“Jerman diisolir karena sikapnya terhadap Irak”, Berita utama
ini bergema di seluruh Amerika dalam beberapa minggu terakhir, tampil sebagai
ilustrasi klasik hari-hari ini tentang bagaimana jurnalisme Orwellian Amerika.
Jerman diisolir? Orang tidak memperoleh informasi ini dari pol yang dilakukan
di Amerika yang menunjukkan bahwa mayoritas bangsa Amerika merasa bahwa Presiden
George Bush tidak membuat masalah untuk berperang melawan Irak. Orang juga tidak
memperoleh kesan ini dari Eropa, dimana kebanyakan orang menentang rencana perang
yang dilakukan Washington. Barangkali karena Gerard Schroder, yang baru-baru
ini koalisinya memenangkan pemilu di Jerman, yang sejalan dengan mayoritas bangsa
Eropa, dan Tony Blair, pembantu George Bush yang loyal, yang tidak sejalan,
bahkan di Inggris sendiri.
Selama perjalanan bedah buku di Italia baru-baru ini, pertanyaan yang paling
sering diajukan baik oleh wartawan maupun peserta (audiens) adalah apakah berperang
melawan Irak akan memungkinkan Amerika membangkitkan ekonominya yang goyang,
yang diduga oleh hampir setiap orang merupakan motif di balik kampanye Washington
untuk menginvasi Irak.
Setelah mendengar cerita trans-Atlantik atas ucapan Menteri Kehakiman Jerman
yang membandingkan Bush dengan Hitler, masyarakat sipil Eropa yang berkumpul
di Copen Hagen mengatakan setuju dengan komentar seseorang yang mengatakan bahwa
kesalahan pejabat hanyalah bercerita kebenaran tanpa lebih dahulu memeriksa
kalau disana ada reporter.
MEMADAMKAN SIMPATI
Setahun yang lalu, barangkali simpati terhadap Amerika berada pada titik yang
tertinggi selama periode setelah perang. Harian Le Monde yang terbit di Perancis
tergerak untuk mengumumkan, dengan gaya un-Gallic….yang jelas, “kita
semua bangsa Amerika sekarang ini”. Penduduk desa di Kenya menyumbangkan
bentuk kekayaannya yang tertinggi – sapi - ke New York. Walaupun orang
menunjukkan bahwa peristiwa September berakar dalam ketidakadilan historis terhadap
dunia Arab dan Islam, hampir setiap orang Kaum Kiri di seluruh dunia mengutuk
serangan terhadap Menara Kembar sebagai perbuatan keji.
Setahun kemudian bagaimana Amerika Serikat menyia-nyiakan perbuatan baik itu
dan menciptakan situasi yang membuat negeri itu lebih terisolasi ketimbang sebelum
peristiwa September? Bagaimanakah Amerika mengelola prestasinya untuk mendorong
aliansi ideologis dan politik Amerika-Eropa yang menopang hegemoni Barat atas
negara-negara lainnya di dunia selama periode setelah perang yang menuju sisi
tebing yang curam?
Ada banyak alasan tetapi ada tiga yang menonjol.
Selain menempuh jalan dengan menggunakan mekanisme hukum untuk membawa para
pelaku serangan terhadap WTC dan Pentagon ke Pengadilan, sebagaimana berlaku
terhadap Libya karena melakukan pemboman terhadap pesawat Pan Am di Locherbie,
Washington memilih bertindak sepihak dengan mengebom, menginvasi dan menghancurkan
sebuah negeri. “Afganistan yang dibebaskan”, sinonim dengan dunia
Hobbesian (serigala yang saling menerkam) dimana semua manusia terlibat dalam
perang melawan semuanya.
Selain mengamati secara serius keluhan-keluhan orang Muslim dan Arab terhadap
orang Barat, Amerika Serikat menolak memberikan pengakuan sedikitpun terhadap
mereka, bahkan menempatkan dirinya 100 persen di belakang usaha Israel untuk
mengebom dan membuldoser bangsa Palestina supaya menyerah.
Lantaran tidak menyambut kehadiran Peradilan Kriminal Internasional dan Protokol
Kyoto tentang Perubahan Iklim sebagai langkah utama menuju kepemerintahan Global,
Washington secara halus menolak menjadi negara yang memihak pada lembaga-lembaga
tersebut. Arogansi para pejabat pemerintahan Bush berasal dari pandangan yang
diungkapkan dengan baik sekali oleh Robert Kagan, salah seorang intelektuil
kanan yang berkuasa, yang menolak multilateralisme sebagai senjata bangsa Eropa
yang “lemah”, yang ingin mempertahankan keperkasaan Washington yang
ingin terus mengganggu ketertiban dunia dimana bangsa-bangsa Eropa sendiri diuntungkan.
IRAK:
Debat tentang Irak hanya mengkristalkan sebuah perbedaan kepentingan dan nilai-nilai
yang telah tumbuh selama beberapa tahun terakhir. Andre Gowers, editor The Financial
Times yang menulis isu-isu terbaru tentang politik luar negeri, mengatakan bahwa
keretakannya benar-benar sangat dalam. Ia berpendapat aliansi Eropa-Amerika,
“menghadapi kesulitan-kesulitan yang lebih dalam ketimbang apa yang tampaknya
harus diakui oleh para pemimpin masyarakat. Kesamaan pandangan yang mengikat
Amerika-Eropa bersama-sama sedang memudar. Sejak September 2001, setelah kebersamaannya
mengalami kegoncangan sebentar, secara jelas mereka telah terpecah. Perasaan
terhadap ancaman teroris telah mengawali perubahan yang mendalam dalam politik
luar negeri Amerika Serikat, tetapi merupakan sesuatu hal yang tak ingin ditanggung
bersama dan tak bisa segera di mengerti oleh bangsa-bangsa Eropa. Mereka sama-sama
mengalami salah pengertian. Hal itu mempengaruhi semua aspek hubungan Internasional,
dari mediasi (atau kurangnya mediasi itu) di Timur Tengah sampai kerjasama (atau
kurangnya kerjasama) dalam pertahanan dan dari gangguan-gangguan perdagangan
trans-Atlantik sampai kebijakan tentang senjata-senjata pemusnah masal”.
Dalam pandangan ini, sikap solider terhadap Irak yang “dikucilkan”
itu hanyalah merupakan langkah yang paling dramatis dalam proses yang lebih
panjang. Tetapi Amerika Serikat bisa menggunakan caranya dan mengintimidasi
pemerintah negara-negara Eropa dalam perang melawan Irak. Tetapi ini hanya akan
mempercepat pembubaran aliansi negara-negara Atlantik.
Sementara ada dua kubu di organisasi Atlantik yang menangisi pudarnya Aliansi
tersebut, yang sesungguhnya merupakan langkah positif bagi sebagian besar negara-negara
di dunia. Hal itu membuka kemungkinan bahwa orang-orang Eropa akan mulai berjuang
secara serius untuk menghadapi masalah-masalah ketidakadilan dan kemiskinan
di negara-negara berkembang dengan menyampaikan pengertian struktur dominasi
barat yang secara luas bertanggung jawab terhadap keadaan tersebut. Keadaan
itu akan meratakan jalan bagi aliansi global yang lebih inovatif yang bisa menguntungkan
bagi kebanyakan masyarakat dunia, termasuk pada akhirnya pembentukan aliansi
Eropa-Afrika-Amerika Latin-Asia melawan hegemoni Amerika Serikat.
Tentu saja Eropa memiliki perangkat kerjanya sendiri yang represif, seperti
kebijakan Pertanian Bersama, yang merupakan salah satu penyebab terbesar bagi
kacaunya masalah pertanian di negara-negara berkembang. Peusahaan-perusahaannya
sering sama eksploitatifnya dengan perusahaan-perusahaan pertanian milik Amerika.
Dan pembatasan-pembatasannya terhadap kaum migran sering lebih kejam daripada
kebijakan Washington. Tetapi kebutuhan untuk mencari sekutu dalam menghadapi
Unilateralisme Washington bisa berfungsi sebagai insentif untuk mulai memperbaiki
lembaga-lembaga ini.
Eropa yang hidup diselimuti oleh kemakmuran lama menganggap dirinya sebagai
sahabat muda Amerika. Sekarang bangsa-bangsa Eropa mulai sedikit merasakan tentang
apa yang telah lama dirasakan oleh sebagian dari kita : dieskploitasi, dipinggirkan,
diremehkan. Ketika struktur-struktur hubungan Washington dengan dunia yang dalam
bayangan Kaganian adalah kekuasaan imperial yang kesepian yang dikelilingi oleh
banyak sekali kecemburuan tetapi musuh-musuhnya lemah, kami berkata kepada Eripa
: “Selamat datang ke bagian dunia yang lain”
*Walden Bello adalah Direktur Eksekutif Focus on the Global South yang berkantor
di Bangkok dan Profesor sosiologi dan administrasi negara pada Universitas Filipina.
“