MEMAKSAKAN NUANSA HIJAU

Raj Patel*

 

  September 25, 2002

KACA BENGGALA LINGKUNGAN HIDUP
Pertemuan puncak dunia tentang pembangunan berkelanjutan di Johannesburg akan semarak dengan gurat nuansa hijau: Pemeluk pohon bernuansa hijau akan saling tukar manik-manik, loreng hijau gerilya akan bercocok tanam, dan para eksekutif kebijakan bernuansa batu giok akan pesta lobby. Dalam pelangi ini, semua warna tersebut sedang bergulat untuk jadi warna primer. Ungkapan ini bukan retorika; pada tiap pergantian musim di lintasan sejarah, kapitalisme selalu mengubah warnanya. Maka dari itu penting untuk mengenal nuansa hijau ini dan bedanya dengan nuansa lama aslinya: hitam.
Sudah banyak terjadi konferensi internasional membahas situasi dan status lingkungan hidup berkaitan dengan dua perhelatan besar sebelum ini. Setiap KTT puncak selalu melahirkan pelangi makalah, proklamasi, deklarasi dan kritik. Pada masing-masing KTT, gurat warna ungkapan krisis lingkungan hidup akan berbeda beda, demikian juga wacana ideologi akan diwarnai oleh situasi politik kontemporer masa tersebut. Demikian juga KTT yang di Johannesburg kali ini, ciri utamanya adalah bahwa persoalan lingkungan hidup di-casting sebagai peran penumpang gelap, dan urusan luar.
Sekedar penjelasan, definisi penumpang gelap adalah orang yang menikmati keuntungan yang nikmat tapi menghindari membayarnya. Joseph Keller mengetengahkan gambaran klasik persoalan penumpang gelap dalam kalimat beracunnya: “Saya tidak mau lagi terlibat dalam perang” Mayor bertanya “Apa kamu mau menyaksikan negara kita kalah?”. “Kita tak akan kalah, orang kita lebih banyak, uang dan materi kita juga lebih banyak, Ada sepuluh juta tentara yang bisa menggantikan saya, beberapa orang terbunuh, tapi kan lebih banyak lagi yang akan dapat uang dan hidup senang, jadi biar orang lain saja yang terbunuh”. “Tapi bagaimana kalau semua orang di pihak kita berpikir begitu?”. “Yah kalau begitu aku jadi orang konyol yang nggak berpikir demikian kan?”.
Masalah lingkungan hidup dianggap sebagai urusan luar, adalah suatu hal yang lain lagi. Urusan luar: dampak tak terkompensasi dari tindakan seseorang terhadap keselamatan orang lain yang kebetulan ada di dekatnya . Kaitan dari dua cabang ini berasal dari persaingan dan kenyataan bahwa lingkungan hidup tak dapat dikecualikan. Semua orang ingin udara yang bersih, tapi kalau kita dapat mengakalinya supaya gratis (prinsip tak bisa dikecualikan), sekalipun akibatnya semua orang lain menderita karena udara bersihnya kita pakai (udara bersih adalah saingan), dan kalau kemudian orang lain begitu teragitasi sehingga ia akan membersihkan udara tersebut, lalu buat apa kita membayar? (kenapa tidak jadi penumpang gelap saja?). Inilah elemen konstan dalam utak atik rumus kebijakan publik selama dua KTT lingkungan hidup yang terdahulu, dan satu yang akan datang ini. Lensa ekonomi yang dipakai mengamati masalah lingkungan ini menunjukkan adanya sesuatu yang mengganjal dalam politik kontemporer.


TIAP GENERASI MEMBAWA RETORIKANYA


TIAP RETORIKA MEMBAWA TIRANINYA.


KTT Pertama di Stockholm tahun 1972, dilangsungkan dengan nama “Konperensi dunia tentang lingkungan hidup manusia”. Keprihatinan utama KTT tersebut adalah soal batas-batas pertumbuhan, yaitu bagaimana lingkungan hidup membatasi ekspansi manusia, baik ekspansi demografis maupun ekonomis. Para pakar Club of Rome memperbaharui argumen Malthus tentang batas populasi, serta mengumumkan bahwa umat manusia sedang akan kehabisan sumber-sumber daya tak terbarukan, dan dibayangi bencana krisis energi.
Sekalipun kaitan antara lingkungan hidup global dan pembangunan berkelanjutan telah diangkat sebelum acara tersebut , tapi “Konperensi Dunia” tersebut ternyata sebuah konferensi kecil saja, kebanyakan agenda KTT tersebut dikendalikan oleh persoalan negara-negara vokal. Pemilihan tempat berlangsungnya konferensi merupakan indikator bahwa permasalahan sentralnya bukan “pembangunan berkelanjutan” global, tetapi hujan asam di Skandinavia.
Sekalipun retorika bencana populasi duduk hadir di dasar pikiran konferensi tersebut, tetapi kebijakan yang muncul bukan dari Malthus, melainkan dari A.C. Pigou. Saat itu negara masih dianggap sebagai suatu mekanisme tepat untuk menangani soal perbedaan antara biaya nominal dan biaya nyata kegiatan ekonomi di suatu masyarakat, dan teori Pigou dengan mudah dapat diterapkan. Di atas riak-riak konferensi muncul rakit penyelamat berupa resolusi yang dapat segera diadopsi negara maju, serta beberapa yang bisa mempengaruhi negara berkembang. Resolusi yang muncul membawa kerapuhan berupa anggapan kemungkinan badan internasional seperti PBB untuk dapat menjinakkan urusan luar yang terseret oleh kapitalisme industrial melalui alur informasi dan niat baik semata. Setelah itu dimulailah Program lingkungan hidup PBB (UNEP), yang melahirkan Earthwatch, yaitu suatu sistim penyelaras dan penyebaran informasi PBB. Menilik apa yang terjadi kemudian, maka sebenarnya pendekatan tersebut merupakan penyembuhan yang naif tergadap persoalan lingkungan hidup internasional.


Sejak itu kemudian terjadi keheningan.


Setelah itu tak ada KTT besar tentang lingkungan hidup selama 20 tahun. “Hilangnya dekade lingkungan hidup” dapat dijelaskan oleh beberapa sebab: PBB sedang mengalami krisis; Presiden AS saat itu adalah Reagan ; Perang dingin betul betul menjadi bertambah dingin; dan nampaknya, pemerintah berbagai negara tak punya waktu untuk memikirkan soal lingkungan hidup. Situasi “cegukan” multilateral tahun 1980-an ini, ternyata tidak menghalangi kampanye para aktivis, dengan Greenpeace dan partai-partai hijau menguat di Eropa. Dikuntit oleh tekanan ini, maka negara-negara kuat kemudian mulai butuh memikirkan lagi soal-soal lingkungan hidup. Tahun 1992, Konferensi terbesar PBB dalam sejarahnya digelar di Rio. 15 ribu orang menghadiri KTT Bumi. Ini sebuah jamboree, sebuah perayaan keberagaman, karnaval manik-manik dan sandal.


Keberagaman tidak terbatas pada kubu NGO saja, di ruang-ruang kebijakan terjadi pertarungan ideologi. Untuk mengantisipasi apa yang disebut sebagai Jalan ketiga, digelarlah suatu resolusi sebagai penawar ketegangan antara Adam-Smith yang neo-liberalis dari borjuasi Utara dengan kuasi-sosialisme gerakan Chipko dari Selatan yang populis. Pada jaman-jaman skizoprenik ini, cukup pantaslah kalau KTT bumi tersebut dikoordinasikan oleh Maurice Strong, seorang yang menurut ucapannya sendiri “Berideologi sosialis, bermetodologi kapitalis”.


Solusi politik konferensi Rio membereskan dikotomi sosialis kapitalis dengan gemilang. Retorika deklarasi Rio diberi polesan yang tepat dan progresif – “Lingkungan hidup manusia” berubah menjadi “pembangunan berkelanjutan”, kepentingan Selatan (terutama tentang aliran dana internasional untuk memfasilitasi pembangunan) diletakkan di tengah panggung, dan deklarasi Rio dihiasi dengan retorika yang fasih. Lebih dari 2 milyar dolar AS dihimpun untuk fasilitas lingkungan hidup global. Bahkan di deklarasi final, sekalipun Israel menggonggong, kafilah mencantumkan rujukan tentang hak pembangunan berkelanjutan bagi masyarakat di wilayah pendudukan.


Bersama dengan deklarasi Rio, muncul juga dokumen lain, Agenda 21 yang masif, komprehensif, ensiklopedis dan berkeanekaragaman. Dokumen Agenda 21 ini juga adalah makluk jamannya, berhiaskan konsep-konsep seperti “subsidiaritas”, “desentralisasi” dan sebuah penafsiran yang amat ganjil atas “berkelanjutan”. Di belukar Agenda 21 inilah kita dapatkan tunas yang sekarang akan mekar di Johannesburg. Bab 2 bagian 1 Agenda 21 memperingatkan kita bahwa
“Proses pembangunan tak akan mendapatkan momentumnya jika ekonomi global kurang dinamis dan kurang stabil serta diganggu oleh ketidak menentuan …..Ekonomi internasional harus menyediakan iklim internasional yang mendukung untuk dicapainya tujuan-tujuan lingkungan hidup dan pembangunan melalui….. inter alia, mendorong pembangunan berkelanjutan melalui liberalisasi perdagangan”.


Sebagaimana pada KTT lingkungan hidup pertama, retorika Malthusian digandeng dengan kebijakan Pigouvian, demikian pula “proto-jalan ketiga isme” di Rio punya ekonomnya juga, kali ini adalah Ronald Coase. Menurut Coase, Pigou dan para pengikutnya sangat kurang memperhitungkan biaya transaksi dalam mendorong pemerintah mengatasi urusan luar. Solusi Coase tentang persoalan barang-barang publik adalah melepaskannya kepada mekanisme pasar untuk menanganinya sebisanya.


Keadilan kesetaraan bukan isu yang terlalu merepotkan dalam analisa Coasian. Contoh? Wilfred Beckerman, seorang ekonom yang Iconoclast dan Coasian, dalam “Kecil itu Bodoh”-nya mampu menyarankan bahwa solusi pencemaran udara akibat privatisasi barang publik adalah privatisasi udara. Dengan menciptakan hak milik terkotak-kotak atas udara, maka mereka yang memiliki udara akan lebih terdorong untuk memeliharanya dengan baik, dan lebih banyak melakukan langkah-langkah aktif melawan siapa saja yang merusak hak milik tersebut dengan cara menebari racun. Karena udara tidak punya afiliasi kenegaraan, maka solusi berbasis negara tunggal tak akan berhasil (walaupun sedikit yang menyesalkan keputusan unilateral AS untuk memagari polusi atmosfir nya yang tidak proporsional). Dengan tidak adanya pemerintahan global untuk menindak para penumpang gelap udara bersih negara tetangga, dan dengan kenyataan bahwa mekanisme pengaturan akan memakan biaya transaksi yang tinggi, maka mekanisme pasar menyediakan jawaban paling efisien untuk membereskan urusan luar polusi atmosfir global. Dengan begitu privatisasi udara secara selektif merupakan solusi logis untuk persoalan polusi atmosfir global.


Karena termotivasi oleh pemikiran keadilan melalui efisiensi alokasi, maka Coase jarang memikirkan konteks sosial yang lebih luas. Kalaupun pas sedang memikirkannya, kira kira pemikirannya kurang lebih “Pada umumnya saya yakin bahwa pengurangan polusi akan menguntungkan mereka yang dari tingkat pendidikan sosial dan tingkat kesejateraan tinggi, serta merugikan warga miskin komunitas kita” . Banyak korban keracunan Union Carbide di Bhopal dan anak anak ashma di Meksiko, akan bersuara lain.


PENGGUNAAN MANCUR OLSON


Lanjut ke masa kini. Bulan Agustus ini, Johannesburg akan menjadi tuan rumah Konferensi Puncak Dunia tentang Pembangunan Berkelanjutan. Sebenarnya Johannesburg akan menjadi tuan rumah 3 konferensi: 1 untuk delegasi resmi, 1 untuk “masyarakat sipil” dan satu lagi untuk mereka yang tak mampu atau tak mau membayar biaya pendaftaran masyarakat sipil sebesar 165 Dollar AS.


Konferensi yang ditata dalam tiga tingkat ini, mencerminkan kenyataan menyedihkan tentang kekuasaan dan kendali birokrasi serta perlawanannya, suatu kenyataan tanda zaman ini . Pada WSSD, Bank Dunia akan mempresentasikan visinya tentang “pembangunan berkelanjutan” dan Bank Dunia ingin “masyarakat sipil” yang beradab ikut datang. Bank Dunia dan kawan- kawan akan naik panggung, dan mereka ingin tampil dihadapan pemirsa yang jinak dan manis. Jadi sebelum pertunjukan dimulai mari kita pelajari naskahnya baik-baik dan bersiap-siap untuk membuat keonaran. Sesudah itu kita bisa meninggalkan panggung, dan membakar naskah itu.


Dalam kelanjutan trend ideologi di luar panggung, KTT ke tiga ini punya maskotnya juga, yaitu almarhum Prof. Mancur Olson. Kiriman terakhir dari menara meriam kapitalisme internasional adalah draft laporan pembangunan dunia tahun 2003 dari Bank Dunia, berjudul “Pembangunan Berkelanjutan dalam Ekonomi Dinamis”. Laporan ini adalah manifesto Bank Dunia untuk menyelesaikan masalah lingkungan hidup, baik lokal maupun global. Jantung dari laporan ini adalah analisa Olsonian, sebuah analisa yang kemutakhirannya akan membuat kita terpana.
Olson punya sebuah pemikiran besar: “individu rasional yang berkepentingan diri, tak akan bertindak untuk mencapai tujuan bersama atau tujuan kelompoknya”, karena persoalan penumpang gelap. Meskipun demikian toh kasus penumpang gelap tidak terjadi sepanjang waktu. Hal ini dijelaskan dalam logika tindakan kolektif Olson. Dengan asumsi bahwa anggota kelompok besar lebih akan memilih untuk menjadi penumpang gelap, Olson merumuskan bahwa jika manfaat-manfaat yang diperoleh oleh kelompok kecil bisa dilokalisir, maka ada insentif untuk mendapat keuntungan dari kepasifan kolektif mayoritas. Bonusnya, karena kelompok ukurannya kecil, maka penumpang gelap lebih mudah diketahui dan dicegah. Kelompok orang yang jumlahnya sedikit, bersama-sama dapat mengangkat lebih dari jumlah berat mereka, karena jumlahnya kecil. Begitulah menurut Olson, seberapa besar atau kecil ukurannya, itulah yang menentukan. Yang penting ukurannya (“size does matter!”), bukan relasi ke alat produksi, sekalipun relasi ke alat produksi ini bisa mengakibatkan munculnya kelompok kecil. Menurut Olson, ukuran lah yang menentukan, bukan sejarah, meskipun kerawanan sejarah bisa saja membuat suatu kelompok terpojok ke posisi minoritas. Dengan logika ini sebagai palu, Olson memaku semua persoalan masyarakat dan politik dengan pendekatan yang sama. Keajegan Olson secara konsisten berfokus pada ukuran kelompok, membuatnya diperkirakan oleh rekan rekan sejawatnya sebagai calon kuat pemenang hadiah Nobel. Sebelum sempat terbukti mendapatkan hadiah Nobel, Olson terlanjur meninggal pada tahun 1998. Meskipun demikian, jiwa dan semangatnya tetap hidup. Bank Dunia telah menggunakan Olson untuk menangani masalah lingkungan hidup karena pendekatannya dapat diterapkan untuk politik barang-barang publik.


Tinjaulah soal lobby industri misalnya. Kelompok lobby industri bisa menggapai apa yang mereka inginkan karena mereka adalah kelompok kecil dari segi ukuran jumlah orang. Kecil dan terorganisir dengan baik, dan mereka punya semua insentif untuk membiayai kegiatannya demi menghindari biaya tinggi penanganan lingkungan hidup. Kalau perlu bukti tentang hal ini, bisa periksa keadaan Industri energi AS di rezim Bush. Bank Dunia sendiri sekalipun sangat jarang, tapi kadang sensitif juga tentang fenomena kelompok kecil ini. Lihat misalnya cuplikan laporan Bank dunia berikut ini:
“Keterlambatan antara riset dasar dengan penerapan komersial besar-besaran sangat memprihatinkan. Industri swasta tidak punya kemauan untuk menjalankan riset dasar di bidang fusi, pencarian karbon geologis, pembakaran arang efisiensi tinggi, atau teknologi efisiensi bangunan untuk iklim tropis. Lebih jauh lagi, lucunya bahkan untuk riset terapan pun banyak dikembalikan ke bawah payung pemerintah. Contohnya misalnya investasi publik sebesar 3 juta dolar dalam teknologi jendela yang efisien diproyeksikan akan menghasilkan penghematan energi sebesar 15 milyar dollar di tahun 2015 di AS saja. Sekalipun demikian nilai pendanaan untuk riset penghematan energi telah menurun di AS dan di Eropa .
Dipermukaan, Olson nampak sebagai teoritisi yang relevan. Kelompok kepentingan industri mengancam lingkungan hidup, maka mereka perlu dihentikan. Masalahnya karena teori Olson sangat monokromatik (berwarna tunggal), maka teori ini bisa dibengkokkan dengan berbagai cara. Bank Dunia memelintir analisa Olson dengan cara yang halus dan berbahaya.


PROTEKSIONISME DAN “SNIVEL SOCIETY”


Solusi Bank dunia terhadap problem Olson mengenai kelompok kecil kepentingan adalah solusi yang menempatkan perdebatan aslinya dengan cara yang aneh. Bank Dunia tidak pernah secara eksplisit membahas tentang kekuasaan, terutama karena memang kekuasaan merupakan ide yang sangat sulit didefinisikan, tapi juga karena memang nampaknya Bank Dunia tidak akan mengerti sekalipun sudah memeras pikiran. Daripada menangani pertanyaan sulit tentang kekuasaan, dan pertanyaan lebih sulit lagi sebagai konsekuensinya, Bank Dunia memilih solusi lain. Bank Dunia menempatkan soal kelompok kecil dan penumpang gelap sebagai soal teknis. Lalu cara menyelesaikan persoalan teknis ini adalah melalui teknokrasi bukan melalui politik. Menurut argumen Bank Dunia, kalau kita berhasil mengatasi kekuasaan kelompok kecil yang tidak representatif, maka kita akan bisa dengan lebih baik mengatasi persoalan kurang tersedianya barang publik lingkungan hidup.


Periksa lagi argumen tersebut dengan seksama. Argumen ini adalah argumen kambing hitam yang sangat hebat. Bank Dunia berhasil menggunakan Olson untuk sekaligus menghitamkan baik kelompok kecil kepentingan industri maupun kelompok kecil organisasi progresif dengan kuas yang sama, yaitu karena mereka kelompok kecil. Bukan karena politik, atau kekuasaan atau hubungan mereka ke lingkungan hidup dan alam, tetapi karena kedua kelompok ini sama- sama kecil. Menurut Bank Dunia, kecil itu tidak hanya bodoh, tapi juga membahayakan lingkungan.
Dalam laporan Bank Dunia terbaru, kepentingan industri terproteksi di negara maju dibahas cukup panjang. Ada dua penafsiran yang tampil di laporan ini, penafsiran pertama agak bersifat dermawan, penafsiran kedua agak kurang, keduanya valid. Mari kita lihat versi pertama. Ada faksi yang agak radikal egalitarian dalam kubu neo-liberalisme. Faksi ini layak dipandang karena niat mereka baik (sekalipun mereka mengaspal jalan ke neraka). Ide radikal dalam neo-liberalisme adalah bahwa kita ambil sesuatu dari kelompok kecil produser yang berkuasa, lalu diberikan kepada massa, kepada konsumen. Berikut ini contoh pemikiran neo-liberal, yang kritis dan radikal:
8.82: Saat ini harga BBM dipatok ? dari harga pasaran dunia; minyak tanah dijual dengan harga 8 persen dari harga pasaran dunia, dan BBM pada 6 persen dari harga pasaran dunia. Pemerintah Iran mengalokasikan 18 persen dari anggaran untuk subsidi ini. Salah satu sasarannya adalah membantu kaum miskin. Tetapi kalau pemerintah menghentikan subsidi ini, lalu menjual minyaknya di pasar dunia, dan membagi keuntungannya dengan merata di seluruh masyarakat, maka pendapatan masyarakat termiskin akan naik 3 kali lipat dan pendapatan kaum miskin perkotaan naik 2 kali lipat. Jelas secara rata-rata pendapatan kaum miskin di berbagai strata akan meningkat, tetapi industri yang intensif energi akan mengalami kemungkretan output luar biasa, dan pekerjanya akan menderita kecuali kalau sebagian besar dari penghematan dari pencabutan subsidi disiapkan untuk membantu para pekerja berpindah ke sektor kerja lain.


Ini adalah wacana yang potensial, bahkan progresif, setidak tidaknya bisa dibaca secara simpatik. Cara yang lebih berguna untuk memahaminya adalah bahwa Bank Dunia sedang berupaya menciptakan borjuasi internasional. Penting memahami mengapa dibutuhkan borjuasi internasional. Kepentingan para pemilik modal di berbagai negara maju belum tentu selalu selaras. Kesamaan dalam mengeksploitasi kelas pekerja domestik tidak cukup memberi alasan bagi mereka untuk akur di tingkat internasional. Barang-barang masuk ke pasar internasional dengan persaingan, dan margin laba terancam oleh perbedaan tingkat eksploitasi internasional. Olson meramalkan bahwa untuk mengatasi ancaman menurunnya laba karena persaingan internasional, maka borjuasi domestik akan membentuk kelompok perdagangan guna menjaga tingkat sewa yang tinggi. Dengan adanya komitmen “perdagangan internasional yang terbuka demi mempromosikan lingkungan hidup”, Bank Dunia ingin menyingkirkan blok borjuasi nasional ini. Gramsci mengingatkan kita bahwa keselarasan dalam borjuasi tidaklah otomatis -- berbagai elemen dalam borjuasi dapat (bergantian) berperan dalam hegemoni pada waktu waktu yang berbeda-beda. Hal yang sama juga terjadi di ajang internasional. Borjuasi komprador yang proteksionis ditantang oleh blok yang lebih suka dengan ide perdagangan internasional, dengan deindustrialisasi dan feminisasi pasar tenaga kerja tak trampil di Selatan. Ini adalah pertempuran antar dua macam borjuasi, antara borjuasi yang memeras rakyatnya dengan dalih nasionalisme, dengan borjuasi yang juga memeras rakyatnya tapi di bawah bendera internasional Dominasi borjuasi internasional tidak terjadi begitu saja. Untuk mencapai dominasinya dibutuhkan ideologi ini-itu, intervensi ini-itu, dan komitmen dari kelompok seperti Bank Dunia.


Sekarang kita kembali ke Olson lagi, karena ada sisi lain di Logika Olsonian Bank Dunia ini. Ingat bahwa menempatkan soal lingkungan sebagai perkara ukuran kelompok besar atau kecil sama sekali tidak menyentuh politik. Maka kelompok kecil seperti Green Peace dan dana perlindungan lingkungan hidup (termasuk pendukungnya yang besar) dihitung sebagai kelompok kecil khusus. Kelompok ini hadir lalu di beri resep yang sama oleh Bank Dunia, diberi tindakan disiplin yang sama. Setelah mendiagnosa bahwa ukuran kelompok lah yang menentukan, Bank Dunia memberikan solusinya: Perdalam kebijakan internasional terhadap politik domestik. Karena Olson sangat sumir dalam apa artinya kelompok kecil, maka kritisisinya tentang kelompok kecil memberikan lisensi kepada Bank Dunia untuk memerangi tak hanya kelompok kecil industri yang kuat, tapi juga kelompok kecil yang lebih lemah yang merupakan masyarakat sipil. Pendekatan ini adalah serangan ke jantung demokrasi.


Sebelum lanjut, kita tidak boleh naif tentang isu ini. Tidak semua kelompok yang disebut ‘masyarakat sipil’ mendapat dukungan dari kaum radikal atau pun kaum progresif. Bank Dunia dan teman-temannya sudah lama membuka jalan ke “masyarakat sipil’, misalnya kelompok “astro-turf” (rumput sintetis) aktivis industri perminyakan. Jadi soalnya adalah kekhawatiran mengenai seberapa representatif dan seberapa demokratis kelompok-kelompok kecil organisasi non- pemerintah di Selatan. Itulah kenapa akhir-akhir ini muncul kritik terhadap “Snivel Society”, aktivis dan intelektual yang sudah di kooptasi, yang politiknya adalah membantu rezim dan bukan menantangnya . Demikian maka Johannesburg akan punya 3 tingkat pertemuan: 1) Para multi-lateral, 2) masyarakat sipil terkooptasi seharga 165 dollar AS sekali main, dan 3) semua orang lainnya.


Penafsiran Olson secara selektif memberi lisensi untuk memperkuat keadaan tata kekuasaan yang ada saat ini dengan cara tidak mengkajinya dengan baik. Maka dari itu tidak ada diskusi tentang eko-rasisme dan patriarki, Mungkin juga tidak fair mengharap Olson bisa menjelaskan ini, toh Olson hanya membahas tentang barang-barang publik. Tetapi justeru di sinilah persoalannya, Dengan menihilkan segala wacana pengalaman sosial, dan mentransformasi soal pembangunan berkelanjutan manjadi manajemen teknokratik tentang kelompok kepentingan kecil, maka jelas ini berarti kepedulian Bank Dunia pada persoalan lingkungan hidup hanyalah sebuah etalase yang tidak bersungguh-sungguh. Pada kasus-kasus di mana solusi teknokratik telah meningkatkan nasib kaum perempuan dan meningkatkan pengeluaran biaya untuk menyekolahkan anak perempuan misalnya, telah dikompromikan dengan desakan Bank Dunia untuk perbaikan pembiayaan. April tahun lalu, dihadapkan pada statistik kinerja penyediaan pelayanan mendasar negara sosialis yang relatif lebih baik dibanding catatan Bank Dunia, James Wolfensohn menyatakan “Cuba telah bekerja dengan sangat baik di bidang pendidikan dan pelayanan kesehatan, hasil kerja mereka sangat baik dan saya tidak merasa malu untuk mengakuinya”.


Dengan kata lain, dengan menganalisa tiap-tiap KTT berdasarkan siapa ekonom nya, maka lebih mudah untuk melokalisir ideologi dari konferensi ini dalam wacana rasis dan patriarki. Ekonomi borjuasi mempunyai reputasi buruk dalam kemampuan menghadapi isu gender dan ras. Bias,dan Blindspots dalam eknomi borjuasi, serta kelemahannya dalam menyediakan alat perubahan sosial membuat lemah kebijakan-kebijakan yang direkomendasikan. Bank Dunia dengan cara pandang Olsonian-nya datang dengan visi yang spesifik tentang bagaimana seharusnya demokrasi berjalan. Sama dengan trio persoalan ras-kelas-gender, Bank Dunia sebenarnya tidak terlalu merasa nyaman dengan persoalan demokrasi. Dalam laporan Bank Dunia, diulas persoalan akuntabilitas dari kelompok kecil dan pemerintah (Tapi aneh nya tidak diulas akuntabilitas lembaga bank pembangunan internasional).


Selanjutnya Bank Dunia menyatakan
“Demokrasi mungkin bisa jadi alat institusional yang membantu [keadilan]. Para penguasa Inggris telah membuat komitmen [sic] dengan memperkuat tangan para bangsawan lewat penciptaan parlemen. Jelas, demokrasi (atau perluasan pemungutan suara dengan kelompok-kelompok baru) bisa menjadi suatu komitmen untuk re-distribusi. Di banyak negara, demokrasi telah diperluas dalam menanggapi ketegangan sosial yang menuntut pengurangan ketidak adilan”.
Pernyataan ini adalah suatu pemahaman yang sangat aneh tentang perubahan sosial, suatu cara berfikir yang meletakkan gerobak di depan kuda penghelanya. Demokrasi adalah hasil dari perjuangan yang luas, dimana yang lemah bertempur melawan yang kuat. Akuntabilitas adalah suatu nuansa hasil, tetapi tentu hasil dari perjuangan yang panjang, pahit dan mungkin berdarah. “Transparansi”, “Good governance” dan segala pernik anti-politik jaman kita ini, tidak cukup untuk mengubah kesetimbangan kekuasaan.


KEMITRAAN


Keajaiban Olson, telah memberi peluang Bank Dunia untuk memata-matai tidak hanya elemen sektor privat yang nasionalis keras kepala di Selatan, tapi juga memata matai juga “masyarakat sipil” karena semua ini ada di wilayah kelompok kecil, berpengaruh, dan menyulitkan, musuh-musuh dari neo-liberalisme. Jika penafsiran ini benar, maka kita akan melihat peningkatan jumlah aliansi transnasional antara borjuasi non-negara, publik, dan sipil – ini diberi terminologi “kemitraan”. International Institute for Sustainable Development telah memasang “kemitraan untuk pengetahuan” dengan masyarakat sipil dan dengan Bank Dunia. Bank Bunia juga melakukan upaya serupa. Yaitu proyek “Development Gateway” (Gerbang informasi pembangunan), suatu proyek yang banyak dikritik dalam soal transparansi, parsialitas, dan dianggap sebagai pemborosan. Dengan melihat para “stakeholders” yang terlibat, maka IISD pun agaknya akan terjebak pada persoalan yang sama. Di KTT Johannesburg, sekretariat masyarakat sipil (yang sudah di ko-optasi) mendapatkan dana dari perusahaan, sehingga ada spekulasi jangan-jangan nanti masyarakat sipil ini mendukung perampasan tanah oleh Coca Cola. Badan kamar dagang internasional (International Chamber of commerce) dan Badan bisnis dunia untuk pembangunan berkelanjutan (World Business Council for Sustainable Development) telah berselingkuh, berpartner dengan PBB, Bank Dunia, dan beberapa NGO, serta beberapa akademisi, semua ini nampaknya bersemangat untuk membuktikan bahwa kalau dunia bisnis dibebaskan dari campur tangan pemerintah, maka akan dapat membuktikan prakteknya secara bertanggungjawab.


KESEDIHAN MARGARET MEAD


Ketelanjangan kemitraan yang terjadi pada WSSD (dan di kebanyakan event multilateral besar akhir akhir ini) mungkin akan membuat kita berfikir kembali tentang ucapan Margareth Mead di dunia aktivis : “Jangan pernah meragukan bahwa sekelompok kecil warga yang berkomitmen dan berpikiran mendalam dapat mengubah dunia, karena senyatanya yang pernah bisa mengubah dunia adalah kelompok kecil seperti itu”. Sekalipun slogan ini sudah dihafalkan seperti mantra oleh para aktivis progresif seluruh dunia, tapi tetap penting untuk menyadari bahwa pernyataan ini tetap pisau bermata dua, Bank Dunia, sebenarnya juga sekelompok kecil warga yang berkomitmen tinggi, hanya saja politik mereka busuk.
Di sinilah mungkin sudah saatnya kita melepas margareth Mead dari posisinya sebagai juru slogan progresif. Kearifan Margareth Mead sepenuhnya Olsonian, mungkin sebenarnya ini bukan sesuatu yang fatal salah, tetapi tetap berbahaya. Slogan Margareth Mead memberikan ruang bebas bagi mereka yang lebih cenderung sentralistis daripada demokratis, yang agak cenderung meletakkan kepercayaan dalam kemampuan masyarakat menentukan aksi, daripada soal beratnya penumpang gelap mengganggu. Juga pernyataan Margareth Mead mengandung kekeliruan dalam hal, bahwa banyak gerakan yang hebat dalam sejarah tidak hanya bertumpu pada sedikit orang yang terorganisir, tetapi juga dari aksi kolektif ratusan ribu orang. Entah aksi ini terjadi di rumah, atau di lapangan, atau di pabrik atau di bangku sekolah, populisme dan aksi massa tetaplah penting. Kapitalisme mencoba untuk memprofesionalisasi aktivisme, dengan cara yang paling kelam. Dalam rangka menghadapi mobilisasi yang dilakukan terhadap Bank Dunia, PBB dan kapitalisme global selama 5 tahun terakhir, jawaban yang paling tepat dan terbukti masuk akal adalah, bukan mundur ke kegelapan pengorganisasian kelompok kecil, tapi menggelegarkan aksi massa.
Catatan kaki:
Raj Patel (rcp9@cornell.edu) baru saja lulus PhD dari Universitas Cornell, sekarang bekerja di Food First, AS. Catatan editor: makalah ini ditulis sebelum beliau menjabat di Food-First.