|
|
||||||||
RESESI 1930-an LAGI? |
||||||||
| Walden
Bello*
|
||||||||
| September 25, 2002 | ||||||||
|
(Pembicaraan pada pertemuan Dewan Internasional World
Social Forum, di Bangkok, 13-15 Agustus 2002). Pertemuan WSF (World Social Forum) ini berlangsung di
bawah bayang bayang terbentuknya krisis terburuk kapitalisme global sejak
depresi besar 70 tahun yang lalu. Penentuan arah tujuan kita di masa depan
sangatlah tergantung pada pemahaman kita akan sifat dan dinamika krisis
ini. Diskusi ini akan dipandu dua prinsip metodologis: (1)
jangan pernah meremehkan keluwesan kapitalisme; dan (2) Jangan pernah
meremehkan kerentanan kapitalisme terhadap krisis. Setelah menyatakan ini, sekarang ijinkan saya mencoba
memaparkan bahwa kita saat ini sedang memasuki suatu krisis yang merupakan
titik temu antara 4 krisis. KRISIS LEGITIMASI Yang dimaksud sebagai krisis legitimasi adalah meningkatnya
ketidak-mampuan ideologi neo-liberal kapitalisme global untuk membujuk
kemungkinan dan kebutuhan masyarakat sebagai sistem produksi, pertukaran
dan distribusi. Bencana yang diakibatkan penyesuaian struktural di Afrika
dan Amerika Latin, reaksi berantai krisis finansial di Meksiko, Asia,
Brazil dan Rusia; jatuhnya Argentina ke dalam chaos pasar bebas, dan hilangnya
7 trilyun dollar AS uang pemodal (hampir senilai PDB AS) karena penyelewengan;
semua ini telah menggerogoti kredibilitas kapitalisme. Lembaga lembaga
yang berfungsi sebagai pengendali ekonomi global bagi kapitalisme global,
yaitu IMF, Bank Dunia dan WTO, adalah yang paling terpengaruh secara negatif
oleh krisis legitimasi ini sehingga kumpulan lembaga ini ter-ekspos sebagai
titik lemah dalam sistem ini. Salah satu tanda yang kuat tentang krisis legitimasi
ini adalah ketika sistem ini mulai kehilangan tokoh-tokoh ideolognya.
Para ideolog "paling baik dan gemilang" yang melakukan desersi
antara lain Jeffrey Sachs, pengarang "Shock Treatment" Eropa
Timur awal sembilan puluhan, sekarang Jeffrey Sachs menyerukan negara-negara
berkembang untuk tidak usah membayar utangnya; Joseph Stiglitz, mantan
ekonom utama Bank dunia sekarang jadi pengritik paling pedas kepada IMF;
Jagdish Bhagwati, yang memunculkan istilah "Kompleks Bendahara Wall
Street" untuk menamai kepentingan yang membawa gelombang krisis finansial
terus menerus sejak 1990; dan George Soros, seorang kapitalis piawai yang
berperan ganda sebagai musuh "Fundamentalisme pasar". KRISIS KELEBIHAN PRODUKSI Krisis Legitimasi berpotongan dengan krisis kelebihan
produksi dan kelebihan kapasitas yang bisa jadi membawa kemungkinan lebih
buruk dari resesi biasa. Pasca tahun 1997 terjadi kemandekan laba di sektor
industri AS. Keadaan ini disebabkan oleh kelebihan kapasitas besar-besaran
yang telah terjadi di seluruh sistim ekonomi internasional selama boom
AS di tahun 1990-an. Kedalaman persoalan ini tercermin pada fakta bahwa
infrastruktur telekomunikasi global baru hanya termanfaatkan 2,5 persen.
Kelebihan kapasitas telah menyebabkan pergeseran modal dari ekonomi riil
ke ekonomi spekulatif, ke sektor finansial, suatu perkembangan yang menjadi
salah satu faktor pemicu gelembung pasar saham, terutama di sektor teknologi.
Ekonomi global terus menerus dilanda kelebihan kapasitas sehingga terus
menerus juga kehilangan laba. Akibatnya resesi global menjadi semakin
mendalam. Dalam keadaan demikian justeru karena ketidak seimbangan yang
sangat parah telah terbangun begitu lama di dalam ekonomi global, maka
resesi ini sangat boleh jadi akan berkepanjangan, juga sangat boleh jadi
akan terjadi secara serempak di pusat-pusat utama kapitalisme, dengan
demikian ada peluang sangat besar akan berakhir lebih buruk lagi, seperti
misalnya suatu depresi global. KRISIS DEMOKRASI LIBERAL Di samping dan berpotongan dengan kedua krisis ini, terjadi
juga krisis demokrasi liberal, yang merupakan ciri umum model pemerintahan
rezim ekonomi kapitalis. Di negara- negara seperti Filipina dan Pakistan,
masyarakat yang bingung bersama kaum elit demokrasi bersenjatakan politik-uang
merebak di kelas bawah maupun kelas menengah. Dalam kasus Pakistan, fenomena
ini adalah salah faktor yang memungkinkan Jendral Musharraf mengambil
alih kekuasaan. Jelas, dari Afrika sampai ke Amerika Latin, penyebaran
demokrasi formal model Washington atau model Westminster (yang disebut
oleh Samuel P. Huntington sebagai "gelombang demokratisasi ke-tiga")
telah usai. Krisis legitimasi tidak hanya terjadi di Selatan. Di AS sekarang
ini telah merebak suatu persepsi bahwa karena begitu besarnya pengaruh
perusahaan terhadap kedua partai politik, maka sistim pemerintahan AS
saat ini sudah berubah dari demokrasi menjadi plutokrasi. Ketidaksukaan
dan sinisme massa telah diperkuat dengan perasaan yang beredar di kalangan
luas pemilih, bahwa George. W. Bush telah mencuri start saat pemilu, dan
karena akhir-akhir ini beberapa kasus telah terbongkar yang mendiskreditkan
etikanya sebagai pengusaha, maka Bush lebih dianggap sebagai presiden
Wall-Street daripada presiden AS. Sekalipun Washington menampilkan sikap
bahwa penggelapan perusahaan dapat dihukum, tetapi tetap saja perkembangan
hebat yang terjadi di Wall-Street adalah tanda runtuhnya moral yang akan
mempengaruhi baik elit politik maupun elit ekonomi. Di Eropa juga terjadi
keprihatinan yang kuat akan kendali perusahaan atas keuangan partai, tetapi
yang lebih mengancam lagi adalah adanya suasana bahwa kekuasaan parlemen
yang dipilih, telah dibajak oleh lembaga Eropa non-pemilihan yang tidak
akuntabel seperti Komisi Eropa (European Commission). Perlawanan pemilu
seperti kasus Le Pen dan Pim Fortuyn di Perancis dan Belanda adalah perwujudan
adanya alienasi yang mendalam terhadap demokrasi teknokratis. KELEBIHAN PERLUASAN Krisis ke-empat mungkin tak mudah dikenali, tapi sangat
operasional juga. Ekspansi AS ke Afghanistan, Filipina, Asia Tengah dan
Asia Selatan, mungkin saja menyampaikan ungkapan kekuasaan. Tetapi dibalik
semua gerakan ini, AS belum dapat mengkonsolidasikan kemenangan di mana
pun; jelas tidak di Afghanistan, di mana yang berkuasa bukanlah rejim
stabil pro-AS melainkan suatu anarki. Dapat dikatakan bahwa karena AS
telah membuat dirinya tidak disukai kalangan dunia Muslim, maka langkah-
langkah politis militer AS, termasuk juga kebijakan-kebijakan pro-Israelnya,
bukan memperbaiki tetapi malah memperburuk situasi strategis AS di Timur
tengah, Asia Selatan dan Asia Tenggara. Dalam pada itu sementara AS terobsesi
oleh terorisme di timur tengah, perlawanan politik terhadap neo-liberalisme
merebak di pekarangan belakangnya, yaitu Amerika Latin. BANGKITNYA GERAKAN ANTI GLOBALISASI KORPORATIS. Krisis yang saling berpotongan ini semakin terkuak, bahkan
ketika gerakan anti globalisasi korporatis mulai memperoleh kekuatan.
Pada kurun waktu 1990-an, gerakan anti neo-liberalisme tersebar luas di
Utara dan Selatan. Di beberapa tempat bahkan gerakan ini berhasil mencapai
massa kritis di tingkat nasional sehingga dapat mengubah keputusan kebijakan
neo-liberal. Kekuatan yang belum mencapai masa kritis nasional pun, dapat
mencapai masa kritis global, kalau mereka bersatu pada momen-momen event
yang kritis, seperti yang terjadi di Seattle pada Desember 1999, ketika
mobilisasi yang masif telah menjadi faktor penyumbang gagalnya pertemuan
tingkat menteri WTO yang ke-tiga. Konfrontasi global lain, selama tahun
2000, dari Washington sampai ke Chiang Mai sampai ke Praha, juga telah
menggoyahkan kepercayaan diri sistem yang mapan. Tatkala World Social
Forum diselenggarakan di Porto Allegre pada bulan Januari 2001, dengan
kehadiran 12.000 orang, tantangan ideologi menjadi ancaman serius bagi
kapitalisme global. Kini, mungkin kita jadi saksi dari mementum kedua dalam
lintasan perlawanan, tatkala banyak gerakan anti neo-liberalis mencapai
masa kritis dan berdampak pada situasi politik di tingkat nasional. Kelihatannya
Amerika Latin adalah salah satu contohnya, segala dukungan terhadap kebijakan
ekonomi neo-liberal kini jelas akan bermuara ke bencana pemilu, sedangkan
gerakan progresif akan memenangkan pemilu atau berada dekat dengan posisi
puncak kekuasaan di Venezuela, Brazil, dan Bolivia. BERSAING DENGAN KAUM KANAN Bagaimanapun juga semua krisis
ini bukan berarti lalu kekuatan anti neo-liberalis jatuh dari langit ke
pangkuan kaum kiri secara absolut. Kaum sayap kanan juga bergerak, memanfaatkan
situasi krisis neo-liberal untuk menciptakan campuran ideologis antara
reaksi dan populisme yang menancap ke rasa takut terdalam dari masyarakat.
Lihat misalnya gaung massa dari slogan fasis Le Pen "Secara sosial
saya (berhaluan) kiri, secara ekonomis saya kanan, dan secara politik
saya mengabdi Perancis" Dalam
keadaan ideologi neo-liberal sedang mengundurkan diri, terbangunlah persaingan
memperebutkan massa yang sedang kebingungan. Persaingan ini menjadi suatu
pertandingan yang apokaliptis antara sayap kiri dengan sayap kanan, sekalipun
saat ini jelas kita tak boleh mengesampingkan kembalinya ideologi kaum
mapan global. SEGERA HADIR: PERTEMPURAN CANCUN Singkatnya, masa depan dalam waktu dekat ini akan merupakan
situasi yang amat cair. Dalam konteks ini, konferensi tingkat menteri
(KTM) ke-lima WTO di Cancun, Meksiko tahun 2003, akan menjadi ajang konfrontasi
antara "orde lama" dengan para penantangnya dari kiri. Karena
struktur pengambilan keputusannya yang berlandaskan "konsensus"
di antara semua negara anggota, maka WTO adalah mata rantai terlemah dalam
sistem kapitalisme global, persis seperti Stalingrad adalah mata rantai
terlemah pada lini Jerman dalam Perang Dunia ke-dua. Sasaran kaum neo-liberalis
adalah adanya suatu putaran ambisius liberalisasi perdagangan di Cancun
yang paling tidak akan bisa menyaingi Putaran Uruguay. Sementara sasaran
lawan-lawannya adalah membalik globalisasi dengan cara membuat Cancun
menjadi Stalingrad-nya proyek Globalisasi. Dalam waktu hanya satu dekade, kapitalisme global telah
melintas dari perayaan kemenangan runtuhnya negara-negara sosialis Eropa
Timur, ke kehilangan kepercayaan diri secara mendasar. Kapitalisme Global
sedang mengalami "masa-masa sulit" seperti yang terjadi pada
dekade kedua dan ketiga abad ke-duapuluh. Tidak ada jaminan sama sekali
apakah krisis ini akan bisa dilalui dengan selamat atau tidak. *** |
||||||||
|
|
||||||||