|
Masa lalu dan sekarang tidak pernah saling berjauhan pada forum sosial Agentina
dan kadang-kadang mereka bertabrakan dalam momen-momen kepedihan yang berkilatan
dan harapan yang mungkin akan terjadi : Revolusi itu sendiri. Ini merupakan
usaha saya untuk melukiskan beberapa momen tersebut.
Pada hari pembukaan, kami berkumpul di Plaza de Mayo, di depan Casa Rosada (istana
Presiden) dimana setiap Hari Kamis para “Ibu” - ibu-ibu yang kehilangan
anak mereka - berkumpul untuk “meronda”, berjaga-jaga untuk anak-anak
mereka, untuk membangkitkan ingatan dan kemungkinan berjuang. Secara tipikal
di Argentina (seperti apa yang segera saya pelajari) ada dua faksi dari ibu-ibu
tersebut ------“Yayasan Linea” dan kelompok pelarian yang lebih
militan. Setelah era kediktatoran berakhir, Yayasan Linea mulai menggunakan
mekanisme komisi hak asasi manusia dan peradilan untuk menyelidiki kasus-kasus
penculikan, sedangkan faksi “garis keras” mengatakan bahwa pemerintah
yang baru tidak berbeda dari pemerintahan diktator - mereka hanya tidak mengenakan
seragam. Hampir 20 tahun kemudian di tengah-tengah ambruknya hampir seluruh
kelembagaan, angkatan darat berada di dalam barak. Tampaknya situasi tidak akan
kembali seperti pada tahun 1970-an dengan atau tanpa seragam, tetapi proyek
untuk membangun demokrasi politik dan ekonomi di Argentina masih jauh dari harapan.
Lagu “Internationale” berkumandang lewat pengeras suara dan kaum
perempuan dari kedua faksi dengan mengenakan ikat kepala warna putih. Nama-nama
anak mereka baik laki-laki maupun perempuan - Ruben Pedro Bonet, Susana Lesgant,
Antonia dan Stella - dan hari saat mereka diculik direnda/disulam dengan bagus
sekali dengan benang sutra berwarna biru. Biru dan putih : warna Argentina.
Hari ini istimewa tanggal 22 Agustus dan tepat 30 tahun sejak puluhan tahun
Kaum Militan dibunuh saat mencoba melawan atau melarikan diri dari penjara Trewel
yang kejam, suatu peristiwa yang sekarang dikenal dengan pembantaian massal
di Trewel. Laki-laki dan perempuan membawa foto-foto hitam putih berukuran poster
dari orang-orang yang hilang, dan mengenakan kaos berkerah yang longgar dengan
rumbai-rumbai yang panjang yang terkenal pada tahun 1970-an. Jikalau masih hidup
mereka akan berumur 50 tahun pada saat ini, tetapi peristiwa ini tidak akan
ada jikalau mereka masih hidup.
Ratusan dan kemudian ribuan lainnya berkumpul di Plaza dan matahari bersinar
cemerlang. Suasana begitu megah dan meriah sehingga sulit dimengerti mengapa
pagar setinggi 3 meter dan polisi bersenjata lengkap diperlukan untuk membatasi
tanah kosong 100 meter jauhnya antara kami dengan istana presiden. Tetapi yang
saya ingat, perkelahian terberat telah terjadi disini pada bulan Desember yang
lalu dan disinilah rakyat menuntut dan mendesak agar presiden de la Rua mengundurkan
diri.
PAHLAWAN SETIAP ORANG
Nora Cortinas mungkin salah seorang perempuan tercinta di Argentina. Tubuhnya
kecil dengan mata yang berkilauan dan pipi kemerahan. Anaknya Carlos Gustavo
hilang lebih dari 25 tahun yang lalu pada tanggal 15 Mei 1977. Namanya direnda
pada kain Ikat Kepalanya yang berwarna putih. Bersama dengan pemimpin pribumi
Bolivia (hampir menjadi presiden) Evo Morales, Max Natanyana dari gerakan sosial,
dengan gerakan anti pengusiran di Durban, dan para pemimpin Serikat Buruh dari
Argentina dan seluruh Amerika Latin; Nora dan kawan-kawannya memimpin kami keluar
dari Plaza, dengan membawa bendera dari Forum Sosial Argentina “Otro Argentina
es Posible” (hampir pasti mereka artikan “necesidad”).
Sebuah pawai klasik, paling tidak untuk sementara waktu: Serikat-serikat Buruh,
Organisasi-organisasi Perempuan, pengacara-pengacara progresif, Partai Komunis.
Tapi kemudian “movimento barios de pie”(dengan kesan gerakan penduduk
sekitar yang bersikap siaga) datang. Tiba-tiba, segala sesuatunya tampak lebih
nyata, tak lama kemudian Argentina berubah menjadi film. Percakapan saya pada
hari sebelumnya, dengan seorang perempuan muda, aktivis mahasiswa dari klas
menengah sekarang dapat dimengerti. Ia telah bercerita kepada saya betapa terkejutnya
mereka ketika puluhan ribu “piqueteors” (para pengangguran dan satpam
yang terorganisir) dan keluarga-keluarga miskin dari pinggiran Buenos Aries
datang kepusat kota Buenos Aries pada hari bulan Mei. Dengan keheranan dan rasa
haru, ia melukiskan keadaannya sendiri yang terlindungi, orang-orang kurus dan
penyakitan yang pakaian dan tubuhnya memperlihatkan semua tanda kemiskinan yang
parah. Namun apa yang tidak ia lukiskan adalah kebisuan mereka. Lusinan keluarga
berjalan dalam kelompok-kelompok di belakang bendera-bendera dari orang-orang
lingkungan tetangga yang membanggakan San Pedro, San Martin, Los Floros, La
Boca, Matanza - berjalan membisu, milintasi jalan-jalan sambil membawa anak-anak
mereka yang masih kecil. Kadang-kadang orang laki-laki berjalan dalam formasi
yang ketat sambil membawa pegangan kapak. Kami saksikan di televisi, mereka
bukan orang kulit putih Argentina. Ini bukanlah citra Buenos Aires yang intelek,
kosmopolit, canggih. Mereka adalah rakyat pribumi yang miskin, tidak punya pekerjaan,
terlupakan dan terbuang oleh pemerintah mereka. Mereka adalah rakyat yang digandeng
lengan tangannya oleh Eva Peron tetapi sekarang tidak ada Evita, sehingga mereka
berjalan sendirian.
YANG TERPENDAM DIPERLIHATKAN
Statistik Argentina sekarang memiliki wajah. Tujuh puluh persen keluarga di
wilayah perkotaan dan di sebelah Utara Argentina hidup miskin. Dari 23,5 juta
penduduk tinggal di wilayah perkotaan, 12,5 juta penduduk hidup di bawah garis
kemiskinan dan 5,8 juta orang adalah fakir miskin. GDP Argentina merosot 16,3
% pada kuartal pertama tahun 2002, pengangguran resmi ada sebanyak 25% dan upah
rill telah turun hampir 20% pada tahun yang lalu. Tujuh dari sepuluh anak adalah
miskin. Mereka mati kelaparan dan mati karena diserang penyakit, walaupun di
toko-toko swalayan banyak persediaan makanan, mereka tidak mampu membeli kebutuhan-kebutuhan
mereka. Argentina merupakan masyarakat urban dan tali hubungannya dengan tanah
dan dengan kehidupan pedesaan “jaringan pengaman” yang menyelematkan
rakyat dari kemiskinan dan kelaparan seperti di Thailand dan Indonesia selama
krisis keuangan pada tahun 1997 – terputus selama beberapa generasi yang
lewat.
Christina Cavale, wartawan setempat menuliskan peristiwa itu secara sederhana.
“Kita tidak membutuhkan kediktatoran lagi. Mereka membunuh rakyat dengan
senjata kelaparan, bukan dengan bedil”.
Ketika saya menyaksikan dunia yang lain ini berlalu, dua orang laki-laki muda
dan dua perempuan muda, salah seorang menggendong anaknya yang berumur dua tahun
yang sedang minum milk dan seorang anak kecil yang sedang bermain-main di got,
mengais-ngais sampah untuk mencari makan. Mereka juga berhenti untuk melihat
apa yang sedang terjadi.
Penerjemah saya, Silvia, bercerita pada saya tentang “cartoneros”—orang-orang
yang bertahan hidup dengan mengais sampah sehari-harinya di Buenos Aires. Ribuan
kelompok keluarga kecil dalam perusahaan yang terorganisir secara ketat ini.
Setiap hari pada jam lima sore “trenblanco” (ada kereta khusus yang
berwarna putih untuk mengangkut Cartoneros karena tak seorang pun mau bepergian
satu kereta dengan pemulung ) berangkat dari pinggiran Buenos Aires yang jauh
menuju pusat kota. Kereta itu kembali pada tengah malam. Tidaklah mungkin menjual
sisa kertas anda tanpa kupon yang tepat. Setiap keluarga mempunyai satu atau
dua troli supermarket yang bengkok atau benjut untuk mengangkut tas mereka yang
gembung karena diisi kertas, dan walaupun pusat-pusat penitipan anak telah didirikan
di dekat stasiun kereta api, kita biasa melihat anak-anak naik troli yang di
tarik oleh kakak mereka.
Saya bertanya-tanya apa yang dipikirkan oleh “pemulung muda” ini
tentang demonstrasi : apakah mereka melihat harapan dalam pawai bisu “barrios
de pie” tersebut, ataukah mereka itu terlalu sibuk mempertahankan hidup.
PAHLAWAN BOLIVIA
Kami mencapai Plaza Houssey, pusat universitas Buenos Aires ketika matahari
tenggelam. Sepanjang pawai lagu Forum sosial Argentina yang resmi” (ditulis
dan direkam oleh para aktivis) menyorong-nyorong kita. Lagu itu memenuhi Plaza
dan Plaza dipenuhi dengan manusia.
Para ibu pasti disana, dan para pemimpin Serikat buruh, dan mereka semua menyampaikan
pidato yang menggetarkan. Tetapi Eva Morales petani koka dan hampir menjadi
presiden mencuri waktu untuk tampil. Morales berbicara tentang daun koka sebagai
simbol persatuan nasional melawan dollar Amerika.
Ia menyebut wilayah perdagangan bebas Amerika (FTAA) sebagai “kolonisasi
yang dilegalisir” dan meramalkan bahwa Amerika Latin akan menjadi “Vietnam
yang kedua” milik Washington. Gerakan pribumi Bolivia yang melakukan kampanye
dengan nama yang aneh (tetapi jujur) “Alat politik bagi kedaulatan rakyat”
sekarang mempunyai 37 wakil di parlemen dan walaupun pada akhirnya Morales kalah
dalam pemilihan Presiden, ia percaya mereka “hampir menduduki kekuasaan,
bukan hanya wilayah”.
Rakyat Argentina mencintainya, tetapi tidak sebanyak jumlah orang Bolivia yang
berdesak-desakan untuk mendekati pahlawan mereka sambil membawa bendera dan
menangis dengan bebasnya. Ada 300.000 orang Bolivia yang tinggal di Buenos Aires
dan mereka dinamakan “balitos” bola kecil. Mereka adalah pekerja
migran yang tak lagi mempunyai status dalam masyarakat ini, karena suatu momen
yang luar biasa, pemimpin dan saudara laki-laki mereka, bendera dan perjuangan
mereka dengan jaya mengisi udara malam.
KLAS MENENGAH DAN PEMIMPIN MEREKA
Di seberang plaza di Fakultas Ekonomi, bentuk-bentuk pahlawan lainnya sedang
dikerumuni pencintanya.
Joseph Stiglitz adalah kekasih kelas menengah rakyat Argentina dan popularitasnya
yang luar biasa bisa diukur dengan adanya ratusan orang yang berpaling dari
ruang kuliah dan ratusan lagi termasuk saya yang tak mau pergi, berdesak-desakan
memasuki ruang kuliah yang berbentuk gedung teater pada saat-saat sebelum orang
besar itu berbicara. Selama kontak badan dan dorong-dorongan tidak masalah,
tetapi karena ada tiga orang yang bergabung dalam ruang pribadi saya dan begitu
saja, kami mulai mengobrol.
Susana barangkali berumur 18 tahun, seorang mahasiswi jurusan bisnis yang lincah.
Rambutnya pirang, matanya biru dan bahasa Inggrisnya sempurna dengan aksen Amerika.
Lillian juga berbicara bahasa Inggris yang sempurna. Umurnya kira-kira 30 tahun
dan bekerja sebagai penerjemah buku-buku teks untuk ilmu kedokteran. Dia mengenakan
mantel dengan kerah berbulu, yang saya catat karena dua alasan (1) Suhu kira-kira
35 derajat celcius dan ia kelihatan sempurna dan (2) saya baru saja masuk gedung
dari pawai jalanan. Teman saya yang ketiga juga bicara bahasa Inggris yang sempurna.
Silvia kira-kira berumur 40 tahun dan memiliki bisnis yang memproduksi dan sekarang
mengeksport “dolce latte”, olesan susu yang padat dan sangat manis.
Pasangan hidupnya adalah seorang ekonom yang terkenal, yang setiap saat ditanya
apakah ia ingin menjadi menteri keuangan? (ia menjawab, tidak, sampai saat ini).
Semua adalah para penggemar Stiglitz dan saya bertanya kepada Susana apakah
yang akan dia katakan jika ia dapat mengajukan sebuah pertanyaan kepada Stiglitz.
Tanpa ragu ia berkata, “Kami membuka lowongan untuk seorang ekonom. Bisakah
anda mulai bekerja pada hari Senin?” Setiap orang di sekeliling kami tertawa
dan setuju. Silvia berkata, bahwa akan terjadi “berncana” jika IMF
memberi uang lagi kepada Argentina. Ia seorang eksportir dan devaluasi telah
menjadi rejeki nomplok. Tetapi ia beruntung karena ribuan pabrik tutup sebelum
devaluasi dan sekarang tak ada kredit untuk melawan sistem (hal yang ditegaskan
oleh Stiglitz dalam ceramahnya).
Lillian lebih dari yang lain, ia tergoncang oleh bangkrutnya lembaga-lembaga
yang ia percaya: bank, polisi, pemerintah. “Saya bekerja keras, saya tidak
melakukan kesalahan, dan saya kehilangan semua tabungan yang saya simpan di
“Bank Scotia” katanya. Ada rasa kebiadaban moral - kami percaya
pada lembaga-lembaga tersebut dan inilah yang terjadi. Ia akan meninggalkan
Argentina dan bertanya apakah ada pekerjaan bagi seorang penerjemah di Australia.
Silvia tidak terlalu menderita dan tidak terlalu naif dan bahkan menyebut 6
Januari (hari terjadinya devaluasi) sebagai “Septembernya” Argentina.
“Kami melihat bencana yang akan datang”, katanya, “tetapi
tak seorangpun bersedia membuat keputusan yang sulit, kita seperti hidup dalam
mimpi”.
Stiglitz perlu dinantikan. Ia bicara hal penting tentang hutang sambil mengingat
doktrin Drago, yang ditulis oleh Menteri Keuangan Argentina pada tahun 1902
ketika para kreditor menduduki Mesir dan Mexico dengan angkatan perang mereka.
“Tekanan ekonomi”, kata Stiglitz, bisa sama-sama opresif dan tak
kurang mematikan”. Ia berbicara tentang kepentingan kontrak-kotrak sosial
dan kontrak ekonomi yang setara, tentang hutang dan para diktator yang menjijikkan
(semua tanpa menyebut Argentina).
Ia sangat keras terhadap para kreditor, yang mengatakan bahwa mereka meminjamkan
terlalu banyak, mereka melakukan kesalahan, mereka tidak memiliki inisiatif
untuk proses “due diligence” dan mereka menyorongkan resiko pada
penghutang. Hutang, terutama hutang luar negeri, katanya sangat riskan. Dan
pasar tidak mempunyai cara untuk menjamin hasil yang baik. Lebih-lebih, liberalisasi
neraca pembayaran (capital account) adalah kontra poduktif terhadap pertumbuhan
ekonomi. Semua riskan dan tak ada untungnya. “Ketika anda berunding tentang
pinjaman luar negeri”, katanya, “pertanyaannya bukanlah seberapa
banyak uang yang akan anda peroleh, tetapi sebaliknya berapa banyak uang yang
akan anda pasok ke negara utara”.
Tetapi ketika sampai pada bagian “apa yang harus dikerjakan”, Stiglitz
lemah dan proposal utamanya adalah kredit lagi untuk semua sektor tetapi terutama
sektor ekspor perdagangan - cahaya batin banyak orang hampir tidak mengharapkan.
Bagi Silvia itu merupakan akal sehat, tetapi tidak akan dapat mengembalikan
uang Lilian. Bahkan mungkin pekerjaan bagi para penganggur dan penjahat terorganisir
(piqueteros) dan Barrios de Pie, tetapi lagi-lagi pekerjaan itu terikat dengan
pasar ekspor yang berubah-ubah, kompetitif dan mudah hilang. Stiglitz jagoan
bila bicara soal utang dan amunisinya banyak dan bagus untuk mendukung pembatalan
utang, tetapi berbicara proyek yang berjangka panjang tetang pembangunan ekonomi
yang berkelanjutan dan adil, pelurunya terbatas. Ia tak akan pernah mencapai
prestasi seperti Keynes, ekonom neo-liberalisme.
Pada tanggal 24 September, Argentina mengumumkan tidak akan menggunakan cadangan
devisanya yang mengecil untuk membayar kembali utangnya kepada IMF dan pinjaman-pinjaman
multilateral lainnya. Perundingan-perundingan dengan IMF lambat sekali kemajuannya
dan pemerintah Argentina terperangkap antara sandungan kekacauan sosial politik
dan urusan dengan IMF yang sulit. Menurut menteri keuangan yang sekarang Roberto
Lavagna, “Ada dua prioritas yang tidak akan kita abaikan. Kita akan mengelola
program-program sosial dan menjamin pembiayaan ekonomi tingkat propinsi”.
Bahkan jika terlalu terlambat, pemerintah akhirnya mendahulukan rakyatnya.
PAHLAWAN KLAS PEKERJA
Seseorang yang menginginkan jalur baru untuk memperoleh kredit adalah Celia.
Kami bertemu pada hari Sabtu di Bruckman, pabrik yang ia ambil alih bersama
dengan 55 perempuan lainnya pada bulan Desember tahun yang lalu. Mereka berada
di tengah-tengah sengketa pembayaran dan serikat pekerja mengusulkan kebangkrutannya.
Tetapi para perempuan itu tidak setuju, dengan memisahkan diri dari serikat
pekerja dan mereka mulai melakukan perundingan sendiri. Pemilik pabrik setuju
untuk menemui mereka setelah makan siang pada tanggal 19 Desember (sementara
sebagian Buenos Aires sedang berkobar menyala).
Ketika mereka datang lampu-lampu padam, ruang-ruang kantor sudah dibersihkan
dan pabrik telah kosong. Caretaker memberikan kuncinya dan kemudian mengeloyor.
Sejak itu Celia dan kolega-koleganya membuat setelan pakaian dan melayani pesanan-pesanan.
Mereka membayar tagihan listrik pemiliknya, dan mereka sekarang memperoleh penghasilan
400 peso per bulan, sangat sedikit tetapi lebih baik dari yang lain. Pada dinding
ruang makan terpampang jadwal waktu kunjungan dokter (sebelumnya, mereka tak
memperoleh perawatan kesehatan) dan sebuah pengumuman tentang pertemuan perempuan
untuk “autonomi, autoconvicado, autofinanciado, pluralistas, democratica,
horisontal”. Dalam setiap bahasa jelas artinya.
Celia - yang berkata ia selalu “jadi pejuang”- memiliki empat orang
anak dan yang paling kecil masih tinggal di rumah. Ia mulai bekerja di luar
rumah sejak sepuluh tahun yang lalu dan sebelum itu perjuangannya ada di “dalam
rumah”. Ia bercerita kepada kami tentang hari bulan Maret ketika polisi
mendatangi pabriknya dengan pakaian preman dan berlagak sebagai pembeli. Mereka
memasuki gedung untuk menguasainya, tetapi para pekerja mampu “mempertahankan”
pabriknya dalam tiga jam, yang didukung oleh ribuan mahasiswa, masyarakat setempat
dan para pengangguran yang datang ditempat itu untuk membela para pekerja.
Walaupun masih ada pesanan setelan pakaian mahal berlabel Eropa, para wanita
lebih suka mengejakan “produksi sosial” untuk sekolah-sekolah dan
rumah sakit. Tetapi mereka tidak mau melakukan tender atau kontrak kerja dengan
proyek pemerintah karena mereka tidak menjadi anggota koperasi pekerja yang
terdaftar secara resmi. Celia dan kolega-koleganya tidak menginginkan hal ini
: mereka ingin bekerja dengan cara yang berbeda dan ada sekitar 80 pabrik di
Buenos Aires dan di kota-kota propinsi lainnya di mana para pekerja merasa sama.
Mereka mencoba menjadi pekerja sosial, ekonomi, politik yang dikelola secara
kolektif, bukan koperasi kapitalis yang didukung oleh pemerintah. Pekerja pabrik
merupakan elemen baru yang penting dalam pemandangan politik Argentina dan mereka
sedang membangun suatu proses dan organisasi nasional tetapi Celia selalu berhati-hati
dan intuitif.
“Kami bekerja dari basis, katanya, “dan kami tak mau tercium hidung
para pengangguran yang tujuh tahun mendahului kami”.
KAMI SEMUA PEHLAWAN.
Pada hari terakhir pertemuan Forum Sosial, Nora Cortinas yang tidak kenal
lelah itu berbicara dalam auditorium yang luas pada sekolah kedokteran Universitas
Buenos Aires, dimana kursi-kursinya dipasang meninggi seperti gedung opera yang
bergaya Victorian. Ia menyebut nama-nama orang yang hilang karena penculikan
baik laki-laki maupun perempuan pada tahun 1970-an, dan walaupun separuh orang
yang hadir dalam gedung itu belum lahir ketika anaknya Carlos Gustavo diculik,
mereka semua tahu ritual itu. “Presente” teriak mereka, setelah
namanya dipanggil. Hanya beberapa menit sebelumnya, pembicara lainnya memanggil
dua pahlawan baru, Maximiliana Kosteki dan Dario Santillan; petugas satpam membunuhnya
selama bentrokan yang keras dengan polisi anti huru-hara di pinggiran Buenos
Aires pada tanggal 6 Juni. Nama-nama mereka disambut dengan tepukan selama lima
menit sambil berdiri.
Dalam jarak menit, tiga puluh tahun secara serempak dikesampingkan dan diingat.
Sejarah jatuh dengan sendirinya, dan Argentina mempunyai generasi pahlawan dan
martir yang baru (paling tidak 27 orang meninggal selama protes pada bulan Desember
tahun yang lalu).
Disini, pada hari akhir pertemuan Forum Sosial Argentina, sebentuk politik baru
sedang dilahirkan : satu hal yang mengikat tiga puluh tahun perjuangan menjadi
sebuah slogan “que se vayan todos”- biarkan mereka semua berlalu.
Ini merupakan slogan pemberontakan bulan Desember ketika masa demonstran kelas
menengah bergabung dengan massa demonstran kaum pekerja, dan pengangguran, untuk
menggusur empat presiden dan mengistirahatkan semuanya. Slogan itu masih bergema
(walaupun saat ini banyak orang dari kelas menengah yang melakukan kontrak bisnis
dengan cepat barangkali akan memilih solusi stiglitz yang tidak terlalu beresiko).
Forum Sosial Argentina brilian. Forum itu telah menyatukan bersama sebagian
besar faksi dan faksi-faksi kecil dari sayap kiri Argentina - golongan kiri
yang dipecah-pecah oleh para diktator dan pembunuhan yang sistematis terhadap
30.000 orang laki-laki dan perempuan, tetapi juga oleh kaum intelektual dan
golongan sektarian.
Yang lebih penting, Forum merangkul banyak formasi sosial yang baru, seperti
“asambeia”, “piquiteros”, pabrik-pabrik yang mengelola
buruh “dan barrios de pie”. Ini merupakan hal yang paling menarik,
paling menggairahkan dan memberikan harapan di Argentina, yang membuat anda
percaya bahwa Argentina baru saja mengatasi sejarah politik dan ekonominya yang
buruk. Mungkin Argentina dapat membebaskan dirinya dari beban negara yang luar
biasa dan membangun masa depan yang dilandasi Solidaritas Amerika Latin sambil
menyerukan “revolusi” Desember - que se vayan todos - masih bergema
dan masih bersatu.
|