuk pengetahuan” dengan masyarakat sipil dan dengan Bank Dunia.
Bank Bunia juga melakukan upaya serupa. Yaitu proyek “Development
Gateway” (Gerbang informasi pembangunan), suatu proyek yang banyak
dikritik dalam soal transparansi, parsialitas, dan dianggap sebagai pemborosan.
Dengan melihat para “stakeholders” yang terlibat, maka IISD
pun agaknya akan terjebak pada persoalan yang sama. Di KTT Johannesburg,
sekretariat masyarakat sipil (yang sudah di ko-optasi) mendapatkan dana
dari perusahaan, sehingga ada spekulasi jangan-jangan nanti masyarakat
sipil ini mendukung perampasan tanah oleh Coca Cola. Badan kamar dagang
internasional (International Chamber of commerce) dan Badan bisnis dunia
untuk pembangunan berkelanjutan (World Business Council for Sustainable
Development) telah berselingkuh, berpartner dengan PBB, Bank Dunia, dan
beberapa NGO, serta beberapa akademisi, semua ini nampaknya bersemangat
untuk membuktikan bahwa kalau dunia bisnis dibebaskan dari campur tangan
pemerintah, maka akan dapat membuktikan prakteknya secara bertanggungjawab.
KESEDIHAN MARGARET MEAD
Ketelanjangan kemitraan yang terjadi pada WSSD (dan di kebanyakan event
multilateral besar akhir akhir ini) mungkin akan membuat kita berfikir
kembali tentang ucapan Margareth Mead di dunia aktivis : “Jangan
pernah meragukan bahwa sekelompok kecil warga yang berkomitmen dan berpikiran
mendalam dapat mengubah dunia, karena senyatanya yang pernah bisa mengubah
dunia adalah kelompok kecil seperti itu”. Sekalipun slogan ini sudah
dihafalkan seperti mantra oleh para aktivis progresif seluruh dunia, tapi
tetap penting untuk menyadari bahwa pernyataan ini tetap pisau bermata
dua, Bank Dunia, sebenarnya juga sekelompok kecil warga yang berkomitmen
tinggi, hanya saja politik mereka busuk.
Di sinilah mungkin sudah saatnya kita melepas margareth Mead dari posisinya
sebagai juru slogan progresif. Kearifan Margareth Mead sepenuhnya Olsonian,
mungkin sebenarnya ini bukan sesuatu yang fatal salah, tetapi tetap berbahaya.
Slogan Margareth Mead memberikan ruang bebas bagi mereka yang lebih cenderung
sentralistis daripada demokratis, yang agak cenderung meletakkan kepercayaan
dalam kemampuan masyarakat menentukan aksi, daripada soal beratnya penumpang
gelap mengganggu. Juga pernyataan Margareth Mead mengandung kekeliruan
dalam hal, bahwa banyak gerakan yang hebat dalam sejarah tidak hanya bertumpu
pada sedikit orang yang terorganisir, tetapi juga dari aksi kolektif ratusan
ribu orang. Entah aksi ini terjadi di rumah, atau di lapangan, atau di
pabrik atau di bangku sekolah, populisme dan aksi massa tetaplah penting.
Kapitalisme mencoba untuk memprofesionalisasi aktivisme, dengan cara yang
paling kelam. Dalam rangka menghadapi mobilisasi yang dilakukan terhadap
Bank Dunia, PBB dan kapitalisme global selama 5 tahun terakhir, jawaban
yang paling tepat dan terbukti masuk akal adalah, bukan mundur ke kegelapan
pengorganisasian kelompok kecil, tapi menggelegarkan aksi massa.
Catatan kaki:
Raj Patel (rcp9@cornell.edu) baru
saja lulus PhD dari Universitas Cornell, sekarang bekerja di Food First,
AS. Catatan editor: makalah ini ditulis sebelum beliau menjabat di Food-First.