Tak dapat disangkal lagi, sepuluh tahun setelah konferensi tentang lingkungan dan pembangunan di Rio de Janeiro, keadaan lingkungan global makin memburuk. Penyebab utamanya: model produksi kapitalis yang tak diperiksa lagi. Model produksi ini tak hentinya mengubah sumber daya alam menjadi komoditas dan terus menerus menciptakan permintaan (demand) baru. Kapitalisme secara konstan mengikis keberadaan manusia di alam (makhluk) dan keberadaan manusia di masyarakat (warga) dan bahkan seraya menghisap energi kehidupan para pekerja, juga mencetak kesadaran para pekerja itu di sekitar satu peran saja yaitu peran sebagai konsumen. Diantara berbagai hukum kapitalisme, yang paling merusak lingkungan adalah hukum Say yang menyatakan bahwa pasokan (supply) akan meciptakan permintaan (demand) nya sendiri. Kapitalisme adalah suatu mesin pencipta permintaan (Demand) yang mentransformasikan alam hidup menjadi komoditas mati, mengubah kekayaan alam menjadi modal mati.
Kapitalisme menyebar secara tak merata. Di jantung ranah lahirnya di utara, kapitalisme telah berkembang berlebihan, sedangkan di ranah tepian di selatan kapitalisme hadir dalam bentuk yang agak terbelakang. Oleh karena itu maka tingkat dampak lingkungan yang dihasilkan juga tersebar secara heterogen. Salah satu contoh yang paling jelas adalah perbedaan tingkat emisi gas efek rumah hijau per-kapita. Satu orang Amerika menghasilkan efek emisi sebanding dengan 17 orang Maldive, 19 orang India, 30 orang Pakistan, 49 orang Sri Langka, 107 orang Bangladesh, 134 orang Bhutan dan 269 orang Nepal.
Dampak global dari kapitalisme super-berkembang di utara sebenarnya mungkin lebih jauh dari yang terungkap di angka-angka statistik, karena dalam rangka menanggapi maraknya gerakan lingkungan, negara-negara Utara telah menggeser beban kesetimbangan lingkungan global ke pundak negara-negara Selatan. Kasus yang menggambarkan paradigma ini misalnya adalah bagaimana Jepang menggapai standar kualitas lingkungan hidup mereka dengan cara memacu konsumsi sumber daya alam dan produksi limbah di wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara. Konsumsi Jepang menyerap 70 persen dari kayu yang ditebang (kebanyakan secara ilegal) di Filipina dari tahun 1950-an sampai 1990-an. Konsumsi komoditas di Jepang berasal dari produksi yang diletakkan di negara jauh, pada jarak aman dari Jepang. Mulai tahun 1960-an, Proses produksi massal yang padat polusi dan padat-karya (buruh) ditransfer secara masif ke kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara, lengkap dengan dampak- dampak peracunan yang tak terkendali.
Akhir-akhir ini modal Eropa dan Amerika bergabung dengan modal Jepang dalam mengubah Cina yang murah buruh dan murah polusi menjadi pusat produksi dan pusat buang sampah global. Apa yang terjadi pada Cina dan Asia sekarang ini adalah hanya salah satu bagian dari tahap akhir dari globalisasi kapitalisme, yaitu suatu proses memindahkan biaya lingkungan kapitalisme global dari pusat ekonomi global ke wilayah jajahan ekonomi global.
Sepuluh tahun lalu George Bush Senior menggertak Pertemuan puncak Rio de Janeiro dengan pernyataan "Gaya hidup Amerika bukan untuk dinegosiasi". Eropa dan Jepang terbelalak ngeri dengan pernyataan ini. Tapi selama perjalanan 10 tahun kemudian, akhirnya konsumsi pun menjadi panglima juga bagi Jepang dan Eropa. Jadi konsumsi yang senantiasa meningkat adalah memang resep umum dalam mempertahankan laju kapitalisme global. Kelompok tujuh pada dasarnya adalah forum untuk melakukan negosiasi tentang, pada periode tertentu, pusat kapitalis mana yang akan berfungsi sebagai mesin konsumsi ekonomi global. Apa yang disebut sebagai manajemen ekonomi internasional pada dasarnya adalah suatu proses penentuan sentra-sentra mana yang harus mempercepat konversi alam menjadi komoditi, dan konversi komoditi menjadi limbah.
Sekarang ini boleh dikatakan Pertemuan puncak Johannesburg adalah bayi yang mati begitu lahir, terbunuh setahun sebelum George Bush memutuskan untuk menarik kekuasaan kapitalis terbesar di dunia dari kesertaan pada protokol perubahan iklim Kyoto. Inilah kapitalisme ketika dilepas dari wajah liberalnya, kapitalisme yang menunjukkan wajah aslinya, sifat hakikinya sebagai musuh alam. Kaum Elit Jepang dan Eropa pura-pura kecewa dengan keputusan AS, tetapi sebenarnya kekecewaan mereka adalah kerena AS secara gamblang menjabarkan dinamika dasar dari sistim produksi yang mereka anut bersama, yaitu bahwa perluasan terus-menerus harus dicapai melalui percepatan konsumsi dan peracunan alam.
Kiranya Johannesburg akan berisi berbagai warna-warni, antara lain cuci-tangan perusahaan-perusahaan besar; arogansi AS; gaya sok suci Eropa; para pemimpin negara Dunia Ketiga mengemis bantuan dengan cara menggadaikan liberalisasi yang berfihak pada perusahaan besar; serta WTO membajak keselamatan lingkungan demi melayani pasar bebas. Johannesburg adalah satu lagi konferesi PBB yang niscaya gagal.
Kegagalan ini muncul bersamaan dengan saat tatkala Amerika Latin meledak dengan pemberontakan terhadap ekonomi neo-liberal dan cacat akuntabilitas; serta kriminalitas korporatis sistematik yang telah mengikis kredibilitas kapitalisme korporatis di AS, yang diindikasikan oleh fakta bahwa 72 persen penduduk Amerika merasa bahwa hidupnya terlalu dikuasai oleh perusahaan- perusahaan besar.
Hal ini muncul pada saat ketika krisis kelebihan produksi atau kelebihan kapasitas mengakibatkan kegagalan kapitalisme global untuk keluar dari krisisnya. AS, Jepang, Eropa dan Asia Timur, yaitu kawasan mesin mesin pertumbuhan bertenaga konsumsi, kini dibayang-bayangi oleh kekandasan serentak. Ada suatu fenomena yang oleh berbagai analis dari Marx sampai Schumpeter disebut sebagai "Dinamika sistem kapitalisme menghancurkan dirinya sendiri". Fenomena ini kini sedang muncul sejalan dengan menguatnya pemberontakan alam, ketika makin banyak konsumen menjadi warga yang berniat menghidupkan kembali komunitas, untuk menciptakan kembali solidaritas sosial yang pernah diremehkan oleh kapitalisme.
Johannesburg akan dikenang sebagai tonggak penting dalam lintasan pertarungan antara kapitalisme dengan lingkungan, kapitalisme dengan komunitas, mana yang akan menang, kita lihat saja nanti. ***