PEMBONGKARAN ALIANSI NEGARA-NEGARA ATLANTIK?

Walden Bello*

 

  Friday, October 25, 2002

“Jerman diisolir karena sikapnya terhadap Irak”, Berita utama ini bergema di seluruh Amerika dalam beberapa minggu terakhir, tampil sebagai ilustrasi klasik hari-hari ini tentang bagaimana jurnalisme Orwellian Amerika.
Jerman diisolir? Orang tidak memperoleh informasi ini dari pol yang dilakukan di Amerika yang menunjukkan bahwa mayoritas bangsa Amerika merasa bahwa Presiden George Bush tidak membuat masalah untuk berperang melawan Irak. Orang juga tidak memperoleh kesan ini dari Eropa, dimana kebanyakan orang menentang rencana perang yang dilakukan Washington. Barangkali karena Gerard Schroder, yang baru-baru ini koalisinya memenangkan pemilu di Jerman, yang sejalan dengan mayoritas bangsa Eropa, dan Tony Blair, pembantu George Bush yang loyal, yang tidak sejalan, bahkan di Inggris sendiri.
Selama perjalanan bedah buku di Italia baru-baru ini, pertanyaan yang paling sering diajukan baik oleh wartawan maupun peserta (audiens) adalah apakah berperang melawan Irak akan memungkinkan Amerika membangkitkan ekonominya yang goyang, yang diduga oleh hampir setiap orang merupakan motif di balik kampanye Washington untuk menginvasi Irak.
Setelah mendengar cerita trans-Atlantik atas ucapan Menteri Kehakiman Jerman yang membandingkan Bush dengan Hitler, masyarakat sipil Eropa yang berkumpul di Copen Hagen mengatakan setuju dengan komentar seseorang yang mengatakan bahwa kesalahan pejabat hanyalah bercerita kebenaran tanpa lebih dahulu memeriksa kalau disana ada reporter.

MEMADAMKAN SIMPATI

Setahun yang lalu, barangkali simpati terhadap Amerika berada pada titik yang tertinggi selama periode setelah perang. Harian Le Monde yang terbit di Perancis tergerak untuk mengumumkan, dengan gaya un-Gallic….yang jelas, “kita semua bangsa Amerika sekarang ini”. Penduduk desa di Kenya menyumbangkan bentuk kekayaannya yang tertinggi – sapi - ke New York. Walaupun orang menunjukkan bahwa peristiwa September berakar dalam ketidakadilan historis terhadap dunia Arab dan Islam, hampir setiap orang Kaum Kiri di seluruh dunia mengutuk serangan terhadap Menara Kembar sebagai perbuatan keji.
Setahun kemudian bagaimana Amerika Serikat menyia-nyiakan perbuatan baik itu dan menciptakan situasi yang membuat negeri itu lebih terisolasi ketimbang sebelum peristiwa September? Bagaimanakah Amerika mengelola prestasinya untuk mendorong aliansi ideologis dan politik Amerika-Eropa yang menopang hegemoni Barat atas negara-negara lainnya di dunia selama periode setelah perang yang menuju sisi tebing yang curam?

Ada banyak alasan tetapi ada tiga yang menonjol.
Selain menempuh jalan dengan menggunakan mekanisme hukum untuk membawa para pelaku serangan terhadap WTC dan Pentagon ke Pengadilan, sebagaimana berlaku terhadap Libya karena melakukan pemboman terhadap pesawat Pan Am di Locherbie, Washington memilih bertindak sepihak dengan mengebom, menginvasi dan menghancurkan sebuah negeri. “Afganistan yang dibebaskan”, sinonim dengan dunia Hobbesian (serigala yang saling menerkam) dimana semua manusia terlibat dalam perang melawan semuanya.
Selain mengamati secara serius keluhan-keluhan orang Muslim dan Arab terhadap orang Barat, Amerika Serikat menolak memberikan pengakuan sedikitpun terhadap mereka, bahkan menempatkan dirinya 100 persen di belakang usaha Israel untuk mengebom dan membuldoser bangsa Palestina supaya menyerah.
Lantaran tidak menyambut kehadiran Peradilan Kriminal Internasional dan Protokol Kyoto tentang Perubahan Iklim sebagai langkah utama menuju kepemerintahan Global, Washington secara halus menolak menjadi negara yang memihak pada lembaga-lembaga tersebut. Arogansi para pejabat pemerintahan Bush berasal dari pandangan yang diungkapkan dengan baik sekali oleh Robert Kagan, salah seorang intelektuil kanan yang berkuasa, yang menolak multilateralisme sebagai senjata bangsa Eropa yang “lemah”, yang ingin mempertahankan keperkasaan Washington yang ingin terus mengganggu ketertiban dunia dimana bangsa-bangsa Eropa sendiri diuntungkan.

IRAK:

Debat tentang Irak hanya mengkristalkan sebuah perbedaan kepentingan dan nilai-nilai yang telah tumbuh selama beberapa tahun terakhir. Andre Gowers, editor The Financial Times yang menulis isu-isu terbaru tentang politik luar negeri, mengatakan bahwa keretakannya benar-benar sangat dalam. Ia berpendapat aliansi Eropa-Amerika, “menghadapi kesulitan-kesulitan yang lebih dalam ketimbang apa yang tampaknya harus diakui oleh para pemimpin masyarakat. Kesamaan pandangan yang mengikat Amerika-Eropa bersama-sama sedang memudar. Sejak September 2001, setelah kebersamaannya mengalami kegoncangan sebentar, secara jelas mereka telah terpecah. Perasaan terhadap ancaman teroris telah mengawali perubahan yang mendalam dalam politik luar negeri Amerika Serikat, tetapi merupakan sesuatu hal yang tak ingin ditanggung bersama dan tak bisa segera di mengerti oleh bangsa-bangsa Eropa. Mereka sama-sama mengalami salah pengertian. Hal itu mempengaruhi semua aspek hubungan Internasional, dari mediasi (atau kurangnya mediasi itu) di Timur Tengah sampai kerjasama (atau kurangnya kerjasama) dalam pertahanan dan dari gangguan-gangguan perdagangan trans-Atlantik sampai kebijakan tentang senjata-senjata pemusnah masal”.
Dalam pandangan ini, sikap solider terhadap Irak yang “dikucilkan” itu hanyalah merupakan langkah yang paling dramatis dalam proses yang lebih panjang. Tetapi Amerika Serikat bisa menggunakan caranya dan mengintimidasi pemerintah negara-negara Eropa dalam perang melawan Irak. Tetapi ini hanya akan mempercepat pembubaran aliansi negara-negara Atlantik.
Sementara ada dua kubu di organisasi Atlantik yang menangisi pudarnya Aliansi tersebut, yang sesungguhnya merupakan langkah positif bagi sebagian besar negara-negara di dunia. Hal itu membuka kemungkinan bahwa orang-orang Eropa akan mulai berjuang secara serius untuk menghadapi masalah-masalah ketidakadilan dan kemiskinan di negara-negara berkembang dengan menyampaikan pengertian struktur dominasi barat yang secara luas bertanggung jawab terhadap keadaan tersebut. Keadaan itu akan meratakan jalan bagi aliansi global yang lebih inovatif yang bisa menguntungkan bagi kebanyakan masyarakat dunia, termasuk pada akhirnya pembentukan aliansi Eropa-Afrika-Amerika Latin-Asia melawan hegemoni Amerika Serikat.
Tentu saja Eropa memiliki perangkat kerjanya sendiri yang represif, seperti kebijakan Pertanian Bersama, yang merupakan salah satu penyebab terbesar bagi kacaunya masalah pertanian di negara-negara berkembang. Peusahaan-perusahaannya sering sama eksploitatifnya dengan perusahaan-perusahaan pertanian milik Amerika. Dan pembatasan-pembatasannya terhadap kaum migran sering lebih kejam daripada kebijakan Washington. Tetapi kebutuhan untuk mencari sekutu dalam menghadapi Unilateralisme Washington bisa berfungsi sebagai insentif untuk mulai memperbaiki lembaga-lembaga ini.

Eropa yang hidup diselimuti oleh kemakmuran lama menganggap dirinya sebagai sahabat muda Amerika. Sekarang bangsa-bangsa Eropa mulai sedikit merasakan tentang apa yang telah lama dirasakan oleh sebagian dari kita : dieskploitasi, dipinggirkan, diremehkan. Ketika struktur-struktur hubungan Washington dengan dunia yang dalam bayangan Kaganian adalah kekuasaan imperial yang kesepian yang dikelilingi oleh banyak sekali kecemburuan tetapi musuh-musuhnya lemah, kami berkata kepada Eripa : “Selamat datang ke bagian dunia yang lain”

*Walden Bello adalah Direktur Eksekutif Focus on the Global South yang berkantor di Bangkok dan Profesor sosiologi dan administrasi negara pada Universitas Filipina.